ARGENTOMETRI I (TITRASI PENGENDAPAN dan TITRASI BEBAS AIR)

  1. A. TITRASI PENGENDAPAN

Titrasi pengendapan adalah golongan titrasi dimana hasil reaksi titrasinya merupakan endapan atau garam yang sukar larut. Prinsip dasarnya adalah reaksi pengendapan yang cepat mencapai kesetimbangan pada setiap penambahan titran, tidak ada pengotor yang mengganggu dan diperlukan indikator untuk melihat titik akhir titrasi. Hanya reaksi pengendapan yang dapat digunakan pada titrasi. Sebagaimana tipe-tipe reaksi pembentukan suatu endapan dapat digunakan sebagai dasar titrasi yaitu :

TITRAN + TITRAT à ENDAPAN

Faktor yang menentukan kesempurnaan reaksi pengendapan adalah kelarutan dari endapan yang terbentuk, endapan yang makin sukar larut mendandakan bahwa reaksi pada titik ekivalen makin sempurna. Beberapa metode dalam titrasi pengendapan adalah  Argentometri, Merkurimetri, Titrasi Kholthof

  1. a. Argentometri

Argentometri merupakan salah satu metode dalam titrasi pegendapan dimana hasil pengendapannya berupa garam – garam perak (Ag). Metode reaksi pengendapan secara argentometri banyak digunakan dalam reaksi pengandapan , karena hasilkali kelarutan garam perak halida (pseudohalida) dalam air sangat kecil seperti pada data berikut :

Ksp AgCl        =    1,82.10-10

Ksp AgCNS    =    1,10.10-12

Ksp AgBr        =    5,00.10-13

Ksp AgCN      =    2,20.10-16

Ksp AgI          =    8,30.10-17

Metode penentuan titik akhir titrasi pada titrasi  argentometri ada 3, yaitu:

  • Metode Mohr

Penentuan titik akhir pada Metode Morh ditandai dengan pembentukan endapan berwarna. Metode ini digunakan sebagai penentuan titik akhir titrasi untuk Cl dan Br pada pH 6 – 8, namun tidak dapat menentukan titik akhir titrasi pada  CNS ,CN dan I karena ketiganya dapat teradsorbsi kuat oleh endapan yang terbentuk. Indikator yang digunakan saat titrasi adalah K2CrO4 berikut merupakan contoh reaksi pengendapan dengan Metode Mohr

Reaksi:

 

Ion Cl mengendap setelah dititrasi dengan larutan baku AgNO3 hal ini disebabkan ion Cl- akan mengendap setelah bereaksi dengan ion Ag+ penembahan indikator pada titrasi ini berfungsi sebagai pemberi warna saat kapasitas titrasi Clterpenuhi atau ion Cl sudah tidak dapat menerima ion Ag+ sehingga ion Ag+ bereaksi dengan ion CrO42- dari K2CrO4 dan membentuk endapan dengan warna coklat.

  1. b. Metode Volhard

Titik akhir titrasi pada Metode Volhard ditandai dengan terbentuknya zat warna yang mudah larut. Metode ini dapat digunakan untuk penentuan titik akhir titrasi pada I, Br, Cl, SCN dengan menggunakan inikator Fe3+ atau Fe2+. Penambahan indikator dilakukan sebelum titrasi kecuali pada penentuan I dilakukan setelah I mengendap sempurna karena I dapat dioksidasikan oleh Fe3+. Prisip kerja dari metode ini adalah penambahan larutan baku AgNO3 secara berlebih pada larutan sampel yang mengandung ion Cl, Br, I, atau SNC , kemudian kelebihannya dititrasi kambali dengan KSCN. Berikut merupakan contoh reaksi pengendapan pada Metode Volhard

Reaksi :

 

Reaksi antara ion Ag+ dengan ion halida yaitu X akan menghasilkan suatu endapan perak halida yaitu AgX. Ion Ag+ ditambahkan berlebih agar dapat menekan kelarutan AgX karena umumnya kelarutan suatu endapan berkurang banyak sekali jika salah satu bahan endapan ditambahkan berlebih pada hal ini adalah Ag+ setelah itu kelebihan Ag+ dititrasi dengan ion KSCN yang kemudian membentuk endapan putih AgSCN, titik akhir titrasi ditandai terbentuknya  larutan berwarna merah darah karena adanya penambahan indikator Fe2+ atau Fe 3+ yang bereaksi dengan  ion SCN membentuk Fe(SCN)2+ yang berwarna merah darah.

 

  1. c. Metode Fayans

Penentuan titik akhir titrasinya dilakukan dengan  penambahan indikator adsorbansi. seperti cosin, fluorosein, dfluorosein. Metode ini dapat digunakan dalam penentuan

titik akhir titrasi pada Cl­-, Br, I, SCNdengan pH 4. Peristiwa absorpsi harus terjadi sesudah TE dan tidak ada garam lain yang menyebabkan koagulasi. Berikut reaksi yang berlangsung pada Metode Fayans

Reaksi antara ion Ag+ dengan ion halida X- harus  membentuk endapan berupa koloid sehingga AgX dapat teradsorbsi karena salah satu  sifat koloid adalah adapat menyerap warna, titik akhir titrasi ditandai dengan terserapnya warna biru kemerahan oleh koloid yang terbentuk.

Contoh titrasi pengendapan untuk metode argentometri

Analit Titran Indikator Metode
Cl­-, Br AgNO3 K2CrO4 Mohr
Cl­-, Br,I, SCN AgNO3 adsorpsi Fajans
Br,I, SCN, AsO43- AgNO3 + KSCN Fe(III) Volhard

(tanpa saring)

Cl,CN,CO32-,S2, C2O42-,CrO42- AgNO3 + KSCN Fe(III) Volhard

(saring)

 

  1. b. Merkurimetri

Larutan baku yang digunakan pada merkurimetri adalah  merkuri nitrat Hg( NO3)2 Jika ion halida dititrasi dengan merkuri nitrat, tidak ada ion Hg2+ sampai melewati daerah titik ekivalen, hal ini disebabkan selama titrasi ion Hg2+ beraksi dengan ion halida X sehingga terbentuk endapan merkuri halida HgX2, dimna X merupakan halida seperti Cl, Br, I, F. Namun setelah TE tercapai, ion Hg2+ segera bereaksi dengan indikator  membentuk kompleks Hg-Indikator; misal dengan indikator  nitroprusid ion Hg2+ membentuk endapan putih dan dengan  indicator difenilkarbazid atau difenilkarbazon dalam asam ion Hg2+ membentuk warna ungu intensif. Berikut ini adalah  reaksi yang

terjadi pada merkurimetri

Pada pemisahan secara merkurimetri diperlukan koreksi dengan titrasi blanko seperti contoh berikut :

  • 0,17 ml Hg(NO3)2 0,1 N untuk 50 ml HgCl2 0,05 N.

Volume titrasi blanko bervariasi sesuai besarnya konsenterasi HgCl2 pada titik ekivalen, karena jika konsenterasi Hg2+ berlebih akan beraksi dengan HgCl2 seperti pada reaksi berikut

  1. c. Titrasi   Kolthoff

Larutan baku yang digunakan pada titrasi kolthoff adalah K-Ferosianida. Campuran fero-ferisianida dalam asam memiliki potensial reduksi jauh lebih kecil daripada  yang diperlukan untuk mengoksidasi indikator, hingga diperoleh bentuk teroksidasi  berwarna intensif. Indikator yang cocok untuk titrasi ini adalah amonium  molibdat dan FeCl3 . Namun, diperlukan ketrampilan khusus baik untuk mereaksikannya maupun pada pengamatannyqa  sehingga  lebih baik gunakan indikator internal seperti difenilamin, difenilbenzidin dandifenilamin sulfonat. Untuk mengetahui potensial reduksi ferosianida menjadi ferisianida dapat dilihat dari reaksi redoks pada 30oC

  • Reaksi Redoks

 

Potensial reduksi dapat diketahui dari persamaan berikut :

 

 

Sebagai contoh titrasi Kholthof adalah

Penentuan kadar Zn2+ (sebagai titran) diendapkan dengan larutan baku K-Ferosianida dengan reaksi sebagi berikut

Jika ke dalam campuran tersebut ditambahkan Zn2+ akan terjadi endapan Zn-ferosianida, diikuti kenaikan potensial reduksi karena Fe(CN)6 4- hilang dari larutan. Setelah Fe(CN)64- bereaksi sempurna akan terjadi kenaikan tajam potensial reduksi dan muncul warna biru (bentuk indikator teroksidasi) akibat adanya kelebihan Zn2+ .Pada titik akhir titrasi akan muncul warna biru telor asin

 

  1. B. TITRASI BEBAS AIR (  NON – AQUO TITRATION )

Titrasi bebas air atau titrasi non aqua adalah titrasi yang menggunakan pelarut organik sebagai pengganti air. Titrasi ini merupakan salah satu metode titrimtri yang biasanya digunakan dalam titrasi asam lemah, basa lemah serta garam – garam organic dari asam atau basa yang tidak larut dalam air melaikan larut dalam pelarut organik. Seperti titrasi senyawa – senyawa organic yang bersifat basa oleh asam kuat anhidrat. Beberapa panduan dalam titrasi bebas air yaitu meliputi

a)      Solut hendaknya larut dalam pelarut atau pada kelebihan peniter

b)      Hasil titrasi harus larut dalam pelarut

c)      Pelarut yang digunakan tidak menimbulkan reaksi samping yang mengganggu

d)     Pelaksanaan titrasi harus bebas air, meliputi pelarut dan pereaksi dengan penambahan anhidrida asetat, dan peralatan yang digunakan harus kering.

Senyawa yang bersifat asam lemah ataupun basa lemah mempunyai pH yang hampir sama dengan pH air sehingga jika menggunakan pelarut air untuk mentukan titik akhir titrasinya relatif lebih sulit. Titik akhir titrasi senyawa basa dengan pKa kurang dari 7 atau senyawa asam denga pKa lebih dari 7  tidak dapat ditentukan secara akurat dalam pelarut air. Sehingga titik akhir titrasi senyawa yang bersifat asam lemah maupun basa lemah dapat ditentukan dengan menggunakan pelarut yang bebas air. Reaksi yang terjadi selama titrasi  dengan pelarut bebas air dapat dijelaskan menurut teori Asam-Basa Bronsted-Lowry.

  1. 1. Teori Asam-Basa Bronsted-Lowry

Menurut Bronsted-Lowry senyawa asam merupakan senyawa yang dapat menyumbangkan proton (donor proton) karena sifat asam cenderung memisah sehingga menghasilkan proton. Basa merupakan senyawa yang menerima proton (aseptor proton) senyawa basa cenderung untuk bergabung dengan proton. Proton yang dihasilkan oleh asan disebut sebagai basa konjugasi, sedangkan basa yang bergabung dengan proton disebut sebagai asam konjugasi.

 

 

 

Senyawa yang bersifat asam dapat menunjukan keasamannya saat senyawa tersebut bereaksi dengan basa, begitu juga untuk basa, dengan adanya senyawa asam maka kebasaannya dapat diketahui. Kekuatan asam ditentukan oleh potensi dari asam itu untuk melepaskan proton dan potensi kekuatan basa yang akan menerima protonnya. Jadi asam lemah akan lebih kuat bila direaksikan dengan basa yang lebih kuat.

  1. 2. Pelarut Titrasi Bebas Air

Berbagai pelarut organik dapat digunakan sebagai pelarut dalam titrrasi bebas air sebagai pengganti air karena pelarut organik sukar untuk melepaskan atau menerima proton dari zat yang akan dianalisis. Pelarut titrasi bebas air menurut Bronsted-Lowry dibagi menjadi tiga macam yaitu pelarut protofilik, pelarut protogenik dan pelarut aprotik. Pelarut protofilik merupakan pelarut yang bersifat basa atau yang lebih basa dalam air dan memiliki kemampuan penyetingkat atau penyetara kekuatan solut asam-asam lemah serta mampu membedakan kekuatan basa-basa. Pelarut protogenik adalah pelarut asam yang memiliki kemampuan penyetingkat atau penyetara kekuatan solut basa-basa lemah dan mampu membedakan kekuatan asam-asam. Pelarut aprotik tidak mempengaruhi kekuatan asam maupun basa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk membuat basa lemah menjadi basa kuat dapat digunakan pelarut asam kuat, sedangkan penggunaan pelarut basa yang kuat ditujukan untuk membuat asam lemah menjadi asam kuat.

HClO4 > HBr > H2SO4 >  HCl > HNO3 >  CH3COOH > fenol > air > pridin

Uraian diatas merupakan ururan pelarut berdasarkan sifat keasamannya. Dalam urutan di atas, air lebih bersifat basa daripada asam asetat karena asam-asetat  mudah memberikan proton pada air. Asam perklorat merupakan pelarut yang bersifat asam kuat karena asam perklorat paling mudah melepaskan proton dari pada asam – asam selanjutnya.

Seperti telah diuraikan diatas, kekuatan asam dan basa ditentukan pula oleh  kemampuan pelarut untuk melepaskan dan menerima proton. Berdasarkan hal ini maka pelarut untuk titrasi bebas air dapat dibedakan menjadi:

  1. Pelarut amfiprotik,yaitu pelarut yang dapat menerima ataupun memberikan proton. Pelarut ini akan mengalami ionisasi sendiri ( protolisis ). Contoh: Metanol, Etanol, Asam asetat, ammonia.
  2. Pelarut aprotik (yang netral), yaitu pelarut yang tidak dapat menerina maupun memberikan proton. Pelarut ini bereaksi kurang baik dengan asam atau basa karena memiliki konstanta dielektrik yang rendah sehingga tidak dapat mengionisasi asam atau basa. Contoh: Benzena, karbon tetraklorida dan kloroform.
  3. Pelarut protofilik, yaitu pelarut yang mudah menerima proton atau dalam karakternya bersifat basa sehingga jika bereaksi dengan asam membentuk proton terlarut. Contoh: eter, ammonia, keton, etil diamin, piridin, dll.
  4. 4. Pelarut protogenik, yaitu pelarut yang bersifat asam sehingga mudah memberikan proton pada saat berdisosiasi. Contoh: asam florida, asam sulfat, asam asetat, asam klorida.

Pemilihan pelarut sangat penting dalam titrasi bebas air, karena pelarut yang baik untuk titrasi bebas air adalah pelarut yang tidak mampu bersaing dengan untuk menyumbang dan menerima proton dengan analit. Dalam memilih pelarut, ada tiga hal yang harus diperhatikan yaitu:

  1. Sifat asam-basa dari pelarut; untuk menitrasi basa lemah maka dipilih pelarut yang lebih bersifat asam dan demikian pula sebaliknya.Misalnya pada titrasi basa lemah, pelarut asam asatat lebih baik daripada air
  2. Tetapan autoprotolisis (besarnya kemampuaan suatu molekul untuk melakukan transfer proton ke molekul lain)
  3. Tetapan dielektrik (pengukur relatif kepolaran suatu pelarut)

Suatu asam-basa dalam pelarut SH akan mengalami kesetimbangan sebagai berikut

Dalam pelarut yang memiliki konstanta dielektrik yang tinggi pasangan ion tersebut akan terdisosiasi sempurna membentuk ion bebas.

Sehingga reaksi keseluruhan yang terjadi adalah

disimpulkan bahwa keasaman dan kebasaan suatu senyawa bergantung pada tetapan ionisasi (Ki) dan tetapan disosiasi (Kd) dari pelarutyang digunakan. untuk senyawa asam kuat dapat diasumsikan bahwa Ki >>> 1 maka Ka= Kd dan Kb=Kd. Sedangkan untuk asam atau basa lemah diasumsikan bahwa Ki<<HNO3>HOAc dan menyetarakan keasaman asam mineral HClO4, H2SO4 , HCl dan HNO3. Dari kedua contoh di atas dapat disimpulkan bahwa asam dan basa dalam pelarut amfiprotik kesempurnaan reaksinya bergantung pada kerakter keasaman dan kebasaan pelarut, tetapan dielektrik pelarut, keasaman dan kebasaan senyawa, tetapan autoprotolisis pelarut. Berikut adalah tetapan autoprotolisis pelarut

Pelarut pKs
Air 14.00
Methanol 16.70
Etanol 19.10
Asam asetat 14.45
Anhidrida asetat 14.50
Asetonitril 26.50
  1. 3. Interaksi solut-pelarut

Pelarut basa atau yang lebih basa dalam air, disebut juga sebagai pelarut protofilik, memiliki kemampuan penyetingkat atau penyetara kekuatan solut asam-asam lemah dan mampu membedakan kekuatan basa-basa. Pelarut asam, disebut juga sebagai pelarut protogenik, juga memiliki kemampuan penyetingkat atau penyetara kekuatan solut basa basa lemah dan mampu membedakan kekuatan asam-asam. Pelarut aprotik tidak mempengaruhi kekuatan asam maupun basa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk membuat basa lemah menjadi basa kuat dapat digunakan pelarut asam kuat, sedangkan penggunaan pelarut basa yang kuat ditujukan untuk membuat asam lemah menjadi asam kuat.

  • Titrasi bebas air untuk senyawa asam

Pelarut protofilik (pelarut basa) merupakan cairan yang dapat meningkatkan disosiasi asam lemah dengan cara bereaksi dengan proton yang tersedia. Contoh-contoh pelarut protifilik yaitu piridin, dimetilformamida, n-butilamin, dan sebagainya. Contohnya yaitu fenol yang merupakan asam lemah, dilarutkan dalam piridin sehingga bisa berdisosiasi dengan sempurna. Kesetimbangan akan bergeser ke kanan dan menjadikan fenol dalam piridin sebagai asam kuat. Jika fenol dititrasi dengan basa kuat CH3ONa maka terjadi persaingan antara piridin terprotonasi dengan CH3ONa. Tetapi karena ion metoksida lebih basa daripada piridin, maka fenol akan bereaksi dengan CH3ONa.

Contoh peniter yang bisa digunakan dalam titrasi bebas air untuk senyawa asam yaitu garam Li-metoksida, garam K-metoksida, garam Na-metoksida, dan tetrabutil ammonium hidroksida. Peniter bisa dibakukan dengan asam benzoat.
Contoh senyawa asam yang bisa dititrasi yaitu fenobarbital. Fenobarbital dapat dilarutkan dalam DMF yang sudah netral dengan indicator merah kuinaldin, kemudian dititrasi dengan Li-metoksida. Titik akhir tercapai dengan terjadinya perubahan warna dari pink menjadi tidak berwarna.

  • Penerapan titrasi bebas air untuk senyawa basa

Pelarut asam asetat glasial digunakan untuk meningkatkan ionisasi amin sehingga dihasilkan senyawa OAc- yang bersifat basa kuat (lebih kuat dibandingkan ion perklorat) sesuai dengan persamaan reaksi berikut

 

Peniter yang digunakan harus merupakan asam yang lebih kuat daripada asam asetat dan larut baik dalam asam asetat. Peniter yang umum digunakan yaitu asam perklorat dan dibakukan dengan kalium biftalat. Cara yang digunakan yaitu kalium biftalat diberi indicator kristal violet dan dititrasi dengan asam perklorat. Indikator yang digunakan yaitu kristal violet / metil violet yang memiliki warna violet dalam keadaan basa dan warna dengan variasi biru hingga kuning pada keadaan asam tergantung basa yang dititrasi.

Supaya reaksi bisa berhasil, umumnya kandungan air dalam pelarut dan peniter harus dibebaskan. Hal ini bisa dilakukan dengan penambahan anhidrida asetat karena anhidrida asetat akan bereaksi dengan air sesuai reaksi (CH3CO)2O + H2O à 2 CH3COOH. Asam asetat yang digunakan tidak higroskopis (menyerap air) sehingga titrasi dapat dilakukan secara terbuka (bahkan jika perlu dipanaskan) dan dilakukan titrasi blangko. Jika sampel berupa asam amino yang tidak larut dalam asam asetat maka dilakukan titrasi tidak langsung. Asam amino dapat ditambahkan asam perklorat berlebih dan kemudian kelebihan asam perklorat dititrasi dengan Na-asetat sesuai dengan reaksi berikut:

 

 

 

 

Pperkecualian untuk garam halida senyawa basa tidak dapat dititrasi secara langsung dengan HClO4 karena ion halide merupakan basa yang lebih lemah daripada ion perklorat. Dalam reaksi perlu ditambahkan Hg asetat untuk mengikat halide sehingga dibebaskan ion asetat yang bersifat basa kuat yang dapat dititrasi dengan HClO4. Kelebihan Hg asetat tidak mengganggu karena HgCl2 tidak terdisosiasi dalam asam asetat. Persamaan reaksi yang terjadi yaitu:.

 

 

 

 

Morfin HCl merupakan contoh senyawa yang bisa dititrasi. Morfin HCl dilarutkan dalam Hg asetat, ditambah indicator, dan dititrasi dengan asam perklorat. Pelarut (asam asetat glasial) yang digunakan peka terhadap pemuaian oleh suhu. Oleh karena itu maka normalitas HClO4 harus dikoreksi dengan rumus

Vc = V [ 1+ (t1-t2) 0.0011)]

Keterangan : Vc   = Volume terkoreksi
V     = Volume HClO4 yang digunakan
t1 = Suhu larutan HClO4 pada saat dilakukan pembakuan (oC)
t2 = Suhu larutan HClO4 pada saat dilakukan titrasi (oC)

  1. 4. Indikator

Penetapan titik akhir pada titrasi bebas air, dapat dilakukan dengan penambahan indikator atau yang lebih disukai adalah dengan metode potensiometrik. Perubahan warna indikator dalam pelarut organik berbeda perubahannya dalam pelarut air. Hal ini disebabkan karena pelarut organik mempunyai tetapan dielektrik yang lebih kecil dibanding air.Sehingga mengakibatkan indikator asam basa yang cocok untuk titrasi dengan pelarut air belum tentu baik untuk titrasi bebas air. Beberapa indikator yang dapat digunakan pada titrasi bebas air diantaranya adalah sebagai berikut:

Asam : kristal violet, metil violet, metil merah

Basa : Fenolftalein, bromotimol biru, violet azo

Indikator Perubahan Warna
Netral Asam Basa
Crystal violet (0,5% dalam asam asetat glasial) Biru-hijau Kekuningan-hijau Violet
Α-naphtholbenzein (0,2% dalam asetat glasial) Orange Hijau tua Biru atau biru-hijau
Oracet blue b (0,5%dalam asam asetat glasial) Ungu Merah muda Biru
Quinaldine merah (0,1%dalam metanol) Magenta   Hampir tak berwarna
Fenolftalein   Pink Tak berwarna
Metil merah   Merah Kuning
Bromotimol biru   Kuning Biru

  1. 5. Penentuan Titik Ekivalan Pada Titrasi Bebas Air

Titik ekivalen titrasi bebas air dapat ditentukan dengan metode potensiometri dengan disertai penambahan indikator. Potensiometri merupakan suatu cara analisis berdasarkan pengukuran beda potensial sel dari suatu sel elektrokimia. Metode ini dapat digunakan untuk mengukur potensial, pH suatu larutan, menentukan titik ekivalen titrasi dan menentukan konsenterasi ion – ion. Susnan alat pada potensiometri adalah : elektroda pembanding (reference electrode), elektroda indikator (indikator electrode) dan alat potensial.

Terjadinya proses ionisasi, terbentuknya ikatan, resonansi senyawa pada proses titrasi bebas air yang telah  berlangsung dengan baik dapat diketahui dengan adanya penambahan indikator pada senyawa analit. Indikator memberikan perubahan warna pada saat titik akhir titrasi (titik ekivalen). Perubahan warna indikator tergantung pada sifat titran. Perubahan warna larutan oleh indikator saat mencapai titik ekivalen dapat digunakan sebagai pembanding dalam penentuan titik ekivalen dengan metode potensiometri.

Pada titrasi bebas air elektroda indikator yang digunakan adalah elektroda membran kaca yang dapat menentukan konsentrasi ion proton (pH) dalam suatu larutan sehngga dapat berfungsi sebagai penunjuk banyaknya ion proton didalam larutan selama berlangsungnya titrasi. Salah satu contoh elektroda membrane kaca yang dapat digunakan sebagai pengukuran pH adalah pH meter. Selain menentukan pH larutan elektroda ini digunakan untuk menentukan titik akhir titrasi metode potensiometri. Setiap elektroda membran pH terdiri dari satu membrane aktif (peka terhadap pH 0) yang ditempatkan pada salah satu ujung gelas yang berisi larutan HCl 0,1 M ( larutan internal ), lalu elektroda dihubungkan pH meter.

Penentuan titik akhir titrasi dengan metode potensiometri memberikan hasil yang lebih akurat karena pengamatan titik akhir titrasinya tidak bergantung pada perubahan warna larutan dan kekeruhan. Untuk menentukan lokasi titik ekivalen dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu

a)      Membuat grafik potensial atau pH versus volume titran.

b)      Membuat grafik dari memodifikasi turunan pertama  ∆E/∆V atau ∆pH/∆V versus volume titran (Vx) sehingga ditentukan harga maksimum atau minimumnya.

c)      Membuat grafik dari modifikasi turunan keduanya ∆2E/∆V atau ∆2pH/∆V versus volume titran (Vy), lalu ditentukan titik nolnya.

  1. 6. Perhitungan Dan Pembuatan Kurva Titik Ekivalen Pada Titrasi Bebas Air
  • Perhitungan turunan pertama

dan   ∆V1 = V2 – V1

dimana : ∆V1 : selisis volume pada turunan pertama

V2 : volume pada pengukuran pertama

V1 : volume pada pengukuran kedua

  • Perhitungan turunan kedua

 

dan   ∆V2 = Vx2 – Vx1

 

dimana : ∆V1 : selisis volume pada turunan kedua

V2 : volume turunan pertama pada data pertama

V1 : volume turunan pertama pada data kedua

 

 

Berikut merupakan gambar grafik dari titrasi bebas air dengan metode potensiometri

 

  1. A. TITRASI PENGENDAPAN

Titrasi pengendapan adalah golongan titrasi dimana hasil reaksi titrasinya merupakan endapan atau garam yang sukar larut. Prinsip dasarnya adalah reaksi pengendapan yang cepat mencapai kesetimbangan pada setiap penambahan titran, tidak ada pengotor yang mengganggu dan diperlukan indikator untuk melihat titik akhir titrasi. Hanya reaksi pengendapan yang dapat digunakan pada titrasi. Sebagaimana tipe-tipe reaksi pembentukan suatu endapan dapat digunakan sebagai dasar titrasi yaitu :

TITRAN + TITRAT à ENDAPAN

Faktor yang menentukan kesempurnaan reaksi pengendapan adalah kelarutan dari endapan yang terbentuk, endapan yang makin sukar larut mendandakan bahwa reaksi pada titik ekivalen makin sempurna. Beberapa metode dalam titrasi pengendapan adalah  Argentometri, Merkurimetri, Titrasi Kholthof

  1. a. Argentometri

Argentometri merupakan salah satu metode dalam titrasi pegendapan dimana hasil pengendapannya berupa garam – garam perak (Ag). Metode reaksi pengendapan secara argentometri banyak digunakan dalam reaksi pengandapan , karena hasilkali kelarutan garam perak halida (pseudohalida) dalam air sangat kecil seperti pada data berikut :

Ksp AgCl        =    1,82.10-10

Ksp AgCNS    =    1,10.10-12

Ksp AgBr        =    5,00.10-13

Ksp AgCN      =    2,20.10-16

Ksp AgI          =    8,30.10-17

Metode penentuan titik akhir titrasi pada titrasi  argentometri ada 3, yaitu:

  • Metode Mohr

Penentuan titik akhir pada Metode Morh ditandai dengan pembentukan endapan berwarna. Metode ini digunakan sebagai penentuan titik akhir titrasi untuk Cl dan Br pada pH 6 – 8, namun tidak dapat menentukan titik akhir titrasi pada  CNS ,CN dan I karena ketiganya dapat teradsorbsi kuat oleh endapan yang terbentuk. Indikator yang digunakan saat titrasi adalah K2CrO4 berikut merupakan contoh reaksi pengendapan dengan Metode Mohr

Reaksi:

 

Ion Cl mengendap setelah dititrasi dengan larutan baku AgNO3 hal ini disebabkan ion Cl- akan mengendap setelah bereaksi dengan ion Ag+ penembahan indikator pada titrasi ini berfungsi sebagai pemberi warna saat kapasitas titrasi Clterpenuhi atau ion Cl sudah tidak dapat menerima ion Ag+ sehingga ion Ag+ bereaksi dengan ion CrO42- dari K2CrO4 dan membentuk endapan dengan warna coklat.

  1. b. Metode Volhard

Titik akhir titrasi pada Metode Volhard ditandai dengan terbentuknya zat warna yang mudah larut. Metode ini dapat digunakan untuk penentuan titik akhir titrasi pada I, Br, Cl, SCN dengan menggunakan inikator Fe3+ atau Fe2+. Penambahan indikator dilakukan sebelum titrasi kecuali pada penentuan I dilakukan setelah I mengendap sempurna karena I dapat dioksidasikan oleh Fe3+. Prisip kerja dari metode ini adalah penambahan larutan baku AgNO3 secara berlebih pada larutan sampel yang mengandung ion Cl, Br, I, atau SNC , kemudian kelebihannya dititrasi kambali dengan KSCN. Berikut merupakan contoh reaksi pengendapan pada Metode Volhard

Reaksi :

 

Reaksi antara ion Ag+ dengan ion halida yaitu X akan menghasilkan suatu endapan perak halida yaitu AgX. Ion Ag+ ditambahkan berlebih agar dapat menekan kelarutan AgX karena umumnya kelarutan suatu endapan berkurang banyak sekali jika salah satu bahan endapan ditambahkan berlebih pada hal ini adalah Ag+ setelah itu kelebihan Ag+ dititrasi dengan ion KSCN yang kemudian membentuk endapan putih AgSCN, titik akhir titrasi ditandai terbentuknya  larutan berwarna merah darah karena adanya penambahan indikator Fe2+ atau Fe 3+ yang bereaksi dengan  ion SCN membentuk Fe(SCN)2+ yang berwarna merah darah.

 

  1. c. Metode Fayans

Penentuan titik akhir titrasinya dilakukan dengan  penambahan indikator adsorbansi. seperti cosin, fluorosein, dfluorosein. Metode ini dapat digunakan dalam penentuan

titik akhir titrasi pada Cl­-, Br, I, SCNdengan pH 4. Peristiwa absorpsi harus terjadi sesudah TE dan tidak ada garam lain yang menyebabkan koagulasi. Berikut reaksi yang berlangsung pada Metode Fayans

Reaksi antara ion Ag+ dengan ion halida X- harus  membentuk endapan berupa koloid sehingga AgX dapat teradsorbsi karena salah satu  sifat koloid adalah adapat menyerap warna, titik akhir titrasi ditandai dengan terserapnya warna biru kemerahan oleh koloid yang terbentuk.

Contoh titrasi pengendapan untuk metode argentometri

Analit Titran Indikator Metode
Cl­-, Br AgNO3 K2CrO4 Mohr
Cl­-, Br,I, SCN AgNO3 adsorpsi Fajans
Br,I, SCN, AsO43- AgNO3 + KSCN Fe(III) Volhard

(tanpa saring)

Cl,CN,CO32-,S2, C2O42-,CrO42- AgNO3 + KSCN Fe(III) Volhard

(saring)

 

  1. b. Merkurimetri

Larutan baku yang digunakan pada merkurimetri adalah  merkuri nitrat Hg( NO3)2 Jika ion halida dititrasi dengan merkuri nitrat, tidak ada ion Hg2+ sampai melewati daerah titik ekivalen, hal ini disebabkan selama titrasi ion Hg2+ beraksi dengan ion halida X sehingga terbentuk endapan merkuri halida HgX2, dimna X merupakan halida seperti Cl, Br, I, F. Namun setelah TE tercapai, ion Hg2+ segera bereaksi dengan indikator  membentuk kompleks Hg-Indikator; misal dengan indikator  nitroprusid ion Hg2+ membentuk endapan putih dan dengan  indicator difenilkarbazid atau difenilkarbazon dalam asam ion Hg2+ membentuk warna ungu intensif. Berikut ini adalah  reaksi yang

terjadi pada merkurimetri

Pada pemisahan secara merkurimetri diperlukan koreksi dengan titrasi blanko seperti contoh berikut :

  • 0,17 ml Hg(NO3)2 0,1 N untuk 50 ml HgCl2 0,05 N.

Volume titrasi blanko bervariasi sesuai besarnya konsenterasi HgCl2 pada titik ekivalen, karena jika konsenterasi Hg2+ berlebih akan beraksi dengan HgCl2 seperti pada reaksi berikut

  1. c. Titrasi   Kolthoff

Larutan baku yang digunakan pada titrasi kolthoff adalah K-Ferosianida. Campuran fero-ferisianida dalam asam memiliki potensial reduksi jauh lebih kecil daripada  yang diperlukan untuk mengoksidasi indikator, hingga diperoleh bentuk teroksidasi  berwarna intensif. Indikator yang cocok untuk titrasi ini adalah amonium  molibdat dan FeCl3 . Namun, diperlukan ketrampilan khusus baik untuk mereaksikannya maupun pada pengamatannyqa  sehingga  lebih baik gunakan indikator internal seperti difenilamin, difenilbenzidin dandifenilamin sulfonat. Untuk mengetahui potensial reduksi ferosianida menjadi ferisianida dapat dilihat dari reaksi redoks pada 30oC

  • Reaksi Redoks

 

Potensial reduksi dapat diketahui dari persamaan berikut :

 

 

Sebagai contoh titrasi Kholthof adalah

Penentuan kadar Zn2+ (sebagai titran) diendapkan dengan larutan baku K-Ferosianida dengan reaksi sebagi berikut

Jika ke dalam campuran tersebut ditambahkan Zn2+ akan terjadi endapan Zn-ferosianida, diikuti kenaikan potensial reduksi karena Fe(CN)6 4- hilang dari larutan. Setelah Fe(CN)64- bereaksi sempurna akan terjadi kenaikan tajam potensial reduksi dan muncul warna biru (bentuk indikator teroksidasi) akibat adanya kelebihan Zn2+ .Pada titik akhir titrasi akan muncul warna biru telor asin

 

  1. B. TITRASI BEBAS AIR (  NON – AQUO TITRATION )

Titrasi bebas air atau titrasi non aqua adalah titrasi yang menggunakan pelarut organik sebagai pengganti air. Titrasi ini merupakan salah satu metode titrimtri yang biasanya digunakan dalam titrasi asam lemah, basa lemah serta garam – garam organic dari asam atau basa yang tidak larut dalam air melaikan larut dalam pelarut organik. Seperti titrasi senyawa – senyawa organic yang bersifat basa oleh asam kuat anhidrat. Beberapa panduan dalam titrasi bebas air yaitu meliputi

a)      Solut hendaknya larut dalam pelarut atau pada kelebihan peniter

b)      Hasil titrasi harus larut dalam pelarut

c)      Pelarut yang digunakan tidak menimbulkan reaksi samping yang mengganggu

d)     Pelaksanaan titrasi harus bebas air, meliputi pelarut dan pereaksi dengan penambahan anhidrida asetat, dan peralatan yang digunakan harus kering.

Senyawa yang bersifat asam lemah ataupun basa lemah mempunyai pH yang hampir sama dengan pH air sehingga jika menggunakan pelarut air untuk mentukan titik akhir titrasinya relatif lebih sulit. Titik akhir titrasi senyawa basa dengan pKa kurang dari 7 atau senyawa asam denga pKa lebih dari 7  tidak dapat ditentukan secara akurat dalam pelarut air. Sehingga titik akhir titrasi senyawa yang bersifat asam lemah maupun basa lemah dapat ditentukan dengan menggunakan pelarut yang bebas air. Reaksi yang terjadi selama titrasi  dengan pelarut bebas air dapat dijelaskan menurut teori Asam-Basa Bronsted-Lowry.

  1. 1. Teori Asam-Basa Bronsted-Lowry

Menurut Bronsted-Lowry senyawa asam merupakan senyawa yang dapat menyumbangkan proton (donor proton) karena sifat asam cenderung memisah sehingga menghasilkan proton. Basa merupakan senyawa yang menerima proton (aseptor proton) senyawa basa cenderung untuk bergabung dengan proton. Proton yang dihasilkan oleh asan disebut sebagai basa konjugasi, sedangkan basa yang bergabung dengan proton disebut sebagai asam konjugasi.

 

 

 

Senyawa yang bersifat asam dapat menunjukan keasamannya saat senyawa tersebut bereaksi dengan basa, begitu juga untuk basa, dengan adanya senyawa asam maka kebasaannya dapat diketahui. Kekuatan asam ditentukan oleh potensi dari asam itu untuk melepaskan proton dan potensi kekuatan basa yang akan menerima protonnya. Jadi asam lemah akan lebih kuat bila direaksikan dengan basa yang lebih kuat.

  1. 2. Pelarut Titrasi Bebas Air

Berbagai pelarut organik dapat digunakan sebagai pelarut dalam titrrasi bebas air sebagai pengganti air karena pelarut organik sukar untuk melepaskan atau menerima proton dari zat yang akan dianalisis. Pelarut titrasi bebas air menurut Bronsted-Lowry dibagi menjadi tiga macam yaitu pelarut protofilik, pelarut protogenik dan pelarut aprotik. Pelarut protofilik merupakan pelarut yang bersifat basa atau yang lebih basa dalam air dan memiliki kemampuan penyetingkat atau penyetara kekuatan solut asam-asam lemah serta mampu membedakan kekuatan basa-basa. Pelarut protogenik adalah pelarut asam yang memiliki kemampuan penyetingkat atau penyetara kekuatan solut basa-basa lemah dan mampu membedakan kekuatan asam-asam. Pelarut aprotik tidak mempengaruhi kekuatan asam maupun basa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk membuat basa lemah menjadi basa kuat dapat digunakan pelarut asam kuat, sedangkan penggunaan pelarut basa yang kuat ditujukan untuk membuat asam lemah menjadi asam kuat.

HClO4 > HBr > H2SO4 >  HCl > HNO3 >  CH3COOH > fenol > air > pridin

Uraian diatas merupakan ururan pelarut berdasarkan sifat keasamannya. Dalam urutan di atas, air lebih bersifat basa daripada asam asetat karena asam-asetat  mudah memberikan proton pada air. Asam perklorat merupakan pelarut yang bersifat asam kuat karena asam perklorat paling mudah melepaskan proton dari pada asam – asam selanjutnya.

Seperti telah diuraikan diatas, kekuatan asam dan basa ditentukan pula oleh  kemampuan pelarut untuk melepaskan dan menerima proton. Berdasarkan hal ini maka pelarut untuk titrasi bebas air dapat dibedakan menjadi:

  1. Pelarut amfiprotik,yaitu pelarut yang dapat menerima ataupun memberikan proton. Pelarut ini akan mengalami ionisasi sendiri ( protolisis ). Contoh: Metanol, Etanol, Asam asetat, ammonia.
  2. Pelarut aprotik (yang netral), yaitu pelarut yang tidak dapat menerina maupun memberikan proton. Pelarut ini bereaksi kurang baik dengan asam atau basa karena memiliki konstanta dielektrik yang rendah sehingga tidak dapat mengionisasi asam atau basa. Contoh: Benzena, karbon tetraklorida dan kloroform.
  3. Pelarut protofilik, yaitu pelarut yang mudah menerima proton atau dalam karakternya bersifat basa sehingga jika bereaksi dengan asam membentuk proton terlarut. Contoh: eter, ammonia, keton, etil diamin, piridin, dll.
  4. 4. Pelarut protogenik, yaitu pelarut yang bersifat asam sehingga mudah memberikan proton pada saat berdisosiasi. Contoh: asam florida, asam sulfat, asam asetat, asam klorida.

Pemilihan pelarut sangat penting dalam titrasi bebas air, karena pelarut yang baik untuk titrasi bebas air adalah pelarut yang tidak mampu bersaing dengan untuk menyumbang dan menerima proton dengan analit. Dalam memilih pelarut, ada tiga hal yang harus diperhatikan yaitu:

  1. Sifat asam-basa dari pelarut; untuk menitrasi basa lemah maka dipilih pelarut yang lebih bersifat asam dan demikian pula sebaliknya.Misalnya pada titrasi basa lemah, pelarut asam asatat lebih baik daripada air
  2. Tetapan autoprotolisis (besarnya kemampuaan suatu molekul untuk melakukan transfer proton ke molekul lain)
  3. Tetapan dielektrik (pengukur relatif kepolaran suatu pelarut)

Suatu asam-basa dalam pelarut SH akan mengalami kesetimbangan sebagai berikut

Dalam pelarut yang memiliki konstanta dielektrik yang tinggi pasangan ion tersebut akan terdisosiasi sempurna membentuk ion bebas.

Sehingga reaksi keseluruhan yang terjadi adalah

disimpulkan bahwa keasaman dan kebasaan suatu senyawa bergantung pada tetapan ionisasi (Ki) dan tetapan disosiasi (Kd) dari pelarutyang digunakan. untuk senyawa asam kuat dapat diasumsikan bahwa Ki >>> 1 maka Ka= Kd dan Kb=Kd. Sedangkan untuk asam atau basa lemah diasumsikan bahwa Ki<<HNO3>HOAc dan menyetarakan keasaman asam mineral HClO4, H2SO4 , HCl dan HNO3. Dari kedua contoh di atas dapat disimpulkan bahwa asam dan basa dalam pelarut amfiprotik kesempurnaan reaksinya bergantung pada kerakter keasaman dan kebasaan pelarut, tetapan dielektrik pelarut, keasaman dan kebasaan senyawa, tetapan autoprotolisis pelarut. Berikut adalah tetapan autoprotolisis pelarut

Pelarut pKs
Air 14.00
Methanol 16.70
Etanol 19.10
Asam asetat 14.45
Anhidrida asetat 14.50
Asetonitril 26.50
  1. 3. Interaksi solut-pelarut

Pelarut basa atau yang lebih basa dalam air, disebut juga sebagai pelarut protofilik, memiliki kemampuan penyetingkat atau penyetara kekuatan solut asam-asam lemah dan mampu membedakan kekuatan basa-basa. Pelarut asam, disebut juga sebagai pelarut protogenik, juga memiliki kemampuan penyetingkat atau penyetara kekuatan solut basa basa lemah dan mampu membedakan kekuatan asam-asam. Pelarut aprotik tidak mempengaruhi kekuatan asam maupun basa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk membuat basa lemah menjadi basa kuat dapat digunakan pelarut asam kuat, sedangkan penggunaan pelarut basa yang kuat ditujukan untuk membuat asam lemah menjadi asam kuat.

  • Titrasi bebas air untuk senyawa asam

Pelarut protofilik (pelarut basa) merupakan cairan yang dapat meningkatkan disosiasi asam lemah dengan cara bereaksi dengan proton yang tersedia. Contoh-contoh pelarut protifilik yaitu piridin, dimetilformamida, n-butilamin, dan sebagainya. Contohnya yaitu fenol yang merupakan asam lemah, dilarutkan dalam piridin sehingga bisa berdisosiasi dengan sempurna. Kesetimbangan akan bergeser ke kanan dan menjadikan fenol dalam piridin sebagai asam kuat. Jika fenol dititrasi dengan basa kuat CH3ONa maka terjadi persaingan antara piridin terprotonasi dengan CH3ONa. Tetapi karena ion metoksida lebih basa daripada piridin, maka fenol akan bereaksi dengan CH3ONa.

Contoh peniter yang bisa digunakan dalam titrasi bebas air untuk senyawa asam yaitu garam Li-metoksida, garam K-metoksida, garam Na-metoksida, dan tetrabutil ammonium hidroksida. Peniter bisa dibakukan dengan asam benzoat.
Contoh senyawa asam yang bisa dititrasi yaitu fenobarbital. Fenobarbital dapat dilarutkan dalam DMF yang sudah netral dengan indicator merah kuinaldin, kemudian dititrasi dengan Li-metoksida. Titik akhir tercapai dengan terjadinya perubahan warna dari pink menjadi tidak berwarna.

  • Penerapan titrasi bebas air untuk senyawa basa

Pelarut asam asetat glasial digunakan untuk meningkatkan ionisasi amin sehingga dihasilkan senyawa OAc- yang bersifat basa kuat (lebih kuat dibandingkan ion perklorat) sesuai dengan persamaan reaksi berikut

 

Peniter yang digunakan harus merupakan asam yang lebih kuat daripada asam asetat dan larut baik dalam asam asetat. Peniter yang umum digunakan yaitu asam perklorat dan dibakukan dengan kalium biftalat. Cara yang digunakan yaitu kalium biftalat diberi indicator kristal violet dan dititrasi dengan asam perklorat. Indikator yang digunakan yaitu kristal violet / metil violet yang memiliki warna violet dalam keadaan basa dan warna dengan variasi biru hingga kuning pada keadaan asam tergantung basa yang dititrasi.

Supaya reaksi bisa berhasil, umumnya kandungan air dalam pelarut dan peniter harus dibebaskan. Hal ini bisa dilakukan dengan penambahan anhidrida asetat karena anhidrida asetat akan bereaksi dengan air sesuai reaksi (CH3CO)2O + H2O à 2 CH3COOH. Asam asetat yang digunakan tidak higroskopis (menyerap air) sehingga titrasi dapat dilakukan secara terbuka (bahkan jika perlu dipanaskan) dan dilakukan titrasi blangko. Jika sampel berupa asam amino yang tidak larut dalam asam asetat maka dilakukan titrasi tidak langsung. Asam amino dapat ditambahkan asam perklorat berlebih dan kemudian kelebihan asam perklorat dititrasi dengan Na-asetat sesuai dengan reaksi berikut:

 

 

 

 

Pperkecualian untuk garam halida senyawa basa tidak dapat dititrasi secara langsung dengan HClO4 karena ion halide merupakan basa yang lebih lemah daripada ion perklorat. Dalam reaksi perlu ditambahkan Hg asetat untuk mengikat halide sehingga dibebaskan ion asetat yang bersifat basa kuat yang dapat dititrasi dengan HClO4. Kelebihan Hg asetat tidak mengganggu karena HgCl2 tidak terdisosiasi dalam asam asetat. Persamaan reaksi yang terjadi yaitu:.

 

 

 

 

Morfin HCl merupakan contoh senyawa yang bisa dititrasi. Morfin HCl dilarutkan dalam Hg asetat, ditambah indicator, dan dititrasi dengan asam perklorat. Pelarut (asam asetat glasial) yang digunakan peka terhadap pemuaian oleh suhu. Oleh karena itu maka normalitas HClO4 harus dikoreksi dengan rumus

Vc = V [ 1+ (t1-t2) 0.0011)]

Keterangan : Vc   = Volume terkoreksi
V     = Volume HClO4 yang digunakan
t1 = Suhu larutan HClO4 pada saat dilakukan pembakuan (oC)
t2 = Suhu larutan HClO4 pada saat dilakukan titrasi (oC)

  1. 4. Indikator

Penetapan titik akhir pada titrasi bebas air, dapat dilakukan dengan penambahan indikator atau yang lebih disukai adalah dengan metode potensiometrik. Perubahan warna indikator dalam pelarut organik berbeda perubahannya dalam pelarut air. Hal ini disebabkan karena pelarut organik mempunyai tetapan dielektrik yang lebih kecil dibanding air.Sehingga mengakibatkan indikator asam basa yang cocok untuk titrasi dengan pelarut air belum tentu baik untuk titrasi bebas air. Beberapa indikator yang dapat digunakan pada titrasi bebas air diantaranya adalah sebagai berikut:

Asam : kristal violet, metil violet, metil merah

Basa : Fenolftalein, bromotimol biru, violet azo

Indikator Perubahan Warna
Netral Asam Basa
Crystal violet (0,5% dalam asam asetat glasial) Biru-hijau Kekuningan-hijau Violet
Α-naphtholbenzein (0,2% dalam asetat glasial) Orange Hijau tua Biru atau biru-hijau
Oracet blue b (0,5%dalam asam asetat glasial) Ungu Merah muda Biru
Quinaldine merah (0,1%dalam metanol) Magenta   Hampir tak berwarna
Fenolftalein   Pink Tak berwarna
Metil merah   Merah Kuning
Bromotimol biru   Kuning Biru

  1. 5. Penentuan Titik Ekivalan Pada Titrasi Bebas Air

Titik ekivalen titrasi bebas air dapat ditentukan dengan metode potensiometri dengan disertai penambahan indikator. Potensiometri merupakan suatu cara analisis berdasarkan pengukuran beda potensial sel dari suatu sel elektrokimia. Metode ini dapat digunakan untuk mengukur potensial, pH suatu larutan, menentukan titik ekivalen titrasi dan menentukan konsenterasi ion – ion. Susnan alat pada potensiometri adalah : elektroda pembanding (reference electrode), elektroda indikator (indikator electrode) dan alat potensial.

Terjadinya proses ionisasi, terbentuknya ikatan, resonansi senyawa pada proses titrasi bebas air yang telah  berlangsung dengan baik dapat diketahui dengan adanya penambahan indikator pada senyawa analit. Indikator memberikan perubahan warna pada saat titik akhir titrasi (titik ekivalen). Perubahan warna indikator tergantung pada sifat titran. Perubahan warna larutan oleh indikator saat mencapai titik ekivalen dapat digunakan sebagai pembanding dalam penentuan titik ekivalen dengan metode potensiometri.

Pada titrasi bebas air elektroda indikator yang digunakan adalah elektroda membran kaca yang dapat menentukan konsentrasi ion proton (pH) dalam suatu larutan sehngga dapat berfungsi sebagai penunjuk banyaknya ion proton didalam larutan selama berlangsungnya titrasi. Salah satu contoh elektroda membrane kaca yang dapat digunakan sebagai pengukuran pH adalah pH meter. Selain menentukan pH larutan elektroda ini digunakan untuk menentukan titik akhir titrasi metode potensiometri. Setiap elektroda membran pH terdiri dari satu membrane aktif (peka terhadap pH 0) yang ditempatkan pada salah satu ujung gelas yang berisi larutan HCl 0,1 M ( larutan internal ), lalu elektroda dihubungkan pH meter.

Penentuan titik akhir titrasi dengan metode potensiometri memberikan hasil yang lebih akurat karena pengamatan titik akhir titrasinya tidak bergantung pada perubahan warna larutan dan kekeruhan. Untuk menentukan lokasi titik ekivalen dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu

a)      Membuat grafik potensial atau pH versus volume titran.

b)      Membuat grafik dari memodifikasi turunan pertama  ∆E/∆V atau ∆pH/∆V versus volume titran (Vx) sehingga ditentukan harga maksimum atau minimumnya.

c)      Membuat grafik dari modifikasi turunan keduanya ∆2E/∆V atau ∆2pH/∆V versus volume titran (Vy), lalu ditentukan titik nolnya.

  1. 6. Perhitungan Dan Pembuatan Kurva Titik Ekivalen Pada Titrasi Bebas Air
  • Perhitungan turunan pertama

dan   ∆V1 = V2 – V1

dimana : ∆V1 : selisis volume pada turunan pertama

V2 : volume pada pengukuran pertama

V1 : volume pada pengukuran kedua

  • Perhitungan turunan kedua

 

dan   ∆V2 = Vx2 – Vx1

 

dimana : ∆V1 : selisis volume pada turunan kedua

V2 : volume turunan pertama pada data pertama

V1 : volume turunan pertama pada data kedua

 

 

Berikut merupakan gambar grafik dari titrasi bebas air dengan metode potensiometri

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: