PRESIPITIMETRI

PRESIPITIMETRI

Dilihat dari asal katanya presipimetri berasal dari kata  “precipitate” yang berarti endapan. Jadi, presipitimetri adalah titrasi dimana terjadi endapan atau presipitat. Salah satu contoh yaitu :

AgNO3 + NaCl         AgCl     + NaNO3

Disini akan dibahas “ ARGENTOMETRI” yakni titrasi-titrasi yang ada sangkut pautnya dengan penggunaan larutan AgNO3. Kurva titrasi dibuat dengan memplot –log[pereaksi] terhadap volume titrant. Metode titrasi argentometri dapat juga digunakan untuk menentukan kadar ion-ion yang berada dalam campuran. Syarat utama titrasi argentometri untuk campuran ion adalah ion-ion tersebut harus membentuk endapan dengan ion perak yang kelarutannya berbeda.

  1. A. Kurva Titrasi

Kurva titrasi dapat dibuat dengan cara mengeplot antara perubahan konsentrasi analit pada sumbu ordinat dan volume titran pada sumbu absis, pada umumnya konsentrasi analit dinyatakan dalam fungsi (P) yaitu px = – log [x].

Kurva titrasi terdiri atas 3 wilayah yaitu wilayah sebelum titik ekuivalen, titik ekuivalen, dan titik setelah ekuivalen. Pada penggambaran sebuah kurva ada beberapa titik yang harus dicari untuk menggambarkan kurva secara keseluruhan, titik-titik tersebut diantaranya:

  1. Titik awal titrasi
  2. Titik setelah penambahan a ml AgNO3
  3. Titik setelah penambahan b ml AgNO3 (1-2 tetes sebelum titik ekuivalen)
  4. Titik saat ekuivalen
  5. Titik setelah penambahan AgNO3 berlebih

Pada proses penghitungan sebelum penggambaran kurva harus juga memperhitungkan hukum kesetimbangan, yaitu mempertimbangkan AgCl yang dapat terlarut kembali.

Ag+(aq) + Cl(aq) AgCl(s)

y                                       (a-n) + y                                               n – y

dimana    a = mmolClsemula (jumlah analitis).

n = mmol Ag+ yang telah ditambahkan.

y = mmol Ag+ yang tak terendap sebagai akibat kesetimbangan.

Maka jumlah AgCl yang mengendap (tanpa kesetimbangan) ialah n mmol. Boleh dibayangkan, bahwa kemudian y mmol AgCl larut kembali untuk memenuhi hukum kesetimbangan, dengan membentuk kembali y mmol Ag+ dan Cl.Maka dalam keadaan setimbang terdapat y mmol Ag+ dan (a-n)+y mmol Cl, sehingga

 

 

Selama titrasi masih jauh dari titik ekuivalen, y akan lebih kecil dari pada (a-n) dan untuk menyederhanakan perhitungan dapat diabaikan; tetepi semakin mendekati titik ekuivalen nilai a-n semakin kecil sehingga akhirnya y tidak dapat diabaikan lagi, dan persamaan harus dipecahkan sebagai persamaan kuadrat.

Untuk menggambar kurva titrasi argentometri maka perhatikan contoh berikut ini:

50 mL larutan NaCl 0,1 M dititrasi dengan 0,1 M larutan perak nitrat AgNO3, maka hitunglah konsentrasi Cl pada saat awal dan pada saat penambahan perak nitrat sebanyak 10 mL, 49,9 mL, 50 mL, dan 60 mL dan diketahui Ksp AgCl 1,56.10-10

ü  Pada saat awal titrasi belum terdapat AgNO3 yang ditambahkan sehingga konsentrasi ion klorida adalah sebagai berikut:

[Cl]     =  10-1 M

pCl =  -log [Cl]

=  -log 10-1

1

ü  Saat penambahan 10 mL AgNO3 0,1 M ( dengan mengabaikan y)

Reaksi yang terjadi adalah:

 

Ag+(aq) + Cl(aq) AgCl(s)

mula mula          1 mmol                                5 mmol                                                      –

reaksi                  1 mmol                                1 mmol                                                1 mmol

sisa                      0 mmol                                4 mmol                                                1 mmol

 

Perbandingan mol antara Ag+ dan Cl adalah            1:1.

[Cl]    =  (50×0,1)-(10×0,1) / (50+10)

= 0,067 M

pCl      = -log [Cl]

= -log 0,067

= 1,17

ü  Saat penambahan 49,9 mL AgNO3 0,1 M (dengan mengabaikan y)

Reaksi yang terjadi adalah:

Ag+(aq) + Cl(aq) AgCl(s)

mula mula           4,49 mmol                          5 mmol                                                      –

reaksi                   4,49 mmol 4,49 mmol                                                4,49 mmol

sisa 0 mmol 0,01 mmol                                              4,49 mmol

 

[Cl]     = (50×0,1)-(49,9×0,1)/(50+49,9)

= 1.10-4

pCl       = -log [Cl]

= -log 1.10-4

= 4

ü  Saat penambahan 49,99 mL AgNO3 0,1 M (dengan tidak mengabaikan y)

Ag+ dalam 49,99 ml =  4,999 mmol;  volume total

=  99,99 ml

=  100 ml

(a-n)  =  0,001 mmol

Maka

(y)  ( 0,001 + y )    =   1,0 x 10-10 + 1002 dan diperoleh

Y      =   0,618 x 10-3

[Cl]     =   1,618 x 10-5dan [Ag+] = 0,618 x 10-5

pCl       =   -log [Cl]

=   -log [1,618 x 10-5]

=    4,79

 

ü  Saat Titik Ekivalen (saat ditambahkan 50 ml AgNO3 0,1 M)

AgNO3 dan NaCl habis bereaksi membentuk AgCl. Pada saat ini maka tidak ada ion Ag+ maupun ion Cl dalam larutan sehingga konsentrasi Cl ditentukan dengan menggunakan nilai Ksp.

AgCl(s) Ag+(aq) + Cl(aq)

s                        s                s

Ksp      = [Ag+][Cl]

Ksp      =   s2

s           =   Ksp1/2

s           =   (1,56.10-10)1/2

s           =   1,25.10-5

pCl      =   -log[Cl]

=   -log 1,25.10-5

= 4,9

ü  Saat penambahan 60 mL AgNO3 0,1 M (dengan mengabaikan y)

Reaksi yang terjadi adalah:

Ag+(aq) + Cl(aq) AgCl(s)

mula mula      6 mmol 5 mmol                                                –

reaksi 5 mmol 5  mmol 5 mmol

sisa 1 mmol 0 mmol 5 mmol

 

pada saat ini maka terdapat kelebihan Ag+ sebanyak 10 mL sehingga sekarang kita menghitung jumlah konsentrasi Ag+ yang berlebih

[Ag+]   =   10x 0,1/(50+60)

=   9,1.10-3

pAg     =   -log[Ag+]

=   -log 9,1.10-3

=   2,04

pAg + pCl   =   10 (dari harga Ksp)

pCl              =   10 – 2,04

pCl              =  7,96

 

Dan kurva titrasinya adalah sebagai berikut:

Kurva titrasi 50 mL NaCl 0,1 M vs AgNO3 0,1 M

 

 

Titrasi 50 ml NaCl 0,1 M dengan AgNO3 0,1 M

AgNO3 ml [Cl] % yg diendapkan pCl
0,0 0,10 0,0 1,00
10,0 0,067 20,0 1,17
20,0 0,043 40,0 1,37
30,0 0,025 60,0 1,60
40,0 0,011 80,0 1,96
49,0 0,0010 98,0 3,00
49,9 1×10-4 99,8 4,00
49,99 1,618 x 10-5 99,97 4,79
50,0 1×10-5 100 4,9
50,1 1×10-6 100 6,00
51,0 1×10-7 100 7,00
60,0 1×10-8 100 7,96

 

 

 

 

 

Pengaruh kurva nilai Ksp terhadap kurva titrasi dapat dilihat dari gambar dibawah ini. Gambar dibawah ini menunjukkan kurva titrasi 25 mL larutan MX (dengan X adalah Cl, I, dan Br) dengan 0,05 M AgNO3. Dapat dilihat bahwa semakin kecil harga Ksp untuk AgI maka kurvanya akan semakin curam sedangkan semakin besar harga Ksp untuk AgCl maka kurvanya semakin landai. Satu hal lagi manfaat dari kurva titrasi adalah selain dapat dipakai untuk mencari titik ekuivalen maka kurva titrasi juga dapat dipakai untuk mencari konsentrasi kation dan anion disetiap titik dimana titrasi berlangsung.

 

 

 

 

 

 

 

  1. B. Metode Penentuan Titik Akhir Titrasi Argentometri

Argentometri dibedakan menjadi 3 macam metode berdasar indikator yang dipakai untuk penentuan titik akhir, yaitu metode Mohr, Volhard, dan Fajans.

  1. Metode Mohr

Metode ini didasarkan pada pembentukan endapan berwarna. Konsentrasi ion klorida dalam suatu larutan dapat ditentukan dengan cara titrasi dengan larutan standart perak nitrat. Endapan putih perak klorida akan terbentuk selama proses titrasi berlangsung dan digunakan indikator larutan kalium kromat encer. Setelah semua ion klorida mengendap maka kelebihan ion Ag+ pada saat titik akhir titrasi dicapai akan bereaksi dengan indikator membentuk endapan coklat kemerahan Ag2CrO4.

Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

Ag+(aq) +  Cl(aq) AgCl(s) (endapan putih)

Ag+(aq) +  CrO42-(aq) Ag2CrO4(s) (coklat kemerahan)

Konsrentrasi CrO42- yang ditambahkan sebagai indikator harus diperhatikan, yakni dihitung berdasarkan Ksp AgCl dan Ksp Ag2CrO4.

Berapakah CrO42- yang harus ditambahkan agar endapan Ag2CrO4 terbentuk tepat pada titik ekivalen? Pada saat itu

[Ag+] = [Cl] =

=

= 1,33 x 10-5

Dan jika menginginkan Ag2CrO4 harus mengendap pada titik ekivalen, maka kesetimbangan kedua reaksi di atas harus berlangsung secara spontan. Karena Ag+ merupakan ion senamam, maka [Ag+] berlaku pada kedua kesetimbangan sekaligus. Sehingga

Ksp Ag2CrO4 = [Ag+]2 [CrO42-] = 1,29 x 10-12

karena [Ag+] = 1,33 x 10-5 (dari perhitugan sebelumnya) maka

[CrO42-] = 1,29 x 10-12 : (1,33 x 10-5)

= 0,0072 M

Namun, dalam penggunaan yang sesungguhnya konsentrasi ini terlalu besar, karena warna K2CrO4 terlalu kuning sehingga mengakibatkan perubahan warna pada titik akhir titrasi sulit diamati. Jadi, harus menggunakan konsentrasi yang lebih rendah (2,5 x 10-3 M adalah konsentrasi yang sekiranya tepat). Tetapi, karena [CrO42-] ini diturunkan maka diperlukan [Ag+] yang lebih besar(>1,33 x 10-5) untuk dapat menghasilkan endapan merah sebagai indikator.

Pengaturan PH juga sangat diperlukan. PH sebaiknya tidak terlalu rendah ataupun terlalu tinggi. Jika PH terlalu rendah ion CrO42- sebagian berubah menjadi Cr2O72- yang mengurangi konsentrasi indikator dan menyebabkan tidak timbulnya endapan atau sangat terlambat.

2CrO42- + 2H+ 2HCrO4 Cr2O72- + H2O

Jika terlalu tinggi akan terbentuk endapan AgOH(coklat) sehingga akan menghalangi pengamatan titik akhir titrasi. Selain itu AgOH selanjutnya akan terurai menjadi Ag2O sehingga titrant terlalu banyak terpakai.

2Ag+ + 2OH 2AgOH            Ag2O + H2O

Selain itu, yang harus diperhatikan adalah perlakuan terhadap larutan. Selama proses titrasi sebaiknya larutan harus diaduk dengan baik. Bila tidak, maka secara lokal terjadi kelebihan titrant yang menyebabkan indikator mengendap sebelum titik ekivalen tercapai yang menyebabkan pengamatan titik akhir tidak tepat.

Penggunaan metode Mohr sangat terbatas jika dibandingkan dengan metode Volhard dan Fajans dimana dengan metode ini hanya dapat dipakai untuk menentukan konsentrasi ion Cl, CN, dan Br.

Titrasi argentometri dengan metode Mohr banyak dipakai untuk menentukan kandungan klorida dalam berbagai contoh air, misalnya air sungai, air laut, air sumur, air hasil pengolahan industri sabun, dan sebagainya.

  1. Metode Volhard

Metode Volhard didasarkan pada pembentukan larutan senyawa kompleks berwarna. Pada metode Volhard ini menggunakan NH4SCN/KSCN sebagai titrant, dan larutan Fe3+ sebagai indikator. Pada saat titik ekivalen terjadi reaksi antara titrant dengan Ag+ membentuk endapan putih. Sedikit kelebihan titrant akan bereaksi dengan indikator, membentuk ion kompleks berwarna merah yang menyebabkan larutan menjadi merah. Raksi yang terjadi adalah sebagai berikut :

Ag+(aq) + SCN(aq) → AgSCN(s) (endapan putih)

Fe3+(aq) + SCN(aq) → Fe(SCN)2+ (kompleks berwarna merah)

Namun, jika dilihat dari titrant(SCN) dan reaksinya yang berlangsung dengan Ag+, maka dengan cara ini hanya dapat digunakan penentuan Ag+ atau SCN, sedangkan untuk anion lain harus menggunakan titrasi kembali atau bisa dikatakan titrasi tidak langsung.

Penentuan dengan titrasi kembali ini dilakukan dengan cara pada larutan analit ditambahkan Ag+ secara berlebih, kemudian kelebihan konsentrasi larutan Ag+ dititrasi dengan SCN dengan menggunakan indikator Fe3+. Ion besi ini akan bereaksi dengan ion tiosianat membentuk kompleks yang berwarna merah.  Sebagai contoh dalam penetapan Cl , maka reaksinya sebagai berikut :

Ag+(aq) + Cl(aq) AgCl(s) (endapan putih)

Ag+(aq) + SCN(aq) AgSCN(s) (endapan putih)

Fe3+(aq) + SCN(aq) Fe(SCN)2+ (kompleks berwarna merah)

Anion lain seperti bromida, dan iodida dapat ditetapkan dengan prosedur yang sama. Anion asam lemah, seperti oksalat, karbonat, dan arsenat, yang garam-garam peraknya dapat larut dalam asam dapat ditetapkan dengan pengendapan pada PH yang lebih tinggi dan penyaringan garam peraknya. Endapan itu kemudian dilarutkan ke dalam asam nitrat dan peraknya dititrasi langsung dengan tiosianat.

Kenapa pada metode volhard ini digunakan dalam larutan asam? Karena memang diinginkan menggunakan medium asam untuk mencegah hidrolisis indikator ion Fe3+ yang ditakutkan muncul endapan Fe(OH)3.

Dalam titrasi langsung perak dengan tiosianat, terdapat dua sumber galat. Pertama AgSCN(s) mengadsorpsi ion perak pada permukaannya, sehingga menyebabkan titik akhir terjadi terlalu dini.  Hal ini bisa diatasi dengan mengaduk dengan kuat campuran itu di dekat titik akhir. Kedua, perubahan warna yang menandai titik akhir terjadi pada konsentrasi tiosianat yang sedikit melebihi konsentrasi pada titik ekivalen, jadi harus berhati-hati dan teliti.

Dalam titrasi tak langsung dijumpai galat yang lebih serius, jika garam perak dari anion yang akan ditetapkan itu lebih mudah larut daripada perak tiosianat. Contoh :

Ag+(aq) + Cl(aq) AgCl(s)

Ag+(aq) + SCN(aq) AgSCN(s)

AgCl(s) + SCN(aq) AgSCN(s) + Cl

AgCl lebih mudah larut daripada AgSCN, dan klorida itu cenderung melarut kembali menurut reaksi. Jadi, tiosianat(SCN) tidak hanya dihabiskan oleh perak yang berlebih, tetapi oleh endapan perak klorida itu sendiri. Jika ini terjadi, kesalahan titrasi akan semakin besar. Untuk mengatasi hal ini bisa dengan menyaring AgCl atau dengan menambahkan nitrobenzena sebelum titrasi dengan tiosianat. Nitrobenzena ini akan membentuk suatu salut minyak pada permukaan AgCl, sehingga menghindari adanya reaksi dengan tiosianat. Salah satu cara lain yaitu dengan menggunakan ion Fe3+ yang konsentrasinya cukup tinggi (±0,2M) sehingga titik akhir dicapai pada pada konsentrasi tiosianat yang lebih rendah. Sehingga AgCl yang melarut kembali lebih sedikit dan masih terdapat konsentrasi yang cukup tinggi dari kompleks FeSCN2+ merah untuk bisa tampak.

Dalam penetapan bromide dan Iodida dengan metode volhard secara tak langsung ini, reaksi dengan tiosianat tidak menimbulkan kesulitan karena AgBr hamper mempunyai kelarutan yang sama dengan AgSCN, dan untuk AgI kelarutannya lebih rendah dari AgSCN.

  1. 3. Metode Fajans

Dalam metode ini digunakan indikator adsorpsi. Indikator adsorpsi adalah zat yang dapat diserap pada permukaan endapan dan menyebabkan timbulnya warna. Penyerapan ini dapat diatur agar terjadi pada titik ekivalen yakni dengan memilih indikator dan mengatur PHnya.

Mekanisme kerja indikator ini adalh sebagai berikut : indikator ini adalah asam lemah atau basa lemah organik yang dapat membentuk endapan dengan ion perak. Sebagai contoh fluoresein yang digunakan dalam titrasi klorida. Bila perak nitrat ditambahkan ke dalam larutan natrium klorida, maka terbentuk endapan koloid AgCl. Endapan ini terdapat dalam lingkungan dimana masih ada kelebihan ion Clֿ dibandingkan dengan ion Ag+. Maka endapan menyerap ion-ion Clֿ, sehingga butiran-butiran koloid bermuatan negatif. Karena muatan indikator FIֿ juga negatif, maka FIֿ tidak terserap oleh koloid tersebut. Penambahan titran kembali akan menyebabkan kelebihan Clֿ berkurang. ion Clֿ (yang terserap endapan) akan lepas dan bereaksi dengan Ag+ yang ditambahkan, sehingga muatan koloid berkurang negatif.

Saat tercapai titik ekivalen, maka tidak ada kelebihan Clֿ atupun Ag+, sehingga koloid bersifat netral. Setetes titran kemudian menyebabkan kelebihan Ag+. In-ion Ag+ ini kemudian diserap oleh koloid, sehinggakoloid bermuatan positif dan selanjutnya dapat menarik ion FIֿ yang menyebabkan warna endapan menjadi merah muda.

 

 

Ada hal-hal yang harus diperhatikan pada metode ini, antara lain :

  • Permukaan partikel ini merupakan zat aktif dalam operasi indikator ini, endapan tidak boleh berkoagulasi menjadi partikel yang besar dan mengendap ke dasar labu. Koagulasi endapan perak klorida terjadi pada titik ekivalen, dimana baik ion klorida ataupun perak tidaklah berlebih, kecuali jika ada zat seperti dkstrin. Dekstrin bertindak sebagai “koloid protektif”.
  • Suatu indikator haruslah dipilih agar teradsorpsi tidak terlalu kuat ataupun terlalu lemah. Adsorpsi yang ideal hendaknya mulai tepat sebelum tercapainya titik ekivalen dan meningkat dengan cepat pada titik ekivalen. Ada beberapa indikator yang teradsorpsi sangat kuat sehingga mereka benar-benar menggantikan ion yang teradsorpsi primer sebelum titik ekivalen tercapai. Misalnya eosin tidak dapat digunakan untuk titrasi klorida dengan ion perak karena efek ini. Eosin dapat digunakan untuk titrasi iodide dan bromide dengan perak, karena kedua anion ini teradsorpsi begitu kuat sehingga eosin tak dapat menggesernya. Sebaliknya, jika indikator terlalu lemah, titik akhir akan terjadi setelah titik ekivalen terlampaui.
  • Indikator adsorpsi adalah asam lemah atau basa lemah, karena itu pH medium titrasi bersifat penting. Misalnya, tetapan disosiasi fluoresein kira-kira 10-7, dalam larutan yang lebih asam dari pH=7, konsentrasi anion FI begitu kecil, sehingga tak tampak perubahan warnanya. Fluoresein hanya dapat digunakan dalam jangka pH 7 s.d. 10.
  • Sebaiknya ion indikator dan ion yang ditambahkan sebagai titrant berlawanan muatannya. Sehingga adsorpsi indikator itu tidak akan terjadi sebelum terdapat kelebihan titrant.

Salah satu kesulitan dalam menggunakan indikator adsorpsi adalah banyak diantara zat warna tersebut membuat endapan perak menjadi peka terhadap cahaya(fotosensitifasi) yang menyebabkan endapan terurai.

 

Daftar beberapa indikator absorbsi dan penggunaannya diberikan dalam tabel berikut:

 

Indikator Penggunaan Perubahan warna pada titik akhir Data lain
Fluorescein Cl, Br, I Hijau kekuningan → merah muda Larutan harus netral / basa lemah atau pH=7-8
Dichloro-(R)-fluorescein Cl, Br ,BO3 Hijau kekuningan → merah Jangka pH berguna  4,4 to 7
Eosin

(tetrabromo-(R)-fluorescein)

Br, I ,SCN Pink → ungu kemerahan Terbaik dalam larutan asam asetat, pH = 1-2
Dikloro-(P)-tetraiodo-(R)-flourosein

(Bengali Ros)

I, dengan adanya Cl, dengan Ag+ Merah → lembayung Cermat jika ditambahkan (NH4)2CO3
di-iodo-(R)-dimetil-(R)-flourosein I dengan Ag+ Merah jingga → biru merah Jangkau pH = 4-7
Natrum alizarin sulfonat (merah alizarin S) [Fe(CN)]4-,[MoO4]2- dengan Pb2+ Kuning → merah muda Larutan netral
Rodamina 6G Ag+ dengan Br Jingga merah muda → Terbaik dalam HNO3 encer (sampai 0,3 M)
Fenosafranina Br, I dengan Ag+

Ag+ dengan Br

Endapan merah→endapan biru

Endapan biru → endapan merah

Perubahan warna endapan reversible tajam hanya jika ada NO3, toleransi sampai 0,2 M HNO3
  Cara Mohr Cara Volhard Cara Fajans
Prinsip dasar Titrasi larutan Ion Cl oleh larutan baku AgNO3 Larutan sampel Cl, Br, I/SCN diperlakukan dengan larutan baku AgNO3 berlebih. Kelebihannya dititrasi kembali dengan KSCN. Larutan sampel  Cl, Br, Idan SCNdititrasi dengan larutan baku AgNO3
Indikator Larutan K2CrO4 larutan Fe3+/ lar Fe2+ Indikator adsorpsi seperti cosin, flourosein, diflourosein
Persamaan  reaksi Ag+ + Cl AgCl

Ag+ + CrO4 Ag2CrO4

(Coklat kemerahan)

Ag++ X AgX

Ag+ + SCN AgSCN

Fe3+ + SCN Fe(SCN)2+ (merah darah)

Ag+ + X AgX

AgX // Ag + cosin

AgX/Ag-cosinat

(biru kemerahan)

Rangkuman cara Mohr, Vohard, dan Fayans dapat kita lihat dalam table di bawa ini:

Syarat [CrO4] ≤ 2,5 x 10-3 M

If [CrO4 ]> 2,5×10-3 M

Terjadi sebelum TE

PH = 6-10

Jika PH < 6 [CrO4-] berkurang.

2H++CrO4 2HCrO4

Cr2O72- +H+

Jika PH > 10, akan berbentuk AgOH/Ag2O

Dilakukan dalam suasana asam, karena jika tidak  Fe3+ akan terhidrolisis membentuk endapan Fe(OH)3 Endapan harus dalam bentuk koloid.
Pemilihan indikator dan penyesuaian pH sangatlah penting.
Penggunaan Penentuan Cl atau Br, Idan SCN- terabsobrpsi kuat oleh endapan. Penentuan  Cl, Br, Idan SCN Penentuan  Cl, Br, Idan SCN

 


Contoh Perhitungan

  1. Satu gram sampel larutan garam klorida dianlisis dengan cara Mohr memerlukan 31 mL 0,11 M larutan AgNO3. Dalam percobaan ini 1 gram sampel dianalisa dengan cara Fayans mennunakan dikloro flourosein. Pada pH = 7 memerlukan 31,5 mL 0,105 AgNO3. Hitung % klorida (Ar Cl = 35,453 mg/mmol) dalam kedua sampel diatas. Jika %  klorida beda, apa saran anda agar kedua hasilnya akurat! Mengapa?
  2. Hitung % Br jika 1,0 gram sampel garam klorida dianalisis dengan Volhard. Pada cara ini digunakan 50 mL 0,1 M AgNO­3 sesudah semua Br mengendap kelebihan ion Ag+ dititrasi kembali dengan 15,0 mL 0,08 M Kalium tiosianat.

(Ar Br = 79,9 mg/mmol)

Penyesaian

1)      Soal ini dapat di selesaikan dengan 2 cara yaitu:

–          Cara Mohr

% Cl 100%

% Cl 100%

% Cl

 

–          Cara Fajans

% Cl 100%

 

% Cl 100%

% Cl

Supaya hasil keduanya akurat maka pH dari dikloroflorosein harus kurang dari sama dengan 4.

 

2)      % Br 100%

%Br 100%

% Br

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: