Perkembangan Peserta Didik Periode Sekolah Menengah Atas (SMA)

Perkembangan Peserta Didik Periode Sekolah Menengah Atas (SMA)
Psikolog memandang anak usia SMA sebagai individu yang berada pada tahap yang tidak jelas dalam rangkaian proses perkembangan individu. Ketidakjelasan ini karena mereka berada pada periode transisi, yaitu dari periode kanak-kanak menuju periode orang dewasa. Pada masa tersebut mereka melalui masa yang disebut masa remaja atau pubertas. Umumnya mereka tidak mau dikatakan sebagai anak-anak tapi jika mereka disebut sebagai orang dewasa, mereka secara riil belum siap menyandang predikat sebagai orang dewasa.
Ada perubahan-perubahan yang bersifat universal pada masa remaja, yaitu meningginya emosi yang intensitasnya bergantung pada tingkat perubahan fisik dan psikis, perubahan tubuh, perubahan minat dan peran yang diharapkan oleh kelompok sosial tertentu untuk dimainkannya yang kemudian menimbulkan masalah, berubahnya minat, perilaku, dan nilai-nilai, bersikap mendua (ambivalen) terhadap perubahan.
Perubahan-perubahan tersebut akhirnya berdampak pada perkembangan fisik, kognitif, afektif, dan juga psikomotorik mereka.

  1. 1. Perkembangan Fisik

Pada usia anak SMA terjadi pertumbuhan fisik yang sangat pesat. Tidak hanya ppada anggota tubuh tertentu tetapi juga proporsi tubuh yang semakin besar. Pada perkembangan seksualitas anak SMA ditandai  dua ciri yaitu seks primer dan seks sekunder.

  1. Seks primer

Pada siswa laki-laki SMA ditandai dengan semakin besarnya ukuran testis, pembuluh mani dan kelenjar prostat semakin besar sehingga organ seks semakin matang (lebih matang dari anak SMP). Pada siswi SMA tumbuhnya rahim, vagina , dan ovarium yang semakin matang, hormon-hormon yang diperlukan dalam prooses kehamilan dan menstruasi semakin banyak.

 

  1. Seks sekunder

Pada siswa laki-laki SMA ditandai dengan tumbuhnya kumis, bulu disekitar kemaluan dan ketiak serta perubahan suara, semakin besarnya jakun. Pada siswa perempuan ditandai dengan tumbuhnya rambut pubik atau bulu  disekitar kemaluan dan ketiak, bertambah besarnya buah dada,bertambah besarnya pinggul

 

  1. 2. Perkembangan Sosial

Pada usia anak  SMA terjadi perkembangan sosial yaitu kemampuan untuk memahami orang lain. Anak usia SMA memahami orang lain sebagai individu yang unik baik menyangkut sifat pribadi, minat nilai-nilai maupun perasaanya. Pemahaman ini mendorong mereka untuk menjalin hubungan sosial yang lebih akrab dengan orang lain (terutama teman sebaya), baik melalui jalinan persahabatan maupun percintaan.

Dalam hubungan persahabatan anak usia SMA memilih teman yang memiliki kualitas psikologis yang relatif sama dengan dirinya, baik menyangkut interest, sikap, nilai, dan kepribadian. Pada masa ini juga berkembang sikap  conformity yaitu kecenderungan untuk mengikutu opini, kebiasaan, dan keinginan orang lain (teman sebaya). Perkembangan sikap imi dapat memberikan dampak positif dan negatif bagi dirinya.

Anak usia SMA mencapai perkembangan sosial yang matang, dalam arti memiliki penyesuaiaan sosial yang tepat. Penyesuaiaan sosial yang tepat ini dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mereaksi secara tepat terhadap realitas sosial, situasi, dan relasi.

Karakteristik penyesuaian anak usia SMA di tiga lingkungan adalah sebagai berikut:

  1. Lingkungan Keluarga
    1. Menjalin hubungan yang baik dengan anggota keluarga
    2. Menerima otoritas orang tua
    3. Menerima tanggung jawab dan batasan-batasaan keluarga
    4. Berusaha untuk membantu keluarga sebagai individu ataupun kelompok dalam mencapai tujuan

 

  1. Lingkungan Sekolah
    1. Bersikap respek dan mau menerima peratuaran sekolah
    2. Berpartisipasi dalam kegiatan sekolah
    3. Menjalin persahabatan dengan teman-teman di sekolah
    4. Bersikap hormat terhadap guru, pemimpin sekolah, dan staf  lainnya
    5. Membantu sekolah dalam merealisasikan tujuan-tujuannya

 

  1. Lingkungan Masyarakat
    1. Mengakui dan respek terhadap hak-hak orang lain
    2. Memelihara jalinan persahabatan dengan orang lain
    3. Bersikap simpati terhadap kesejahteraan orang lain
    4. Bersikap respek terhadap nilai-nilai, hukum, tradisi, dan kebijakan-kebijakan masyarakat

 

  1. 3. Perkembangan aspek psikomotorik
    Kemampuan psikomotorik ini berkaitan dengan keterampilan motorik yang berhubungan dengan anggota tubuh atau tindakan yang memerlukan koordinasi antara syaraf dan otak. Untuk jenjang Pendidikan SMA, mata pelajaran yang banyak berhubungan dengan ranah psikomotor adalah pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, seni budaya, fisika, kimia, biologi, dan keterampilan. Dengan kata lain, kegiatan belajar yang banyak berhubungan dengan ranah psikomotor adalah praktik di aula/lapangan dan praktikum di laboratorium. Dalam kegiatan-kegiatan praktik itu juga ada ranah kognitif dan afektifnya, namun hanya sedikit bila dibandingkan dengan ranah psikomotor.Perkembangan psikomotorik yang dilalui oleh peserta didik SMA memiliki kekhususan yang antara lain ditandai oleh perubahan-perubahan ukuran tubuh, ciri kelamin yang primer, dan ciri kelamin yang sekunder. Perubahan-perubahan tersebut dikelompokkan dalam dua kategori besar, yaitu percepatan pertumbuhan dan proses kematangan seksual yang bersifat kualitatif dan kuantitatif.
    Perubahan-perubahan fisik tersebut merupakan gejala umum dalam pertumbuhan peserta didik SMA. Perubahan-perubahan fisik tersebut bukan hanya berhubungan dengan bertambahnya ukuran tubuh dan berubahnya proporsi tubuh saja, akan tetapi juga meliputi ciri-ciri yang terdapat pada kelamin primer dan sekunder. Perubahan-perubahan tersebut pada umumnya mengikuti irama tertentu. Hal ini terjadi karena pengaruh faktor keluarga, gizi, emosi, jenis kelamin, dan kesehatan.
    Peubahan-perubahan yang dialami peserta didik SMA mempengaruhi perkembangan tingkah laku yang ditampakkan pada perilaku yang canggung dalam proses penyesuaian diri mereka, isolasi diri dan kelompok dari pergaulan, perilaku emosional, imitasi berlebihan, dan lain-lain

ETOLOGI

ETOLOGI

1 . Definisi

Etologi adalah disiplin ilmu yang mempelajari perilaku binatang dan manusia, terutama yang berkaitan erat  dengan fungsi perilaku serta mempelajari pengaruh yang  ditimbulkannya terhadap perilaku yang didasarkan atas  variabel variabel ekologis, psikologis, dan genetik  dengan menggunakan metodologi yang terdapat dalam  semua cabang disiplin biologi.

2 . Penyebab Timbulnya Perilaku Manusia

1. Bersifat bawaan

Perilaku bawaan atau innate adalah perilaku yang bersifat tetap dari sisi perkembangan.

Pokok utama dari perilaku bawaan adalah bahwa kisaran perbedaan lingkungan pada individu kelihatannya tidak mengubah perilaku (dari semua kajian hingga saat ini)

 

2. Diperoleh dari hasil belajar

Pembelajaran didefinisikan sebagai  perubahan perilaku sebagai  akibat dari  pengalaman  spesifik. Meskipun tingkah laku manusia bersifat bawaan, namun pengalaman ikut terlibat.

3 . Perilaku Individu

3.1 BAWAAN SEJAK LAHIR

Perilaku bawaan yang mengikuti perintah yang tak  berubah-ubah dan sering diperlihatkan dalam bahasa tubuh.

Contoh: seorang bayi yang menangis sebagai ekspresi membutuhkan perlindungan sang ibu.

3.2 BELAJAR

3.2.1 IMPRINTING

Imprinting merupakan tipe atau model belajar yang sangatcepat dan tidak dapat terlupakan yang menempati tahapan-tahapan penjajakan awal.

Contoh : Bayi yang baru lahir secara refleks akan  mencari putting susu ibunya.

3.2.2 HABITUATION

Habituation= pembiasaan

Habituation merupakan suatu kemampuan dari hewan dan manusia untuk menggunakan tipe atau model khusus suatu rangsangan. Hewan dan manusia akan berhenti merespon suatu rangsang saat mereka belajar bahwa hal tersebut tidak berbahaya.

Contoh: Anak akan berhenti menangis jika ia sudah mengenal teman – teman baru di kelasnya.

3.2.3 TRIAL AND ERROR

Trial and error secara bahasa  berarti mencoba dan  belajar dari  kesalahan.  Bila rangsang bersifat  positif atau tidak berbahaya maka  manusia akan terus  melakukan respon yang sama. Bila  rangsang  bersifat negatif atau berbahaya maka manusia tersebu akan  menghindar dan berhenti  melakukan  respon.

Contoh

seorang anak tidak akan hujan-hujanan karena ini termasuk pengalaman si anak agar menghindari hal tersebut karena akan berakibat sakit.

3.2.4 CLASSICAL CONDITION

Merupakan suatu bentuk proses belajar dengan  manggabungkan stimulus baru dengan stimulus alami  sebagai respon perkembangan normal. Kejadian  berulang pada stimulus baru dengan digabungkan  stimulus alami akan menghasilkan suatu  proses belajar  yang akan menggantikan respon normalnya dengan  bentuk yang  baru. Tapi kejadian tersebut harus  berlaku secara periodik atau manusia akan  berhenti  merespon.

Contoh: dilatihnya seorang batita yang pada awalnya meminum ASI untuk beralih meminum air susu dalam botol.

3.2.5 INSIGHT

Insight = wawasan atau pengetahuan.

manusia mempunyai kemampuan berfikir dapat mengenali  suatu masalah dan mencari pemecahannya. Hal tersebut  adalah kemampuan manusia dalam  membentuk suatu  pemikiran yang benar atau perlakuan yang pantas yang  perlu dilakukannya pada saat pertama kali mencoba,  tanpa melihat kondisi yang spesifik.

ex : ketika bayi dirangsang dengan mainan yang diletakkan cukup jauh dari jangkauannya maka ia akan berusaha untuk meraih benda itu. misalnya dengan cara merangkak.

4 .Perilaku Sosial

perilaku yang dilakukan manusia untuk berkomunikasi  atau berinteraksi satu sama lain.

4.1 KOMPETITIF

Dapat dilakukan oleh individu yang satu dengan individu yang lain. Terjadi bila antara 2 atau lebih individu berada pada  tempat yang sama, di waktu yang sama, dan dengan tujuan yang  sama pula. contoh: kompetisi atau persaingan antar siswa dalam suatu kelas.

4.2 MENGANCAM

Inti perilaku mengancam adalah berusaha menakut-nakuti individu lain.

contoh: seorang ibu yang memberikan ancaman kepada anaknya sebagai bentuk peringatan.

4.3 SUBMISSIVE

Adalah perilaku dimana manusia akan menghindar dari pertengkaran.

contoh: seorang kakak yang mengalah kepada sang adik saat memperebutkan mainan.

4.4 REPRODUKSI

Dilakukan oleh manusia untuk menarik perhatian lawan jenisnya.

contoh: remaja putri mulai belajar bersolek ketika ia mulai tertarik dengan lawan jenisnya.

4.5 PERINDUKAN DAN ALTRUISME

Altruisme= perilaku orang tua untuk melindungi anaknya.

contoh: ibu selalu mengatur pola makan anaknya yang bertujuan untuk menjaga kesehatan sang anak.

4.6 KELOMPOK

Beberapa individu membentuk kelompok sementara  ataupun tetap dengan anggota- anggota individu yang lain.

contoh: terdapatnya beberapa siswa yang membentuk genk atau kelompok sepermainan.

5 .Metode Penelitian

Pengamatan pada seting ilmiah, para ahli etologis cenderung memberontak terhadap penelitian dibawah kondisi (conditioning) laboratorium yang dikendalikan secara ketat.

6 .Sejarah

Konrad Lorenz (1903-1989) seorang mahasiswa yang memelopori lapangan ilmu etologi, melalui penelitian yang sebagian besar dilakukan dengan angsa abu-abu. Lorenz menggambarkan angsa abu-abu yang diimprint, belajar cepat dan alamiah dalam suatu periode penting (kritis) yang meliputi kedekatan dengan obyek yang terlihat bergerak pertama kali. Lorenz mempelajari suatu pola perilaku yang dianggap diprogramkan di dalam gen burung dan hasil penelitiannya cenderung melawan teori “gen”.

 

 

Perkembangan kepribadian

Perkembangan kepribadian

Setiap individu memiliki ciri  atau sifat atau karakterisitik  bawaan (heredity) dan  karakteristk yang diperioleh dari  lingkungan. Apa yang dipikirkan  dan dikerjakan seseorang, atau  apa yang dirasakan oleh anak,  atau remaja atau dewasa  merupakan hasil perpaduan  antara apa yang ada di antara  faktor-faktor biologis yang  diturunkan dan pengaruh- pengaruh lingkungan.

1 Nature

Nature merupakan aspek yang  mempengaruhi karakteristik  individu yang didasarkan pada  gen dan karakteristik dasar (yang  ada sejak lahir) pada diri manusia.

1.1 Seleksi dan kombinasi gen

Organisme yang baru, mewarisi  potensi  perkembangan tertentu  dari orang  tuanya.Keterampilan  dan sikap yang  dimiliki sejak  lahir, merupakan pewarisan  dari  orang tua serta pengatahuan yang  diperoleh sesuai dengan  kapasitas  belajarnya dan  distimulus oleh  lingkungan  disekitarnya.

1.1.1 Gen dominan

Pada umumnya ada gen yang  lebih kuat  daripada gen yang lain.  sifat dari gen  yang lebih kuat ini  tampak lebih banyak  daripada  yang lemah. Namun terjadi  penyimpangan-penyimpangan  yang  disebabkan adanya dua gen  dominan  yang saling menutupi.  Lalu sifat yang  ditimbulkan oleh  gen-gen dominan itu  terjadi  kombinasi. Selain itu sufat yang  ditampakkan juga sangat  dipengaruhi  oleh lingkungan.

1.1.2 Nutrisi

mempengaruhi perkembangan  bayi  dalam kandungan.  kemampuan dasar  yang dimiliki  seorang anak dipengaruhi  oleh  asupan nutrisi yang dikonsumsi  oleh  ibu. namun hal itu tidak dapat  dipertahankan, karena pengaruh  dari  faktor-faktor luar.

2 Nurture

Nurture merupakan aspek yang  mempengaruhi karakteristik  individu yang didasarkan pada  proses belajar dan pengalaman.

2.1 Pengaruh rumah tangga

suatu faktor yang umumnya diakui  adalah pola-pola kelakuan dan sikap  dasar seseorang dibentuk dirumah  selama tahun-tahun pertama. Anak yang  kecil itu dipengaruhi secara langsung  atau tidak langsung oleh jenis rumah  tangga tempat ia lahir dan dibesarka.  Status sosial ekonomi dan pendidikan  keluarga menentukan jumlah dan jenis  pengalaman serta situasi yang tersedia  untuk perkembangan alat-alat organisnya.

faktor pengaruh rumah tangga lain yang  penting meliputi :

1. posisi anak itu antara adik dan  kakaknya atau statusnya sebagai anak  tunggal.

2. apakah rumah tangga itu diasuh kedua  orang tuanya atau rumah tangga itu  hanya ayah ibunya bercerai.

3. tingkat konsisten orang tua dalam  memperlakukannya.

2.2 Lingkungan tetangga

minat yang sedang berkembang pada  seorang anak ditentukan oleh  pengalaman-pengalaman oleh lingkungan  tetangganya. konsentrasi rasial didalam  lingkungan tetangga seorang anak  mengindoktrinasinya didalam tradisi- tradisi kebiasaan-kebiasaan dan  kepercayaan-kepercayaan yang  merupakan sifat khas dari kelompok itu.  seorang anak biasanya mengalami  kesukaran-kesukaran penyesuaian sosial  apabila dia berada di lingkungan yang  menuntutnya memodifikasi kelakuan dan  kebiasaannya.

2.3 Sekolah

mulainya anak bersekolah merupakan  suatu titik penting dalam proses  perkembangannya. selama pengalaman  pada permulaaan sekolahnya, tingkatan  sukses yang dicapai oleh seorang anak  dalam mengembangkan potensi-  potensinya tergantung sebagian pada  jenis interaksi antara kelengkapan  organis dan kekuatan stimulasi  lingkungan untuk sebagian yang lain  pada pengertian guru akan kapasitas  keturunannya dan pola kebiasaan  kelakuannya.

2.4 Masyarakat

masyarakat memiliki pola fikir yang  berbeda antara masyarakat yang satu  dan yang lain. misalnya antara  masyarakat desa dan masyarakat kota.  setiap orang yang menjadi bagian dari  masyarakat kota dituntut untuk berpikir  cerdas dan inovatif dalam  mempertahankan hidupnya. seseorang  yang tidak memiliki daya saing yang  tinggi akan tersingkir dengan sendirinya.  sedangkan masyarakat desa sebagian  tidak menuntut warganya untuk belajar  dan berpikir kritis karena pola pikir  mereka hanya berusaha mengikuti apa  yang ditinggalkan nenek moyang.  Sehingga orang yang terbiasa hidup di  desa akan kesulitan untuk bersaing  dengan yang lainnya apabila hidup di  kota.

 

 

Perkembangan Bahasa

Perkembangan Bahasa

 

BAHASA

¨  Bahasa adalah segala bentuk komunikasi di mana pikiran dan perasaan seseorang disimbolisasikan agar dapat mcnyampaikan arti kepada orang lain

 

PERKEMBANGAN BAHASA

¨  Perkembangan bahasa dimulai dari tangisan pertama hingga bisa bertutur kata

¨  Perkembangan Bahasa terbagi 2 periode:

¨  Periode prelinguistik (0-1th)

¨  Periode Linguistik (1-5th)

 

Periode Pre-linguistik

¨  Suara pertama sbg dasar Fisiologis-biologis, merupakan proses emosional.

¨  Rasa nyaman dan tidak nyaman ditentukan oleh faktor fisiologis, namun mempunyai arti emosional

¨  Suara pertama yang dikeluarkan: a, e, I, o, u (huruf Vocal) dan huruf konsonan (b, p, n, k, g, r)

Periode Linguistik (1-5 tahun), dibagi dalam 3 fase:

¨  Fase satu kata atau Holofrase

Pada fase ini anak mempergunakan satu kata untuk menyatakan pikiran yang kompleks, baik yang berupa keinginan, perasaan atau temuannya tanpa perbedaan yang jelas.

Misalnya kata duduk, bagi anak dapat berarti “saya mau duduk”, atau kursi tempat duduk, dapat juga berarti “mama sedang duduk”

 

¨  Fase lebih dari satu kata

Pada fase ini anak sudah dapat mcmbuat kalimat sederhana yang terdiri dari dua kata. Kalimat tersebut kadang-kadang terdiri dari pokok kalimat dan predikat, kadang-kadang pokok kalimat dengan obyek dengan tata bahasa yang tidak benar.

kmd 3, 4 kata dst..

¨  fase diferensiasi

Keterampilan anak dalam berbicara mulai lancar dan berkembang pesat.

Anak telah mampu mempergunakan kata ganti orang “saya” untuk menyebut dirinya, mampu mempergunakan kata dalam bentuk jamak, awalan, akhiran dan berkomunikasi lebih lancar lagi dengan lingkungan.

Anak mulai dapat mengkritik, bertanya, menjawab, memerintah, memberi tahu dan bentuk-bentuk kalimat lain dengan  pembicaraan “gaya” dewasa.

 

Fungsi Bicara:

¨  Sebagai pemuas kebutuhan dan keinginan

¨  Sebagai alat untuk menarik perhatian orang lain

¨  Sebagai alat untuk membina hubungan sosial

¨  Sebagai alat untuk mengevaluasi diri sendiri

¨  Untuk dapat mcmpengaruhi pikiran dan peiasaan orang lain

¨  Untuk mempengaruhi perilaku orang lain

 

 

 

 

 

 

Potensi Anak Berbicara Didukung oleh Beberapa Hal

¨  Kematangan alat berbicara
Misalnya tenggorokan, langit-langit, lebar rongga mulut dan Iain-lain

¨  Kesiapan berbicara
Kesiapan dimaksud biasanya dimnlai sejak anak berusia antara 12-18 bulan, yang discbut teachable moment

¨  Adanya model yang baik untuk dicontoh oleh anak

¨  Kesempatan berlatih

¨  Motivasi untuk belajar dan berlatih

¨  Bimbingan

Penelitian Neurofisiologis

¨  Menunjukkan, belajar bicara dan perkembangan struktur neural yang spesifik yang berhubungan dengan bahasa mempunyai lokalisasi terutama dalam hepisfer otak bagian kiri.

¨  Jika terjadi kerusakan —àpengaruh buruk terhadap kemungkinan belajar bicara

¨  Jika kerusakan sangat awal, maka hemisfer kanan mengambil alih fungsi.

 

Metode dan instrumen riset perkembangan

Metode dan instrumen riset perkembangan

Jenis metode:

ž  Metode Observasi

ž  Metode Eksperimen

ž  Metode klinis

ž  Metode Longitudinal

ž  Metode Cross sectional

ž  Metode Differensial

ž  Metode Cross cultural
1.  Metode Observasi

Melakukan pengamatan semu tingkah laku yang terlihat pada suatu jangka waktu  tertentu atau pada suatu tahapan perkembangan tertentu..

Observasi ada 2 macam:

  1. Natural-Observation.

Bilamana peneliti melakukan semua pencatatan tanpa mengubah suasana atau mengontrol dalam situasi-siatuasi yang direncanakan, maka disebut observasi alami

Misalnya:

Observasi dilakukan thd kehidupan anak dari jam sekian sampai jam sekian, apa saja yang dilakukan.
2. Metode Eksperimen

Melakukan pengontrolan secara ketat terhadap faktor-faktor atau variabel-variabel yang diperkirakan dapat mencemari atau mengotori hasil penelitian. Metode ini tidak mudah dilakukan, karena obyeknya manusia . Kita tdk bisa mengubah lingkungan tertentu sebebas-bebasnya sehingga merangsang timbulnya reaksi tertentu pula dan yang tidak manusiawi. Kesulitan lain yaitu kita perlu memperhatikan variabel2 seteliti mungkin (var. independent) yang mempengaruhi variabel dependet.

3.  Metode Klinis

Digunakan untuk mengumpulkan data secara lebih rinci mengenai perilaku penyesuaian dan kasus-kasus perilaku menyimpang.

J   Studi Kasus Klinis

J   Studi Kasus Perkembangan

4. Metode Longitudinal

  • Dengan Metode ini, kelompok atau pribadi yang dijadikan subyek penelitian akan diberi test atau eksperimen yang sama pada suatu jangpa waktu tertentu
  • Metode jangka panjang ini sesuai untuk penelitian mengenai kontinuitas dan diskontinuitas aspek-aspek psikis seperti ketergantungan, agresivitas dan intelegensi.

5. Metode Longitudinal

  • Dengan Metode ini, kelompok atau pribadi yang dijadikan subyek penelitian akan diberi test atau eksperimen yang sama pada suatu jangpa waktu tertentu
  • Metode jangka panjang ini sesuai untuk penelitian mengenai kontinuitas dan diskontinuitas aspek-aspek psikis seperti ketergantungan, agresivitas dan intelegensi.

Keuntungan metode ini menurut (J-E- Andersen, 1954)

  • Metode ini memungkinkan melakukan analisa terhadap pertumbuhan dan perkembangan setip individu
  • Memungkinkan mengetahui gangguan-gangguan dalam perkembangan baik secara pribadi maupun dalam kelompok
  • Memungkinkan melakukan analisa terhadap hubungan antara proses pertumbuhan, baik aspek kematangan maupun pengalaman, karena data yang diperoleh berasal dari anak yang sama.

Kerugian metode ini:

Dibutuhkan waktu yang lama, biaya yang besar dan kemungkinan terjadinya gangguan yang tiba-tiba timbul dalam selang waktu antara penyelidikan yang sedang dilkukan

Misalnya, ada yang sakit atau meninggal.

6. Metode Cross-Sectional;

  • Metode yang digunakan untuk melakukan penelitian terhadap beberapa kelompok anak dalam jangka waktu yang relatif singkat.
  • Kelompok2 yang diselidiki berdasarkan umur, misalnya keompok umur 6 bulan, 12 bulan, 18 bulan, 24 bulan, kekayaannya dalam perbendaharaan kata.
  • yang harus diperhatikan homogenitas kelompoknya (status sosial, kesehatan, kemampuan) agar independent variabel yang ada dpt dikurangi.

7. Metode Diferensial

  • Digunakan untuk meneliti perbedaan-perbedaan individual yang terdapat di antara anak didik.
  • Menggunakan berbagai macam teknik pengukuran (contoh: tes, angket,dsb) serta menggunakan statistik untuk menganalisis.

8. Metode Silang budaya (Cross cultural)

  • Metode ini akhir2 banyak dilakukan untuk mengetahui perbedaan-perbedaan atau persamaan pada perkembangan anak pada beberapa latar belakang kebudayaan yang berbeda.

Misalnya;

Ttg besar kecilnya pengaruh dari faktor sosial, ekonomi, pola pengasuhan dan gaya hidup terhadap ciri-ciri kepribadian dan perkembangan2 kognitif..

Ausubel & Sullivan mengemukakan pentingnya metode ini diamalkan pada tiga lapangan, yaitu:

  1. Pola asuh
  2. Perkembangan bahasa
  3. Perkembangan kognitif

 

Analisis kualitatif kation golongan IV

Analisis kualitatif kation golongan IV
I. Analisis pendahuluan
Kation golongan IV (Ca2+,Ba2+,Sr2+) memiliki sifat umum :
 Sebagai kation tidak memiliki warna
 Garam-garam dari golongann IV yang larut dalam air adalah garam dari I-, Cl-, Br-,NO3¬-, S2-
 Garam-garam dari golongann IV yang larut dalam asam kuat encer adalah garam dari nitrat, klorida, bromida, iodida, karbonat, sulfit, silikat, fosfat, arsenat
Uji organoleptis senyawa kation golongan IV
Aspek yang diamati Bentuk KSp Kelarutan dalam air Uji nyala
Ba2+ SO42- Kristal putih 1,0842 x 10-10 2,4×10-4
g/100ml
(20oC)
NO3- Kristal putih 4,64×10-3 10,5 g/100ml
(25oC)
CO32- Kristal putih 2,58×10-9 2,4×10-3 g/100ml
(20oC)
Cl- Serbuk putih 35,8 g/100ml
(20oC)
Ca2+ SO42- Padatan putih 2,4×10-5 2,1 g/L
(20oC)
NO3- Serbuk putih 129 g/100ml
(20oC) Oranye cerah
CO32- Serbuk putih 4,8×10-9 1,5×10-2 g/L
(25oC)
Cl- Padatan putih 74,5 g/100ml
(20oC)
Sr2+ SO42- Kristal putih 3,44 x 10-7 1,35×10-2
g/100ml
(20oC)
NO3- Butiran putih 66 g/100ml
(20oC) Merah/
oranye
CO32- Serbuk putih/abu-abu 5,6×10-10 1,19x 10-2 g/100m
(18oC)
Cl- Kristal putih 53,8
g/100ml
(20oC)

II. Analisis golongan
Kation golongan IV diendapkan sebagai karbonat (BaCO3, CaCO3, SrCO3) oleh amonium karbonat.
III. Analisis kation dalam satu golongan

Uji identifikasi

Analisis prosedur
1. Filtrat dari dolongan III ditambah HNO3 untuk menghilangkan garam-garam amonium sehingga garam-garam karbonat kation golongan IV
2. Penambahan sedikit amonium klorida dilakukan untuk menjaga adanya ion amonium dalam jumlah kecil untuk mencegah magnesium mengendap
3. Penambahan (NH4)2CO3 dilakukan untuk mengendapkan ion Ba2+, Ca2+, Sr2+ menjadi garam karbonat
4. Endapan yang mengandung BaCO3, CaCO3, SrCO3 dicuci untuk menghilangkan pengotornya, air cuciannya dibuang karena tidak digunakan untuk proses selanjutnya
5. Endapan BaCO3, CaCO3, SrCO3 dilarutkan dalam CH3COOH untuk memisahkan kation dengan anionnya
6. Diambil 1 ml larutan untuk menguji adanya Ba+ dengan menambahkan K2CrO4 sehingga Ba+ berikatan dengan CrO4- membentuk endapan kuning BaCrO4
7. Sisa larutan ditambahkan dengan K2CrO4 untuk mengendapkan Ba2+ mengendap semua
8. Penambahan NH3 dilakukan untuk menetralkan pH larutan ang sebelumnya asam
9. Penambahan Na2CO3 dilakukan untuk mengendapkan ion Ca2+ dan Sr2+ menjadi CaCO3 dan SrCO3 yang berupa endapan putih
10. Endapan dilarutkan dalam asam asetat untuk memisahkan kation (Ca2+, Sr2+ ) dengan anionnya (CO32-)
11. Penambahan (NH4)2SO4 dan pemanasan bertujuan untuk mengendapkan sebagian besar Sr2+ menjadi SrSO4
12. Penambahan natrium tiosulfat bertujuan untuk menambah kelarutan dari CaSO4 sehingga tidak ikut mengendap bersama SrSO4
13. Kalsium lebih mudah diendapkan sebagai CaC2O4 oleh karena itu filtrat setelah penambahan (NH4)2SO4 ditambahkan amonium oksalat

Analisis Hasil
1. Ba2+ : *terbentuk endapan kuning bila ditambahkan K2CrO4
Bila dilakukan uji nyala akan memberikan warna hijau atau hijau kekuningan
*terbentuk endapan putih BaCO3 jika ditambahkan amonium karbonat
*terbentuk endapan putih Ba(COO)2jika ditambahkan amonium oksalat
*terbentuk putih
2. Ca2+ :*terbentuk endapan amorf CaCO3 jika ditambahkan amonium
karbonat
*terbentuk endapan putih CaSO4 jika ditambahkan asam sulfat encer
*terbentuk endapan putih Ca(COO)¬2 jika ditambahkan amonium oksalat
3. Sr2+ :*terbentuk endapan putih SrSO4 jika ditambahkan asam sulfat encer
*terbentuk endapan putih Sr(COO)2 jika ditambahkan amonium oksalat
*terbentuk endapan kuning SrCrO4 jika ditambahkan kalium kromat

Reaksi Kation
1) Barium (Ba2+)
• Ba2+ + air Ba(OH)2 + H2
• Ba2+ + amonium tidak terjadi endapan
• Ba2+ + CO32- BaCO3
• Ba2+ + (COO)22- Ba(COO)2
• Ba2+ + CrO4- BaCrO4
• Ba2+ + ion sulfat atau H2SO4 pekat BaSO4
• Ba2+ + F- BaF2
2) Kalsium(Ca2+)
• Ca2+ + air Ca(OH)2 + H2
• Ca2+ + amonium tidak terjadi endapan
• Ca2+ + CO32- CaCO3
• Ca2+ + (COO)22- Ca(COO)2
• Ca2+ + CrO4- CaCrO4
• Ca2+ + ion sulfat atau H2SO4 pekat CaSO4
• Ca2+ + F- CaF2

3) Strontium(Sr2+)
• Sr2+ + air Sr(OH)2 + H2
• Sr2+ + amonium tidak terjadi endapan
• Sr2+ + CO32- SrCO3
• Sr2+ + (COO)22- Sr(COO)2
• Sr2+ + CrO4- SrCrO4
• Sr2+ + ion sulfat atau H2SO4 pekat SrSO4
• Sr2+ + F- SrF2

PRESIPITIMETRI

PRESIPITIMETRI

Dilihat dari asal katanya presipimetri berasal dari kata  “precipitate” yang berarti endapan. Jadi, presipitimetri adalah titrasi dimana terjadi endapan atau presipitat. Salah satu contoh yaitu :

AgNO3 + NaCl         AgCl     + NaNO3

Disini akan dibahas “ ARGENTOMETRI” yakni titrasi-titrasi yang ada sangkut pautnya dengan penggunaan larutan AgNO3. Kurva titrasi dibuat dengan memplot –log[pereaksi] terhadap volume titrant. Metode titrasi argentometri dapat juga digunakan untuk menentukan kadar ion-ion yang berada dalam campuran. Syarat utama titrasi argentometri untuk campuran ion adalah ion-ion tersebut harus membentuk endapan dengan ion perak yang kelarutannya berbeda.

  1. A. Kurva Titrasi

Kurva titrasi dapat dibuat dengan cara mengeplot antara perubahan konsentrasi analit pada sumbu ordinat dan volume titran pada sumbu absis, pada umumnya konsentrasi analit dinyatakan dalam fungsi (P) yaitu px = – log [x].

Kurva titrasi terdiri atas 3 wilayah yaitu wilayah sebelum titik ekuivalen, titik ekuivalen, dan titik setelah ekuivalen. Pada penggambaran sebuah kurva ada beberapa titik yang harus dicari untuk menggambarkan kurva secara keseluruhan, titik-titik tersebut diantaranya:

  1. Titik awal titrasi
  2. Titik setelah penambahan a ml AgNO3
  3. Titik setelah penambahan b ml AgNO3 (1-2 tetes sebelum titik ekuivalen)
  4. Titik saat ekuivalen
  5. Titik setelah penambahan AgNO3 berlebih

Pada proses penghitungan sebelum penggambaran kurva harus juga memperhitungkan hukum kesetimbangan, yaitu mempertimbangkan AgCl yang dapat terlarut kembali.

Ag+(aq) + Cl(aq) AgCl(s)

y                                       (a-n) + y                                               n – y

dimana    a = mmolClsemula (jumlah analitis).

n = mmol Ag+ yang telah ditambahkan.

y = mmol Ag+ yang tak terendap sebagai akibat kesetimbangan.

Maka jumlah AgCl yang mengendap (tanpa kesetimbangan) ialah n mmol. Boleh dibayangkan, bahwa kemudian y mmol AgCl larut kembali untuk memenuhi hukum kesetimbangan, dengan membentuk kembali y mmol Ag+ dan Cl.Maka dalam keadaan setimbang terdapat y mmol Ag+ dan (a-n)+y mmol Cl, sehingga

 

 

Selama titrasi masih jauh dari titik ekuivalen, y akan lebih kecil dari pada (a-n) dan untuk menyederhanakan perhitungan dapat diabaikan; tetepi semakin mendekati titik ekuivalen nilai a-n semakin kecil sehingga akhirnya y tidak dapat diabaikan lagi, dan persamaan harus dipecahkan sebagai persamaan kuadrat.

Untuk menggambar kurva titrasi argentometri maka perhatikan contoh berikut ini:

50 mL larutan NaCl 0,1 M dititrasi dengan 0,1 M larutan perak nitrat AgNO3, maka hitunglah konsentrasi Cl pada saat awal dan pada saat penambahan perak nitrat sebanyak 10 mL, 49,9 mL, 50 mL, dan 60 mL dan diketahui Ksp AgCl 1,56.10-10

ü  Pada saat awal titrasi belum terdapat AgNO3 yang ditambahkan sehingga konsentrasi ion klorida adalah sebagai berikut:

[Cl]     =  10-1 M

pCl =  -log [Cl]

=  -log 10-1

1

ü  Saat penambahan 10 mL AgNO3 0,1 M ( dengan mengabaikan y)

Reaksi yang terjadi adalah:

 

Ag+(aq) + Cl(aq) AgCl(s)

mula mula          1 mmol                                5 mmol                                                      –

reaksi                  1 mmol                                1 mmol                                                1 mmol

sisa                      0 mmol                                4 mmol                                                1 mmol

 

Perbandingan mol antara Ag+ dan Cl adalah            1:1.

[Cl]    =  (50×0,1)-(10×0,1) / (50+10)

= 0,067 M

pCl      = -log [Cl]

= -log 0,067

= 1,17

ü  Saat penambahan 49,9 mL AgNO3 0,1 M (dengan mengabaikan y)

Reaksi yang terjadi adalah:

Ag+(aq) + Cl(aq) AgCl(s)

mula mula           4,49 mmol                          5 mmol                                                      –

reaksi                   4,49 mmol 4,49 mmol                                                4,49 mmol

sisa 0 mmol 0,01 mmol                                              4,49 mmol

 

[Cl]     = (50×0,1)-(49,9×0,1)/(50+49,9)

= 1.10-4

pCl       = -log [Cl]

= -log 1.10-4

= 4

ü  Saat penambahan 49,99 mL AgNO3 0,1 M (dengan tidak mengabaikan y)

Ag+ dalam 49,99 ml =  4,999 mmol;  volume total

=  99,99 ml

=  100 ml

(a-n)  =  0,001 mmol

Maka

(y)  ( 0,001 + y )    =   1,0 x 10-10 + 1002 dan diperoleh

Y      =   0,618 x 10-3

[Cl]     =   1,618 x 10-5dan [Ag+] = 0,618 x 10-5

pCl       =   -log [Cl]

=   -log [1,618 x 10-5]

=    4,79

 

ü  Saat Titik Ekivalen (saat ditambahkan 50 ml AgNO3 0,1 M)

AgNO3 dan NaCl habis bereaksi membentuk AgCl. Pada saat ini maka tidak ada ion Ag+ maupun ion Cl dalam larutan sehingga konsentrasi Cl ditentukan dengan menggunakan nilai Ksp.

AgCl(s) Ag+(aq) + Cl(aq)

s                        s                s

Ksp      = [Ag+][Cl]

Ksp      =   s2

s           =   Ksp1/2

s           =   (1,56.10-10)1/2

s           =   1,25.10-5

pCl      =   -log[Cl]

=   -log 1,25.10-5

= 4,9

ü  Saat penambahan 60 mL AgNO3 0,1 M (dengan mengabaikan y)

Reaksi yang terjadi adalah:

Ag+(aq) + Cl(aq) AgCl(s)

mula mula      6 mmol 5 mmol                                                –

reaksi 5 mmol 5  mmol 5 mmol

sisa 1 mmol 0 mmol 5 mmol

 

pada saat ini maka terdapat kelebihan Ag+ sebanyak 10 mL sehingga sekarang kita menghitung jumlah konsentrasi Ag+ yang berlebih

[Ag+]   =   10x 0,1/(50+60)

=   9,1.10-3

pAg     =   -log[Ag+]

=   -log 9,1.10-3

=   2,04

pAg + pCl   =   10 (dari harga Ksp)

pCl              =   10 – 2,04

pCl              =  7,96

 

Dan kurva titrasinya adalah sebagai berikut:

Kurva titrasi 50 mL NaCl 0,1 M vs AgNO3 0,1 M

 

 

Titrasi 50 ml NaCl 0,1 M dengan AgNO3 0,1 M

AgNO3 ml [Cl] % yg diendapkan pCl
0,0 0,10 0,0 1,00
10,0 0,067 20,0 1,17
20,0 0,043 40,0 1,37
30,0 0,025 60,0 1,60
40,0 0,011 80,0 1,96
49,0 0,0010 98,0 3,00
49,9 1×10-4 99,8 4,00
49,99 1,618 x 10-5 99,97 4,79
50,0 1×10-5 100 4,9
50,1 1×10-6 100 6,00
51,0 1×10-7 100 7,00
60,0 1×10-8 100 7,96

 

 

 

 

 

Pengaruh kurva nilai Ksp terhadap kurva titrasi dapat dilihat dari gambar dibawah ini. Gambar dibawah ini menunjukkan kurva titrasi 25 mL larutan MX (dengan X adalah Cl, I, dan Br) dengan 0,05 M AgNO3. Dapat dilihat bahwa semakin kecil harga Ksp untuk AgI maka kurvanya akan semakin curam sedangkan semakin besar harga Ksp untuk AgCl maka kurvanya semakin landai. Satu hal lagi manfaat dari kurva titrasi adalah selain dapat dipakai untuk mencari titik ekuivalen maka kurva titrasi juga dapat dipakai untuk mencari konsentrasi kation dan anion disetiap titik dimana titrasi berlangsung.

 

 

 

 

 

 

 

  1. B. Metode Penentuan Titik Akhir Titrasi Argentometri

Argentometri dibedakan menjadi 3 macam metode berdasar indikator yang dipakai untuk penentuan titik akhir, yaitu metode Mohr, Volhard, dan Fajans.

  1. Metode Mohr

Metode ini didasarkan pada pembentukan endapan berwarna. Konsentrasi ion klorida dalam suatu larutan dapat ditentukan dengan cara titrasi dengan larutan standart perak nitrat. Endapan putih perak klorida akan terbentuk selama proses titrasi berlangsung dan digunakan indikator larutan kalium kromat encer. Setelah semua ion klorida mengendap maka kelebihan ion Ag+ pada saat titik akhir titrasi dicapai akan bereaksi dengan indikator membentuk endapan coklat kemerahan Ag2CrO4.

Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

Ag+(aq) +  Cl(aq) AgCl(s) (endapan putih)

Ag+(aq) +  CrO42-(aq) Ag2CrO4(s) (coklat kemerahan)

Konsrentrasi CrO42- yang ditambahkan sebagai indikator harus diperhatikan, yakni dihitung berdasarkan Ksp AgCl dan Ksp Ag2CrO4.

Berapakah CrO42- yang harus ditambahkan agar endapan Ag2CrO4 terbentuk tepat pada titik ekivalen? Pada saat itu

[Ag+] = [Cl] =

=

= 1,33 x 10-5

Dan jika menginginkan Ag2CrO4 harus mengendap pada titik ekivalen, maka kesetimbangan kedua reaksi di atas harus berlangsung secara spontan. Karena Ag+ merupakan ion senamam, maka [Ag+] berlaku pada kedua kesetimbangan sekaligus. Sehingga

Ksp Ag2CrO4 = [Ag+]2 [CrO42-] = 1,29 x 10-12

karena [Ag+] = 1,33 x 10-5 (dari perhitugan sebelumnya) maka

[CrO42-] = 1,29 x 10-12 : (1,33 x 10-5)

= 0,0072 M

Namun, dalam penggunaan yang sesungguhnya konsentrasi ini terlalu besar, karena warna K2CrO4 terlalu kuning sehingga mengakibatkan perubahan warna pada titik akhir titrasi sulit diamati. Jadi, harus menggunakan konsentrasi yang lebih rendah (2,5 x 10-3 M adalah konsentrasi yang sekiranya tepat). Tetapi, karena [CrO42-] ini diturunkan maka diperlukan [Ag+] yang lebih besar(>1,33 x 10-5) untuk dapat menghasilkan endapan merah sebagai indikator.

Pengaturan PH juga sangat diperlukan. PH sebaiknya tidak terlalu rendah ataupun terlalu tinggi. Jika PH terlalu rendah ion CrO42- sebagian berubah menjadi Cr2O72- yang mengurangi konsentrasi indikator dan menyebabkan tidak timbulnya endapan atau sangat terlambat.

2CrO42- + 2H+ 2HCrO4 Cr2O72- + H2O

Jika terlalu tinggi akan terbentuk endapan AgOH(coklat) sehingga akan menghalangi pengamatan titik akhir titrasi. Selain itu AgOH selanjutnya akan terurai menjadi Ag2O sehingga titrant terlalu banyak terpakai.

2Ag+ + 2OH 2AgOH            Ag2O + H2O

Selain itu, yang harus diperhatikan adalah perlakuan terhadap larutan. Selama proses titrasi sebaiknya larutan harus diaduk dengan baik. Bila tidak, maka secara lokal terjadi kelebihan titrant yang menyebabkan indikator mengendap sebelum titik ekivalen tercapai yang menyebabkan pengamatan titik akhir tidak tepat.

Penggunaan metode Mohr sangat terbatas jika dibandingkan dengan metode Volhard dan Fajans dimana dengan metode ini hanya dapat dipakai untuk menentukan konsentrasi ion Cl, CN, dan Br.

Titrasi argentometri dengan metode Mohr banyak dipakai untuk menentukan kandungan klorida dalam berbagai contoh air, misalnya air sungai, air laut, air sumur, air hasil pengolahan industri sabun, dan sebagainya.

  1. Metode Volhard

Metode Volhard didasarkan pada pembentukan larutan senyawa kompleks berwarna. Pada metode Volhard ini menggunakan NH4SCN/KSCN sebagai titrant, dan larutan Fe3+ sebagai indikator. Pada saat titik ekivalen terjadi reaksi antara titrant dengan Ag+ membentuk endapan putih. Sedikit kelebihan titrant akan bereaksi dengan indikator, membentuk ion kompleks berwarna merah yang menyebabkan larutan menjadi merah. Raksi yang terjadi adalah sebagai berikut :

Ag+(aq) + SCN(aq) → AgSCN(s) (endapan putih)

Fe3+(aq) + SCN(aq) → Fe(SCN)2+ (kompleks berwarna merah)

Namun, jika dilihat dari titrant(SCN) dan reaksinya yang berlangsung dengan Ag+, maka dengan cara ini hanya dapat digunakan penentuan Ag+ atau SCN, sedangkan untuk anion lain harus menggunakan titrasi kembali atau bisa dikatakan titrasi tidak langsung.

Penentuan dengan titrasi kembali ini dilakukan dengan cara pada larutan analit ditambahkan Ag+ secara berlebih, kemudian kelebihan konsentrasi larutan Ag+ dititrasi dengan SCN dengan menggunakan indikator Fe3+. Ion besi ini akan bereaksi dengan ion tiosianat membentuk kompleks yang berwarna merah.  Sebagai contoh dalam penetapan Cl , maka reaksinya sebagai berikut :

Ag+(aq) + Cl(aq) AgCl(s) (endapan putih)

Ag+(aq) + SCN(aq) AgSCN(s) (endapan putih)

Fe3+(aq) + SCN(aq) Fe(SCN)2+ (kompleks berwarna merah)

Anion lain seperti bromida, dan iodida dapat ditetapkan dengan prosedur yang sama. Anion asam lemah, seperti oksalat, karbonat, dan arsenat, yang garam-garam peraknya dapat larut dalam asam dapat ditetapkan dengan pengendapan pada PH yang lebih tinggi dan penyaringan garam peraknya. Endapan itu kemudian dilarutkan ke dalam asam nitrat dan peraknya dititrasi langsung dengan tiosianat.

Kenapa pada metode volhard ini digunakan dalam larutan asam? Karena memang diinginkan menggunakan medium asam untuk mencegah hidrolisis indikator ion Fe3+ yang ditakutkan muncul endapan Fe(OH)3.

Dalam titrasi langsung perak dengan tiosianat, terdapat dua sumber galat. Pertama AgSCN(s) mengadsorpsi ion perak pada permukaannya, sehingga menyebabkan titik akhir terjadi terlalu dini.  Hal ini bisa diatasi dengan mengaduk dengan kuat campuran itu di dekat titik akhir. Kedua, perubahan warna yang menandai titik akhir terjadi pada konsentrasi tiosianat yang sedikit melebihi konsentrasi pada titik ekivalen, jadi harus berhati-hati dan teliti.

Dalam titrasi tak langsung dijumpai galat yang lebih serius, jika garam perak dari anion yang akan ditetapkan itu lebih mudah larut daripada perak tiosianat. Contoh :

Ag+(aq) + Cl(aq) AgCl(s)

Ag+(aq) + SCN(aq) AgSCN(s)

AgCl(s) + SCN(aq) AgSCN(s) + Cl

AgCl lebih mudah larut daripada AgSCN, dan klorida itu cenderung melarut kembali menurut reaksi. Jadi, tiosianat(SCN) tidak hanya dihabiskan oleh perak yang berlebih, tetapi oleh endapan perak klorida itu sendiri. Jika ini terjadi, kesalahan titrasi akan semakin besar. Untuk mengatasi hal ini bisa dengan menyaring AgCl atau dengan menambahkan nitrobenzena sebelum titrasi dengan tiosianat. Nitrobenzena ini akan membentuk suatu salut minyak pada permukaan AgCl, sehingga menghindari adanya reaksi dengan tiosianat. Salah satu cara lain yaitu dengan menggunakan ion Fe3+ yang konsentrasinya cukup tinggi (±0,2M) sehingga titik akhir dicapai pada pada konsentrasi tiosianat yang lebih rendah. Sehingga AgCl yang melarut kembali lebih sedikit dan masih terdapat konsentrasi yang cukup tinggi dari kompleks FeSCN2+ merah untuk bisa tampak.

Dalam penetapan bromide dan Iodida dengan metode volhard secara tak langsung ini, reaksi dengan tiosianat tidak menimbulkan kesulitan karena AgBr hamper mempunyai kelarutan yang sama dengan AgSCN, dan untuk AgI kelarutannya lebih rendah dari AgSCN.

  1. 3. Metode Fajans

Dalam metode ini digunakan indikator adsorpsi. Indikator adsorpsi adalah zat yang dapat diserap pada permukaan endapan dan menyebabkan timbulnya warna. Penyerapan ini dapat diatur agar terjadi pada titik ekivalen yakni dengan memilih indikator dan mengatur PHnya.

Mekanisme kerja indikator ini adalh sebagai berikut : indikator ini adalah asam lemah atau basa lemah organik yang dapat membentuk endapan dengan ion perak. Sebagai contoh fluoresein yang digunakan dalam titrasi klorida. Bila perak nitrat ditambahkan ke dalam larutan natrium klorida, maka terbentuk endapan koloid AgCl. Endapan ini terdapat dalam lingkungan dimana masih ada kelebihan ion Clֿ dibandingkan dengan ion Ag+. Maka endapan menyerap ion-ion Clֿ, sehingga butiran-butiran koloid bermuatan negatif. Karena muatan indikator FIֿ juga negatif, maka FIֿ tidak terserap oleh koloid tersebut. Penambahan titran kembali akan menyebabkan kelebihan Clֿ berkurang. ion Clֿ (yang terserap endapan) akan lepas dan bereaksi dengan Ag+ yang ditambahkan, sehingga muatan koloid berkurang negatif.

Saat tercapai titik ekivalen, maka tidak ada kelebihan Clֿ atupun Ag+, sehingga koloid bersifat netral. Setetes titran kemudian menyebabkan kelebihan Ag+. In-ion Ag+ ini kemudian diserap oleh koloid, sehinggakoloid bermuatan positif dan selanjutnya dapat menarik ion FIֿ yang menyebabkan warna endapan menjadi merah muda.

 

 

Ada hal-hal yang harus diperhatikan pada metode ini, antara lain :

  • Permukaan partikel ini merupakan zat aktif dalam operasi indikator ini, endapan tidak boleh berkoagulasi menjadi partikel yang besar dan mengendap ke dasar labu. Koagulasi endapan perak klorida terjadi pada titik ekivalen, dimana baik ion klorida ataupun perak tidaklah berlebih, kecuali jika ada zat seperti dkstrin. Dekstrin bertindak sebagai “koloid protektif”.
  • Suatu indikator haruslah dipilih agar teradsorpsi tidak terlalu kuat ataupun terlalu lemah. Adsorpsi yang ideal hendaknya mulai tepat sebelum tercapainya titik ekivalen dan meningkat dengan cepat pada titik ekivalen. Ada beberapa indikator yang teradsorpsi sangat kuat sehingga mereka benar-benar menggantikan ion yang teradsorpsi primer sebelum titik ekivalen tercapai. Misalnya eosin tidak dapat digunakan untuk titrasi klorida dengan ion perak karena efek ini. Eosin dapat digunakan untuk titrasi iodide dan bromide dengan perak, karena kedua anion ini teradsorpsi begitu kuat sehingga eosin tak dapat menggesernya. Sebaliknya, jika indikator terlalu lemah, titik akhir akan terjadi setelah titik ekivalen terlampaui.
  • Indikator adsorpsi adalah asam lemah atau basa lemah, karena itu pH medium titrasi bersifat penting. Misalnya, tetapan disosiasi fluoresein kira-kira 10-7, dalam larutan yang lebih asam dari pH=7, konsentrasi anion FI begitu kecil, sehingga tak tampak perubahan warnanya. Fluoresein hanya dapat digunakan dalam jangka pH 7 s.d. 10.
  • Sebaiknya ion indikator dan ion yang ditambahkan sebagai titrant berlawanan muatannya. Sehingga adsorpsi indikator itu tidak akan terjadi sebelum terdapat kelebihan titrant.

Salah satu kesulitan dalam menggunakan indikator adsorpsi adalah banyak diantara zat warna tersebut membuat endapan perak menjadi peka terhadap cahaya(fotosensitifasi) yang menyebabkan endapan terurai.

 

Daftar beberapa indikator absorbsi dan penggunaannya diberikan dalam tabel berikut:

 

Indikator Penggunaan Perubahan warna pada titik akhir Data lain
Fluorescein Cl, Br, I Hijau kekuningan → merah muda Larutan harus netral / basa lemah atau pH=7-8
Dichloro-(R)-fluorescein Cl, Br ,BO3 Hijau kekuningan → merah Jangka pH berguna  4,4 to 7
Eosin

(tetrabromo-(R)-fluorescein)

Br, I ,SCN Pink → ungu kemerahan Terbaik dalam larutan asam asetat, pH = 1-2
Dikloro-(P)-tetraiodo-(R)-flourosein

(Bengali Ros)

I, dengan adanya Cl, dengan Ag+ Merah → lembayung Cermat jika ditambahkan (NH4)2CO3
di-iodo-(R)-dimetil-(R)-flourosein I dengan Ag+ Merah jingga → biru merah Jangkau pH = 4-7
Natrum alizarin sulfonat (merah alizarin S) [Fe(CN)]4-,[MoO4]2- dengan Pb2+ Kuning → merah muda Larutan netral
Rodamina 6G Ag+ dengan Br Jingga merah muda → Terbaik dalam HNO3 encer (sampai 0,3 M)
Fenosafranina Br, I dengan Ag+

Ag+ dengan Br

Endapan merah→endapan biru

Endapan biru → endapan merah

Perubahan warna endapan reversible tajam hanya jika ada NO3, toleransi sampai 0,2 M HNO3
  Cara Mohr Cara Volhard Cara Fajans
Prinsip dasar Titrasi larutan Ion Cl oleh larutan baku AgNO3 Larutan sampel Cl, Br, I/SCN diperlakukan dengan larutan baku AgNO3 berlebih. Kelebihannya dititrasi kembali dengan KSCN. Larutan sampel  Cl, Br, Idan SCNdititrasi dengan larutan baku AgNO3
Indikator Larutan K2CrO4 larutan Fe3+/ lar Fe2+ Indikator adsorpsi seperti cosin, flourosein, diflourosein
Persamaan  reaksi Ag+ + Cl AgCl

Ag+ + CrO4 Ag2CrO4

(Coklat kemerahan)

Ag++ X AgX

Ag+ + SCN AgSCN

Fe3+ + SCN Fe(SCN)2+ (merah darah)

Ag+ + X AgX

AgX // Ag + cosin

AgX/Ag-cosinat

(biru kemerahan)

Rangkuman cara Mohr, Vohard, dan Fayans dapat kita lihat dalam table di bawa ini:

Syarat [CrO4] ≤ 2,5 x 10-3 M

If [CrO4 ]> 2,5×10-3 M

Terjadi sebelum TE

PH = 6-10

Jika PH < 6 [CrO4-] berkurang.

2H++CrO4 2HCrO4

Cr2O72- +H+

Jika PH > 10, akan berbentuk AgOH/Ag2O

Dilakukan dalam suasana asam, karena jika tidak  Fe3+ akan terhidrolisis membentuk endapan Fe(OH)3 Endapan harus dalam bentuk koloid.
Pemilihan indikator dan penyesuaian pH sangatlah penting.
Penggunaan Penentuan Cl atau Br, Idan SCN- terabsobrpsi kuat oleh endapan. Penentuan  Cl, Br, Idan SCN Penentuan  Cl, Br, Idan SCN

 


Contoh Perhitungan

  1. Satu gram sampel larutan garam klorida dianlisis dengan cara Mohr memerlukan 31 mL 0,11 M larutan AgNO3. Dalam percobaan ini 1 gram sampel dianalisa dengan cara Fayans mennunakan dikloro flourosein. Pada pH = 7 memerlukan 31,5 mL 0,105 AgNO3. Hitung % klorida (Ar Cl = 35,453 mg/mmol) dalam kedua sampel diatas. Jika %  klorida beda, apa saran anda agar kedua hasilnya akurat! Mengapa?
  2. Hitung % Br jika 1,0 gram sampel garam klorida dianalisis dengan Volhard. Pada cara ini digunakan 50 mL 0,1 M AgNO­3 sesudah semua Br mengendap kelebihan ion Ag+ dititrasi kembali dengan 15,0 mL 0,08 M Kalium tiosianat.

(Ar Br = 79,9 mg/mmol)

Penyesaian

1)      Soal ini dapat di selesaikan dengan 2 cara yaitu:

–          Cara Mohr

% Cl 100%

% Cl 100%

% Cl

 

–          Cara Fajans

% Cl 100%

 

% Cl 100%

% Cl

Supaya hasil keduanya akurat maka pH dari dikloroflorosein harus kurang dari sama dengan 4.

 

2)      % Br 100%

%Br 100%

% Br

 

ASAM BASA

ASAM BASA

  1. A. Derajat Keasaman
  • Asam Kuat

Asam kuat adalah asam yang dalam air terionisasi sempurna (1<α>0), sehingga dalam larutan asam kuat tidak lagi terdapat molekul-molekul asam melainkan hanya ion-ion H+ dan ion-ion sisa asam. Dengan demikian, reaksi asam kuat merupakan reaksi berkesudahandan harga tetapan ionisasi asamnya (Ka) tak terdefinisi (~). Oleh karena harga Ka asam kuat tak terdefinisi maka dalam perhitungan harga Ka tidak dinyatakan dan konsentrasi ion H+ dalam larutan asam kuat adalah :

[H+]= M . Valensi asam

pH= –log [H+]

Contoh : Berapakah pH dari larutan HCl 0,01M ?

Jawab   : pH bergantung pada konsentrasi ion H+. Dalam hal ini, [H+] dapat dikaitkan dengan konsentrasi asamnya karena asamnya kuat dianggap mengion sempurna.

HCl 0,01M

HCl(aq) → H+(aq) + Cl(aq)

[H+] = [HCl] = 0,01M

Jadi,pH = – log 0,01 = 2

  • Asam Lemah

Asam lemah adalah asam yang dalam air terionisasi sebagian (α = kecil). Dalam larutan asam lemah terdapat molekul-molekul asam yang tidak terionisasi, dan ion-ion H+, serta ion sisa asam (A). Asam lemah mempunyai harga Ka kecil dan semakin kecil harga α asam lemah, makin kecil pula harga Ka nya. Konsentrasi ion H+ dalam larutan asam lemah dapat dikaitkan dengan tetapan ionisasi asam. Kesetimbangan ionisasi dan ungkapan tentang kesetimbangan asam lemah, yaitu

HA(aq) ↔ H+(aq) + A(aq)

Ka = [H+] [A]
[HA]

Sesuai dengan persamaan diatas, konsentrasi kesetimbangan asam lemah HA adalah M (1–α). Harga derajat ionisasi asam sangat kecil, mendekati nol,sehingga :

1 – α ≈ 1, berati M(1–α) ≈ M

Dengan kata lain, konsentrasi asam dalam larutan dianggap tetap sama dengan M, seolah-olah tidak ada yang terion. Oleh karena itu persamaan diatas dapat ditulis :

Ka = [H+] [A]
M

Karena [H+] = [A–] maka persamaan diatas dapat ditulis sebagai berikut :

Ka = [H+]2
M

[H+]2 = Ka × M

[H+] =

Jika derajat disosiasi diketahui maka :

[H+] = M × α

Contoh : berapakah pH dari larutan CH3COOH 0,05 M; Ka = 1,8 × 10–5

Jawab   : [H+] = √1,8 ×10–5 × 0,05

= √9 × 10–7 = 3 × 10–3,5

pH  = –log  3 × 10–3,5 = 3,5 – log 3

  • Basa Kuat

Basa kuat adalah basa yang dalam air terionisasi sempurna (α = 1). Dalam larutan basa kuat tidak terdapat molekul-molekul basanya, melainkan terdapat ion-ion hidroksil dan ion-ion logam. Reaksi basa merupakan reaksi berkesudahan.  Konsentrasi ion OH dalam larutan basa kuat :

[OH] = M × valensi basa

Contoh : berapakah pH larutan Ba(OH)2 0,001 M ?

Jawab   : pH larutan basa kuat dapat ditentukan dengan alur sebagai berikut :

[OH] = 2 × 0,001M

= 2 × 10 –3

pOH = 3 – log 2

pH  = 14 – pOH = 11 + log 2

  • Basa Lemah

Basa lemah adalah adalah suatu basa yang dalam air terionisasi sebagian (α = kecil)dalam larutan basa lemah terdapat molekul-molekul basa yang tidak terionisasi, ion-ion hidroksil, dan ion-ion logam yang berada dalam kesetimbangan. Basa lemah memiliki harga kesetimbangan yang sangat kecil. Hubungan konsentrasi ion OH dengan derajat ionisasi basa dan tetapan ionisasi basa dinyatakan sebagai berikut :

[OH] = M × α

[OH] =

Contoh : berapakh pH larutan yang dibuat dengan melarutkan 3,4 g NH3 dalam  500 ml air (Kb NH4OH = 1,8 × 10–5, Mr NH3 = 17)?

Jawab   : reaksi NH3 + H2O → NH4OH     ,  NH4OH→ NH4+ + OH

Mol NH3 = 0,2 mol

Mol NH3 ~ mol NH4OH

M NH4OH = 0,4M

[OH] = √1,8 . 10–5 × 0,4

pOH   = 2,57

pH     = 14 – 2,57 = 11,43

  1. B. Larutan Buffer

Larutan buffer adalah larutan yang terdiri dari asam lemah atau basa lemah dan garamnya; kedua komponen itu harus ada. Larutan ini mampu melawan perubahan pH ketika terjadi penambahan sedikit asam atau sedikit basa. Larutan buffer harus mengandung konsentrasi asam yang cukup tinggi untuk bereaksi dengan ion OHyang ditambahkan kepadanya dan harus mengandung konsentrasi basa yang sama tingginya untuk bereksi dengan ion H+ yang ditambahkan. Selain itu, komponen asam dam basa dari buffer tidak boleh saling menghabiskan dalam suatu reaksi penetralan, persyaratan ini dipenuhi oleh asam-basa konjugat.

 

Larutan buffer sederhana dapat dibuat dengan menambahkan asam asetat dan natrium asetat dalam jumlah yang sama ke dalam air. Konsentrasi kesetimbangan baik asam maupun basa konjugat (dari CH3COONa) diasumsikan sama dengan konsentrasi awalnya. Ini dikarenakan CH3COOH adalah asam lemah dan hidrolisis ion CH3COO sangat kecil dan keberadaan ion CH3COO menekan ionisasi CH3COOH, dan keberadaan CH3COOH menekan hidrolisis ion CH3COO.

Larutan yang mengandung kedua zat ini mampu menetralkan asam atau basa yang ditambahkan. Natrium asetat suatu elektrolit kuat, terionisasi sempurna dalam air:

CH3COONa(s)  H2O CH3COO (aq) + Na+(aq)

Jika yang ditambahkan adalah asam, ion H+ akan dikonsumsi oleh basa konjugat dalam buffer, CH3COO, berdasarkan persamaan

CH3COO (aq) + H+(aq) → CH3COOH(aq)

Jika yang ditambahkan ke dalam system buffer adalah basa, ion OH akan dinetralkan oleh asam dalam buffer.

CH3COOH(aq) + OH(aq) → CH3COO(aq) + H2O(l)

Jika yang ditambahkan ke dalam system buffer, bergantung pada jumlah asam atau basa konjugat yang menyusun buffer tersebut, semakin besar jumlahnya semakin besar kapasitas buffernya.

  • Cara menghitung pH pada larutan buffer
  1. Untuk larutan buffer yang terdiri atas campuran asam lemah dengan garamnya (larutannya akan selalu mempunyai pH < 7) digunakan rumus:

[H+] = Ka. Ca/Cg

pH = pKa + log Ca/Cg

dimana:
Ca = konsentrasi asam lemah
Cg = konsentrasi garamnya
Ka = tetapan ionisasi asam lemah

  1. Untuk larutan buffer yang terdiri atas campuran basa lemah dengan garamnya (larutannya akan selalu mempunyai pH > 7), digunakan rumus:

[OH] = Kb . Cb/Cg

pOH = pKb + log Cg/Cb

dimana:
Cb = konsentrasi base lemah
Cg = konsentrasi garamnya
Kb = tetapan ionisasi basa lemah

Contoh :

  1. manakah dari larutan berikut yang merupakan system buffer   (a)KH2PO4/H3PO4 atau (b) NaClO4/HClO4?

Jawab : (a).H3PO4 adalah asam lemah dan basa konjugatnya, H2PO4, adalah basa lemah. Jadi, system ini merupakan sisitem buffer. (b). karena HClO4 adalah asam kuat, basa konjugatnya ClO4, adalah basa yang sangat lemah. Ini berarti bahwa ion CLO4 tidak akan bergabung dengan ion H+ dalam larutan untuk membentuk HClO4. Jadi,sisitem ini bukan sisitem buffer.

  1. Hitunglah pH suatu sisitem buffer yang mengandung CH3COOH 1,0M dan CH3COONa 1,0M? berapa pH system buffer setelah penambahan 0,10 mol gas HClkepada 1L larutan itu?

Jawab : (a). pH larutan buffer sebelum penambahan HCl dapat dihitung dari konsentrasi asam asetat dan garamnya. Dengan asumsi bahwa ionisasi asam asetat dan hidrolisis ion asetat sangat kecil, pada kesetimbangan kita dapatkan

[CH3COOH] =1,0M dan   [CH3COO] = 1,0M

Ka = [H+] [CH3COO] = 1,8 × 10–5

[CH3COOH]

[H+] = Ka [CH3COOH]

[CH3COO]

 

= (1,8 × 10–5)(1,0)

(1,0)

= 1,8 × 10–5M

pH = –log (1,8 × 10–5)

=4,47

Jadi ketika konsentrasi asamnya dan konsentrasi basa konjugatnya sama, konsentrasi ion hydrogen akan sama nilainya dengan Ka asamnya.

(b). sesudah penambahan HCl, terjadi ionisasi sempurna asam HCl :

HCl(aq)   → H+(aq)    +    Cl(aq)

0,01mol      0,01 mol        0,01 mol

Semula ada 1,0 mol CH3COOH dan 0,1 mol CH3COO dalam 1L larutan.sesudah penetralan asam HCl oleh CH3COO, yang kita tulis adalah

CH3COO(aq)    +    H+(aq)   →   CH3COOH(aq)

0,10 mol              0,10 mol          0,10 mol

Jumlah mol asam asetat dan jumlah mol ion asetat yang ada  adalah

CH3COOH = (1,0 + 0,01) mol = 1,1 mol

CH3COO– = (1,0 – 0,01) mol = 0,9 mol

Kemudian kita hitung konsentrasi ion hydrogen :

[H+] = Ka[CH3COOH]

[CH3COO]

= (1,8 ×10–5)(1,1 mol)

(0,9 mol)

= 2,2 × 10–5M

pH larutan = -log (2,2 ×10–5) = 4,66

 

 

 

 

 

 

 

  1. C. Hidrolisis

Bila garam-garam dilarutkan dalam air, larutan itu tidak selalu bereaksi netral. Fenomena ini disebabkan karena sebagian dari garam berinteraksi dengan air, karena itu ini dinamakan hidrolisisi. Akibatnya ion hidrogan atau ion hidroksil tertinggal dengan berlebihan dalam larutan dan larutan itu sendiri masing-masing menjadi bersifat asam atau basa. Untuk memahami hidrolisis lebih dalam ada baiknya kita mengetahui sifat-sifat dari empat kategori garam sendiri-sendiri :

  • Garam dari asam kuat dan basa kuat yang bersifat netral, misalnya kalsium klorida, natrium klorida. Garam yang berasal dari basa kuat dan asam kuat tidak terhidrolisis. Contoh    NaCl(aq) → Na+(aq)  +  Cl(aq)

Na+(aq)  +   H2O(l)                 tidak ada reaksi

Cl(aq)   +   H2O(l)                 tidak ada reaksi

Jadi NaCl tidak mengubah perbandingan konsentrasi ion H+ dan ion OH dalam air, dengan kata lain larutan NaCl bersifat netral.

  • Garam dari asam kuat dan basa lemah yang bersifat asam, misalnya amonium klorida. Garam ini mangalami hidrolisis sebagian yaitu hidrolisis kation. Hal ini karena ion positif dari basanya akan berikatan dengan OH dari air membentuk basa. Keadaan ini mengakibatkan berkurangnya [OH] dan [H+] menjadi lebih besar sehingga larutan bersifat asam dan pH < 7.

Contoh : misalkan kation yang terhidrolisis adalah BH+, maka reaksi hidrolisis adalah sebagia berikut           BH+(aq)  +  H2O(l) ↔ B(aq)  + H3O+(aq)

Tetapan hidrolisisnya :                   Kh = [B] [H3O+]

[BH+]

[H+] =

 

  • Garam dari basa kuat dan asam lemah yang bersifat basa, misalnya natrium asetat. Garam ini mengalami hidrolisis sebagian. Pada larutan ini ion negative yang terbentuk dari ionnisasi garam akan mengikat ion H+ dalam larutan menjadi lebih kecil dibandingkan dengan konsentrasi ion OH– sehingga larutan akan be rsifat basa dan pH > 7.

Contoh : misalkan rumus kimia garam adalah LA, maka hidrolisis anion adalah sebagia berikut                         LA(aq)   →   L+(aq)  + A(aq)

L+(aq)  +  H2O(l)                tidak ada reaksi

A(aq)  +  H2O(l) ↔ HA(aq)  + OH(aq)

Tetapan hidrolisisnya : Kh = [HA] [OH]

[A]

[OH] =

atau

[OH] =

 

  • Garam dari asam lemah dan basa lemah bergantung pada harga tetapan ionisasi asam dan ionisasi basanya (Ka dan Kb). Garam ini mengalami hidrolisis total .

Ka > Kb : bersifat asam

Ka < Kb : bersifat basa

Ka = Kb : bersifat netral

Contoh : amonium asetat (CH3COONH4). Ammonium asetat dalam air akan terionisasi sebagai berikut.

CH3COONH4(aq)  ↔ CH3COO(aq)  +  NH4+(aq)

H2O(l )  ↔  H+ (aq) +  OH(aq)

Ion CH3COOyang berasal dari asam lemah (CH3COOH) akan bereaksi dengan ion H+ dari air dan ion NH4+ yang berasal adri basa lemah(NH4OH) juga bereaksi dengan ion OH dari air. Reaksinya sebagai berikut :

CH3COO(aq)  +  NH4+(aq)  + H2O(l) ↔ CH3COOH(aq)  +  NH4OH(aq)

Sehingga

Pada kesetimbangan disosiasi asam lemah

CH 3COOH(aq)  ↔ CH3COO–(aq)  + H+(aq)

[H+] = Ka [CH3COOH]

[CH3COO]

[H+] = Ka

Ka

=

pH =  (pKw + pKa – pKb)

  1. D. Indikator Asam Basa

Indicator adalah suatu zat yang warnanya berbeda-beda sesuai daengan konsentrasi ion hydrogen. Teori pertama yang bermanfaat tentang indicator telah diusulkan oleh W. Ostwald yaitu, indicator yang umumnya digunakan merupakan suatu asam atau basa organic lemah yang dipakai pada larutan sangat encer. Asam atau basa indicator  yang tak terdisosiasi mempunyai warna yang berbeda dengan hasil disosiasinya. Misalnya indicator itu suatu asam Hind, disosiasi berlangsung menurut kesetimbangan

Hin(aq)  ↔  H+(aq)  + In(aq)

Warna anion indicator, In, berbeda dengan asam indikatornya. Jika larutan yang ditambahkan adalah suatu asam, yaitu mengandung ion-ion hydrogen dalam jumlah besar, kesetimbangan diatas akan bergeser ke kiri, yaitu warna indicator yang tak terdisosiasi menjadi terlihat. Tetapi jika larutan menjadi basa , yaitu ion-ion hydrogen dihilangkan, kesetimbangan akan bergeser ke arah pembentukan anion indicator, dan warna larutan berubah.

Ada beberapa indicator yaitu :

  • Indicator Campuran

Untuk beberapa tujuan dikehendaki, suatu perubahan warna yang tajam pada satu jangkau pH yang sempit dan terpilih, ini tidak mudah terlihat dengan indicator asam basa yang biasa, karena perubahan warna merentang sepanjang dua satuan pH. Namun hasil ini dapat dicapai dengan menggunakan campuran indicator yang sesuai. Ini umumnya dipilih sedemikian sehingga nilai pK`In mereka berada dekat satu sama lain  dan warna-warna yang bertindihan adalah komplementer pada suatu nilai pH pertengahan. Contihnya yiatu

a)      Suatu campuran fenolftalein dan 1-naftalein berubah dari merah muda pucat menjadi violet pada pH= 8,9. Indicator campuran sesuai untuk titrasi asam fosfat ke tahap ke tahap diprotiknya.

b)      Suatu campuran biru timol dan merah kresol berubah dari kuning menjadi violet pada pH= 8,3. Digunakan untuk menitrasi karbonat ketahap hydrogen karbonat.

  • Indicator Universal

Dengan mencampur indikator-indikator tertentu yang sesuai, perubahan-perubahan warna dapat timbul pada sebagian besar daerah pH. Campuran-campuran demikian biasanya disebut indicator universal. Campuran ini tak sesuai untuk titrasi kuantitatif, tetapi dapat digunakan untuk penetapan pH dari larutan dengan metode kalorimetri. Salah satu cara untuk mempersiapkan indicator universal adalah sebagai berikut : larutan 0,1 g fenolftalein, 0,2 g metal merah, 0,3 g metal kuning, 0,4 g bromtimolbiru dan 0,5 g biru timol dalam 500cm3 etanol absolute, lalu tambahkan larutan natrium hidroksida hingga warna menjadi kuning. Perubahan-perubahan warna adalah sebagai berikut pH 2 : merah, pH 4 : jingga, pH 6 : kuning, pH 8 : hijau,  pH 10 : biru.

 

 

  1. E. Titrasi Asam Kuat dan Basa Kuat

Pada reaksi antara asam dan basa di mana jumlah mol asam sama dengan jumlah mol garam akan dihasilkan garam dan air. Reaksi netralisasi asam-basa dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi larutan asam atau larutan basa. Sejumlah tertentu larutan asam dititrasi dengan larutan basa sampai mencapai titik ekuivalen, jika salah satu larutan diketahui molaritasnya, maka molaritas larutan yang satu lagi dapat diketahui dengan rumus :

V1M1 = V2M2

Titik ekuivalen dapat diketahui dengan menambahkan suatu indicator. Titrasi dihentikan saat indicator mennjukkan perubahan warna, keadaan ini disebut titik akhir titrasi (titik ekuivalen). Perubahan pH pada proses titrasi digambarkan dengan grafik yang disebut kurva titrasi. Berikut ini macam-macam titrasi :

  1. Titrasi Asam Kuat dan Basa Kuat

Reaksi antara asam kuat dan basa kuat misalnya antara HCl dan NaOH :

NaOH(aq)  +  HCl(aq) →  NaCl(aq) + H2O(l)

Misalkan kita memasukkan larutan NaOH 0,01M ke dalam labu Erlenmeyer yang mengandung 25 ml HCl 0,100 M. Sebelum penambahan NaOH, pH asam adalah –log(0,100) atau 1,00. Ketika NaOH ditambahkan mula-mula meningkat perlahan. Mendekati  titik ekuivalen, pH mulai meningkat tajam dan pada titik ekuivalen kurva meningkat hampir vertical. Dalam titrasi asam kuat dan basa kuat, baik konsentrasi ion hydrogen maupun ion hidroksida sanat sedikit pada titik ekuivalen (sekitar 1 × 10–7M), akibatnya penambahan setetes basa saja dapat menyebabkan peningkatan tajam dalam [OH–]  dan pH larutan. Sesudah titik ekuivalen , pH meningkat lagi perlahan-lahan dengan penambahan NaOH. Seperti yang terlihat pada gambar dibawah ini :

Volume NaOH(ml) pH
0,0 1,00
5,0 1,18
10,0 1,37
15,0 1,60
20,0 1,95
22,0 2,20
24,0 2,69
25,0 7,00
26,0 11,29
28,0 11,75
30,0 11,96
35,0 12,22
40,0 12,36
45,0 12,46
50,0 12,52

Figure 1. kurva titrasi asam kuat dan basa kuat

 

Kita dapat menghitung pH larutan pada setiap tahap titrasi. Berikut ini adalah tiga contoh perhitungan :

  1. Sesudah penambahan 10,0 ml NaOH 0,100 M pada 25,0 ml HCl 0,100 M. volume total larutan menjadi 35,0 ml. jumlah mol NaOH dalam 10,0 ml adalah     = 1,00 ×10–3 mol

Jumlah mol HCl yang semula ada dalam 25,0 ml larutan adalah

= 2,50 × 10–3 mol

Jadi jumlah HCl yang tersisa sesidah penetralan parsial ialah ( 2,50 × 10–3 – 1,00 × 10–3). Kemudian konsentrasi ion H+ dalam 35,0 ml larutan dapat dihitung sebagai berikut

1,50 × 10–3 mol HCl   ×  1000 ml  = 0,0429 M HCl

35,0 ml                     1L

Jadi, [H+] = 0,0429 M, dan pH larutan menjadi

pH = -log 0,0429 = 1,37

  1. 2. Sesudah penambahan 25,0 ml NaOH 0,100 M pada 25,0 ml HCl 0,100 M.

Ini merupakan perhitungan yang sederhana, karena melibatkan reaksi penetralan sempurna dengan garam (NaCl) tidak engalami hidrolisis. Pada titik ekuivalen, [H+] = [OH] = 1,00 ×10–7 M dan pH larutan adalah 7,00.

  1. Sesudah penambahan 35,0 ml NaOH 0,100 M pada 25,0 ml HCl 0,100 M.

Volume total larutan sekarang menjadi 60,0 ml. Jumlah mol NaOH ang ditambahkan adalah

35,0 ml ×0,100 mol NaOH × 1L = 3,50

= 3,50 ×10–3 mol

Jadi jumlah mol HCl dalam 25,0 ml larutan ialah 2,50 × 10–3 mol. Sesudah penetralan sempurna HCl, jumlahmol NaOH yang tersisa adalah (3,50 × 10–3 – 2,50 ×10–3) mol. Konsentrasi NaOh dalam 60,0 ml larutan adalah

 

Jadi, [OH] = 0,0167 M dan pH = =log 0,00167 = 1,78. Dengan demikian, pH larutannya adalah

pH = 14,00 – pOH

= 14,00 – 1,78 = 12,22

 

 

  1. F. Daftar Rujukan

Sudino, Sri dkk. 2006. Kimia Untuk Kelas XI. Yokyakarta : Intan Pariwara.

Chang, Raymond. 2003. Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti. Jakarta : Erlangga.

Svehla, G. 1979. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semi Makro. London : Longman Group Limited.

ARGENTOMETRI I (TITRASI PENGENDAPAN dan TITRASI BEBAS AIR)

  1. A. TITRASI PENGENDAPAN

Titrasi pengendapan adalah golongan titrasi dimana hasil reaksi titrasinya merupakan endapan atau garam yang sukar larut. Prinsip dasarnya adalah reaksi pengendapan yang cepat mencapai kesetimbangan pada setiap penambahan titran, tidak ada pengotor yang mengganggu dan diperlukan indikator untuk melihat titik akhir titrasi. Hanya reaksi pengendapan yang dapat digunakan pada titrasi. Sebagaimana tipe-tipe reaksi pembentukan suatu endapan dapat digunakan sebagai dasar titrasi yaitu :

TITRAN + TITRAT à ENDAPAN

Faktor yang menentukan kesempurnaan reaksi pengendapan adalah kelarutan dari endapan yang terbentuk, endapan yang makin sukar larut mendandakan bahwa reaksi pada titik ekivalen makin sempurna. Beberapa metode dalam titrasi pengendapan adalah  Argentometri, Merkurimetri, Titrasi Kholthof

  1. a. Argentometri

Argentometri merupakan salah satu metode dalam titrasi pegendapan dimana hasil pengendapannya berupa garam – garam perak (Ag). Metode reaksi pengendapan secara argentometri banyak digunakan dalam reaksi pengandapan , karena hasilkali kelarutan garam perak halida (pseudohalida) dalam air sangat kecil seperti pada data berikut :

Ksp AgCl        =    1,82.10-10

Ksp AgCNS    =    1,10.10-12

Ksp AgBr        =    5,00.10-13

Ksp AgCN      =    2,20.10-16

Ksp AgI          =    8,30.10-17

Metode penentuan titik akhir titrasi pada titrasi  argentometri ada 3, yaitu:

  • Metode Mohr

Penentuan titik akhir pada Metode Morh ditandai dengan pembentukan endapan berwarna. Metode ini digunakan sebagai penentuan titik akhir titrasi untuk Cl dan Br pada pH 6 – 8, namun tidak dapat menentukan titik akhir titrasi pada  CNS ,CN dan I karena ketiganya dapat teradsorbsi kuat oleh endapan yang terbentuk. Indikator yang digunakan saat titrasi adalah K2CrO4 berikut merupakan contoh reaksi pengendapan dengan Metode Mohr

Reaksi:

 

Ion Cl mengendap setelah dititrasi dengan larutan baku AgNO3 hal ini disebabkan ion Cl- akan mengendap setelah bereaksi dengan ion Ag+ penembahan indikator pada titrasi ini berfungsi sebagai pemberi warna saat kapasitas titrasi Clterpenuhi atau ion Cl sudah tidak dapat menerima ion Ag+ sehingga ion Ag+ bereaksi dengan ion CrO42- dari K2CrO4 dan membentuk endapan dengan warna coklat.

  1. b. Metode Volhard

Titik akhir titrasi pada Metode Volhard ditandai dengan terbentuknya zat warna yang mudah larut. Metode ini dapat digunakan untuk penentuan titik akhir titrasi pada I, Br, Cl, SCN dengan menggunakan inikator Fe3+ atau Fe2+. Penambahan indikator dilakukan sebelum titrasi kecuali pada penentuan I dilakukan setelah I mengendap sempurna karena I dapat dioksidasikan oleh Fe3+. Prisip kerja dari metode ini adalah penambahan larutan baku AgNO3 secara berlebih pada larutan sampel yang mengandung ion Cl, Br, I, atau SNC , kemudian kelebihannya dititrasi kambali dengan KSCN. Berikut merupakan contoh reaksi pengendapan pada Metode Volhard

Reaksi :

 

Reaksi antara ion Ag+ dengan ion halida yaitu X akan menghasilkan suatu endapan perak halida yaitu AgX. Ion Ag+ ditambahkan berlebih agar dapat menekan kelarutan AgX karena umumnya kelarutan suatu endapan berkurang banyak sekali jika salah satu bahan endapan ditambahkan berlebih pada hal ini adalah Ag+ setelah itu kelebihan Ag+ dititrasi dengan ion KSCN yang kemudian membentuk endapan putih AgSCN, titik akhir titrasi ditandai terbentuknya  larutan berwarna merah darah karena adanya penambahan indikator Fe2+ atau Fe 3+ yang bereaksi dengan  ion SCN membentuk Fe(SCN)2+ yang berwarna merah darah.

 

  1. c. Metode Fayans

Penentuan titik akhir titrasinya dilakukan dengan  penambahan indikator adsorbansi. seperti cosin, fluorosein, dfluorosein. Metode ini dapat digunakan dalam penentuan

titik akhir titrasi pada Cl­-, Br, I, SCNdengan pH 4. Peristiwa absorpsi harus terjadi sesudah TE dan tidak ada garam lain yang menyebabkan koagulasi. Berikut reaksi yang berlangsung pada Metode Fayans

Reaksi antara ion Ag+ dengan ion halida X- harus  membentuk endapan berupa koloid sehingga AgX dapat teradsorbsi karena salah satu  sifat koloid adalah adapat menyerap warna, titik akhir titrasi ditandai dengan terserapnya warna biru kemerahan oleh koloid yang terbentuk.

Contoh titrasi pengendapan untuk metode argentometri

Analit Titran Indikator Metode
Cl­-, Br AgNO3 K2CrO4 Mohr
Cl­-, Br,I, SCN AgNO3 adsorpsi Fajans
Br,I, SCN, AsO43- AgNO3 + KSCN Fe(III) Volhard

(tanpa saring)

Cl,CN,CO32-,S2, C2O42-,CrO42- AgNO3 + KSCN Fe(III) Volhard

(saring)

 

  1. b. Merkurimetri

Larutan baku yang digunakan pada merkurimetri adalah  merkuri nitrat Hg( NO3)2 Jika ion halida dititrasi dengan merkuri nitrat, tidak ada ion Hg2+ sampai melewati daerah titik ekivalen, hal ini disebabkan selama titrasi ion Hg2+ beraksi dengan ion halida X sehingga terbentuk endapan merkuri halida HgX2, dimna X merupakan halida seperti Cl, Br, I, F. Namun setelah TE tercapai, ion Hg2+ segera bereaksi dengan indikator  membentuk kompleks Hg-Indikator; misal dengan indikator  nitroprusid ion Hg2+ membentuk endapan putih dan dengan  indicator difenilkarbazid atau difenilkarbazon dalam asam ion Hg2+ membentuk warna ungu intensif. Berikut ini adalah  reaksi yang

terjadi pada merkurimetri

Pada pemisahan secara merkurimetri diperlukan koreksi dengan titrasi blanko seperti contoh berikut :

  • 0,17 ml Hg(NO3)2 0,1 N untuk 50 ml HgCl2 0,05 N.

Volume titrasi blanko bervariasi sesuai besarnya konsenterasi HgCl2 pada titik ekivalen, karena jika konsenterasi Hg2+ berlebih akan beraksi dengan HgCl2 seperti pada reaksi berikut

  1. c. Titrasi   Kolthoff

Larutan baku yang digunakan pada titrasi kolthoff adalah K-Ferosianida. Campuran fero-ferisianida dalam asam memiliki potensial reduksi jauh lebih kecil daripada  yang diperlukan untuk mengoksidasi indikator, hingga diperoleh bentuk teroksidasi  berwarna intensif. Indikator yang cocok untuk titrasi ini adalah amonium  molibdat dan FeCl3 . Namun, diperlukan ketrampilan khusus baik untuk mereaksikannya maupun pada pengamatannyqa  sehingga  lebih baik gunakan indikator internal seperti difenilamin, difenilbenzidin dandifenilamin sulfonat. Untuk mengetahui potensial reduksi ferosianida menjadi ferisianida dapat dilihat dari reaksi redoks pada 30oC

  • Reaksi Redoks

 

Potensial reduksi dapat diketahui dari persamaan berikut :

 

 

Sebagai contoh titrasi Kholthof adalah

Penentuan kadar Zn2+ (sebagai titran) diendapkan dengan larutan baku K-Ferosianida dengan reaksi sebagi berikut

Jika ke dalam campuran tersebut ditambahkan Zn2+ akan terjadi endapan Zn-ferosianida, diikuti kenaikan potensial reduksi karena Fe(CN)6 4- hilang dari larutan. Setelah Fe(CN)64- bereaksi sempurna akan terjadi kenaikan tajam potensial reduksi dan muncul warna biru (bentuk indikator teroksidasi) akibat adanya kelebihan Zn2+ .Pada titik akhir titrasi akan muncul warna biru telor asin

 

  1. B. TITRASI BEBAS AIR (  NON – AQUO TITRATION )

Titrasi bebas air atau titrasi non aqua adalah titrasi yang menggunakan pelarut organik sebagai pengganti air. Titrasi ini merupakan salah satu metode titrimtri yang biasanya digunakan dalam titrasi asam lemah, basa lemah serta garam – garam organic dari asam atau basa yang tidak larut dalam air melaikan larut dalam pelarut organik. Seperti titrasi senyawa – senyawa organic yang bersifat basa oleh asam kuat anhidrat. Beberapa panduan dalam titrasi bebas air yaitu meliputi

a)      Solut hendaknya larut dalam pelarut atau pada kelebihan peniter

b)      Hasil titrasi harus larut dalam pelarut

c)      Pelarut yang digunakan tidak menimbulkan reaksi samping yang mengganggu

d)     Pelaksanaan titrasi harus bebas air, meliputi pelarut dan pereaksi dengan penambahan anhidrida asetat, dan peralatan yang digunakan harus kering.

Senyawa yang bersifat asam lemah ataupun basa lemah mempunyai pH yang hampir sama dengan pH air sehingga jika menggunakan pelarut air untuk mentukan titik akhir titrasinya relatif lebih sulit. Titik akhir titrasi senyawa basa dengan pKa kurang dari 7 atau senyawa asam denga pKa lebih dari 7  tidak dapat ditentukan secara akurat dalam pelarut air. Sehingga titik akhir titrasi senyawa yang bersifat asam lemah maupun basa lemah dapat ditentukan dengan menggunakan pelarut yang bebas air. Reaksi yang terjadi selama titrasi  dengan pelarut bebas air dapat dijelaskan menurut teori Asam-Basa Bronsted-Lowry.

  1. 1. Teori Asam-Basa Bronsted-Lowry

Menurut Bronsted-Lowry senyawa asam merupakan senyawa yang dapat menyumbangkan proton (donor proton) karena sifat asam cenderung memisah sehingga menghasilkan proton. Basa merupakan senyawa yang menerima proton (aseptor proton) senyawa basa cenderung untuk bergabung dengan proton. Proton yang dihasilkan oleh asan disebut sebagai basa konjugasi, sedangkan basa yang bergabung dengan proton disebut sebagai asam konjugasi.

 

 

 

Senyawa yang bersifat asam dapat menunjukan keasamannya saat senyawa tersebut bereaksi dengan basa, begitu juga untuk basa, dengan adanya senyawa asam maka kebasaannya dapat diketahui. Kekuatan asam ditentukan oleh potensi dari asam itu untuk melepaskan proton dan potensi kekuatan basa yang akan menerima protonnya. Jadi asam lemah akan lebih kuat bila direaksikan dengan basa yang lebih kuat.

  1. 2. Pelarut Titrasi Bebas Air

Berbagai pelarut organik dapat digunakan sebagai pelarut dalam titrrasi bebas air sebagai pengganti air karena pelarut organik sukar untuk melepaskan atau menerima proton dari zat yang akan dianalisis. Pelarut titrasi bebas air menurut Bronsted-Lowry dibagi menjadi tiga macam yaitu pelarut protofilik, pelarut protogenik dan pelarut aprotik. Pelarut protofilik merupakan pelarut yang bersifat basa atau yang lebih basa dalam air dan memiliki kemampuan penyetingkat atau penyetara kekuatan solut asam-asam lemah serta mampu membedakan kekuatan basa-basa. Pelarut protogenik adalah pelarut asam yang memiliki kemampuan penyetingkat atau penyetara kekuatan solut basa-basa lemah dan mampu membedakan kekuatan asam-asam. Pelarut aprotik tidak mempengaruhi kekuatan asam maupun basa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk membuat basa lemah menjadi basa kuat dapat digunakan pelarut asam kuat, sedangkan penggunaan pelarut basa yang kuat ditujukan untuk membuat asam lemah menjadi asam kuat.

HClO4 > HBr > H2SO4 >  HCl > HNO3 >  CH3COOH > fenol > air > pridin

Uraian diatas merupakan ururan pelarut berdasarkan sifat keasamannya. Dalam urutan di atas, air lebih bersifat basa daripada asam asetat karena asam-asetat  mudah memberikan proton pada air. Asam perklorat merupakan pelarut yang bersifat asam kuat karena asam perklorat paling mudah melepaskan proton dari pada asam – asam selanjutnya.

Seperti telah diuraikan diatas, kekuatan asam dan basa ditentukan pula oleh  kemampuan pelarut untuk melepaskan dan menerima proton. Berdasarkan hal ini maka pelarut untuk titrasi bebas air dapat dibedakan menjadi:

  1. Pelarut amfiprotik,yaitu pelarut yang dapat menerima ataupun memberikan proton. Pelarut ini akan mengalami ionisasi sendiri ( protolisis ). Contoh: Metanol, Etanol, Asam asetat, ammonia.
  2. Pelarut aprotik (yang netral), yaitu pelarut yang tidak dapat menerina maupun memberikan proton. Pelarut ini bereaksi kurang baik dengan asam atau basa karena memiliki konstanta dielektrik yang rendah sehingga tidak dapat mengionisasi asam atau basa. Contoh: Benzena, karbon tetraklorida dan kloroform.
  3. Pelarut protofilik, yaitu pelarut yang mudah menerima proton atau dalam karakternya bersifat basa sehingga jika bereaksi dengan asam membentuk proton terlarut. Contoh: eter, ammonia, keton, etil diamin, piridin, dll.
  4. 4. Pelarut protogenik, yaitu pelarut yang bersifat asam sehingga mudah memberikan proton pada saat berdisosiasi. Contoh: asam florida, asam sulfat, asam asetat, asam klorida.

Pemilihan pelarut sangat penting dalam titrasi bebas air, karena pelarut yang baik untuk titrasi bebas air adalah pelarut yang tidak mampu bersaing dengan untuk menyumbang dan menerima proton dengan analit. Dalam memilih pelarut, ada tiga hal yang harus diperhatikan yaitu:

  1. Sifat asam-basa dari pelarut; untuk menitrasi basa lemah maka dipilih pelarut yang lebih bersifat asam dan demikian pula sebaliknya.Misalnya pada titrasi basa lemah, pelarut asam asatat lebih baik daripada air
  2. Tetapan autoprotolisis (besarnya kemampuaan suatu molekul untuk melakukan transfer proton ke molekul lain)
  3. Tetapan dielektrik (pengukur relatif kepolaran suatu pelarut)

Suatu asam-basa dalam pelarut SH akan mengalami kesetimbangan sebagai berikut

Dalam pelarut yang memiliki konstanta dielektrik yang tinggi pasangan ion tersebut akan terdisosiasi sempurna membentuk ion bebas.

Sehingga reaksi keseluruhan yang terjadi adalah

disimpulkan bahwa keasaman dan kebasaan suatu senyawa bergantung pada tetapan ionisasi (Ki) dan tetapan disosiasi (Kd) dari pelarutyang digunakan. untuk senyawa asam kuat dapat diasumsikan bahwa Ki >>> 1 maka Ka= Kd dan Kb=Kd. Sedangkan untuk asam atau basa lemah diasumsikan bahwa Ki<<HNO3>HOAc dan menyetarakan keasaman asam mineral HClO4, H2SO4 , HCl dan HNO3. Dari kedua contoh di atas dapat disimpulkan bahwa asam dan basa dalam pelarut amfiprotik kesempurnaan reaksinya bergantung pada kerakter keasaman dan kebasaan pelarut, tetapan dielektrik pelarut, keasaman dan kebasaan senyawa, tetapan autoprotolisis pelarut. Berikut adalah tetapan autoprotolisis pelarut

Pelarut pKs
Air 14.00
Methanol 16.70
Etanol 19.10
Asam asetat 14.45
Anhidrida asetat 14.50
Asetonitril 26.50
  1. 3. Interaksi solut-pelarut

Pelarut basa atau yang lebih basa dalam air, disebut juga sebagai pelarut protofilik, memiliki kemampuan penyetingkat atau penyetara kekuatan solut asam-asam lemah dan mampu membedakan kekuatan basa-basa. Pelarut asam, disebut juga sebagai pelarut protogenik, juga memiliki kemampuan penyetingkat atau penyetara kekuatan solut basa basa lemah dan mampu membedakan kekuatan asam-asam. Pelarut aprotik tidak mempengaruhi kekuatan asam maupun basa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk membuat basa lemah menjadi basa kuat dapat digunakan pelarut asam kuat, sedangkan penggunaan pelarut basa yang kuat ditujukan untuk membuat asam lemah menjadi asam kuat.

  • Titrasi bebas air untuk senyawa asam

Pelarut protofilik (pelarut basa) merupakan cairan yang dapat meningkatkan disosiasi asam lemah dengan cara bereaksi dengan proton yang tersedia. Contoh-contoh pelarut protifilik yaitu piridin, dimetilformamida, n-butilamin, dan sebagainya. Contohnya yaitu fenol yang merupakan asam lemah, dilarutkan dalam piridin sehingga bisa berdisosiasi dengan sempurna. Kesetimbangan akan bergeser ke kanan dan menjadikan fenol dalam piridin sebagai asam kuat. Jika fenol dititrasi dengan basa kuat CH3ONa maka terjadi persaingan antara piridin terprotonasi dengan CH3ONa. Tetapi karena ion metoksida lebih basa daripada piridin, maka fenol akan bereaksi dengan CH3ONa.

Contoh peniter yang bisa digunakan dalam titrasi bebas air untuk senyawa asam yaitu garam Li-metoksida, garam K-metoksida, garam Na-metoksida, dan tetrabutil ammonium hidroksida. Peniter bisa dibakukan dengan asam benzoat.
Contoh senyawa asam yang bisa dititrasi yaitu fenobarbital. Fenobarbital dapat dilarutkan dalam DMF yang sudah netral dengan indicator merah kuinaldin, kemudian dititrasi dengan Li-metoksida. Titik akhir tercapai dengan terjadinya perubahan warna dari pink menjadi tidak berwarna.

  • Penerapan titrasi bebas air untuk senyawa basa

Pelarut asam asetat glasial digunakan untuk meningkatkan ionisasi amin sehingga dihasilkan senyawa OAc- yang bersifat basa kuat (lebih kuat dibandingkan ion perklorat) sesuai dengan persamaan reaksi berikut

 

Peniter yang digunakan harus merupakan asam yang lebih kuat daripada asam asetat dan larut baik dalam asam asetat. Peniter yang umum digunakan yaitu asam perklorat dan dibakukan dengan kalium biftalat. Cara yang digunakan yaitu kalium biftalat diberi indicator kristal violet dan dititrasi dengan asam perklorat. Indikator yang digunakan yaitu kristal violet / metil violet yang memiliki warna violet dalam keadaan basa dan warna dengan variasi biru hingga kuning pada keadaan asam tergantung basa yang dititrasi.

Supaya reaksi bisa berhasil, umumnya kandungan air dalam pelarut dan peniter harus dibebaskan. Hal ini bisa dilakukan dengan penambahan anhidrida asetat karena anhidrida asetat akan bereaksi dengan air sesuai reaksi (CH3CO)2O + H2O à 2 CH3COOH. Asam asetat yang digunakan tidak higroskopis (menyerap air) sehingga titrasi dapat dilakukan secara terbuka (bahkan jika perlu dipanaskan) dan dilakukan titrasi blangko. Jika sampel berupa asam amino yang tidak larut dalam asam asetat maka dilakukan titrasi tidak langsung. Asam amino dapat ditambahkan asam perklorat berlebih dan kemudian kelebihan asam perklorat dititrasi dengan Na-asetat sesuai dengan reaksi berikut:

 

 

 

 

Pperkecualian untuk garam halida senyawa basa tidak dapat dititrasi secara langsung dengan HClO4 karena ion halide merupakan basa yang lebih lemah daripada ion perklorat. Dalam reaksi perlu ditambahkan Hg asetat untuk mengikat halide sehingga dibebaskan ion asetat yang bersifat basa kuat yang dapat dititrasi dengan HClO4. Kelebihan Hg asetat tidak mengganggu karena HgCl2 tidak terdisosiasi dalam asam asetat. Persamaan reaksi yang terjadi yaitu:.

 

 

 

 

Morfin HCl merupakan contoh senyawa yang bisa dititrasi. Morfin HCl dilarutkan dalam Hg asetat, ditambah indicator, dan dititrasi dengan asam perklorat. Pelarut (asam asetat glasial) yang digunakan peka terhadap pemuaian oleh suhu. Oleh karena itu maka normalitas HClO4 harus dikoreksi dengan rumus

Vc = V [ 1+ (t1-t2) 0.0011)]

Keterangan : Vc   = Volume terkoreksi
V     = Volume HClO4 yang digunakan
t1 = Suhu larutan HClO4 pada saat dilakukan pembakuan (oC)
t2 = Suhu larutan HClO4 pada saat dilakukan titrasi (oC)

  1. 4. Indikator

Penetapan titik akhir pada titrasi bebas air, dapat dilakukan dengan penambahan indikator atau yang lebih disukai adalah dengan metode potensiometrik. Perubahan warna indikator dalam pelarut organik berbeda perubahannya dalam pelarut air. Hal ini disebabkan karena pelarut organik mempunyai tetapan dielektrik yang lebih kecil dibanding air.Sehingga mengakibatkan indikator asam basa yang cocok untuk titrasi dengan pelarut air belum tentu baik untuk titrasi bebas air. Beberapa indikator yang dapat digunakan pada titrasi bebas air diantaranya adalah sebagai berikut:

Asam : kristal violet, metil violet, metil merah

Basa : Fenolftalein, bromotimol biru, violet azo

Indikator Perubahan Warna
Netral Asam Basa
Crystal violet (0,5% dalam asam asetat glasial) Biru-hijau Kekuningan-hijau Violet
Α-naphtholbenzein (0,2% dalam asetat glasial) Orange Hijau tua Biru atau biru-hijau
Oracet blue b (0,5%dalam asam asetat glasial) Ungu Merah muda Biru
Quinaldine merah (0,1%dalam metanol) Magenta   Hampir tak berwarna
Fenolftalein   Pink Tak berwarna
Metil merah   Merah Kuning
Bromotimol biru   Kuning Biru

  1. 5. Penentuan Titik Ekivalan Pada Titrasi Bebas Air

Titik ekivalen titrasi bebas air dapat ditentukan dengan metode potensiometri dengan disertai penambahan indikator. Potensiometri merupakan suatu cara analisis berdasarkan pengukuran beda potensial sel dari suatu sel elektrokimia. Metode ini dapat digunakan untuk mengukur potensial, pH suatu larutan, menentukan titik ekivalen titrasi dan menentukan konsenterasi ion – ion. Susnan alat pada potensiometri adalah : elektroda pembanding (reference electrode), elektroda indikator (indikator electrode) dan alat potensial.

Terjadinya proses ionisasi, terbentuknya ikatan, resonansi senyawa pada proses titrasi bebas air yang telah  berlangsung dengan baik dapat diketahui dengan adanya penambahan indikator pada senyawa analit. Indikator memberikan perubahan warna pada saat titik akhir titrasi (titik ekivalen). Perubahan warna indikator tergantung pada sifat titran. Perubahan warna larutan oleh indikator saat mencapai titik ekivalen dapat digunakan sebagai pembanding dalam penentuan titik ekivalen dengan metode potensiometri.

Pada titrasi bebas air elektroda indikator yang digunakan adalah elektroda membran kaca yang dapat menentukan konsentrasi ion proton (pH) dalam suatu larutan sehngga dapat berfungsi sebagai penunjuk banyaknya ion proton didalam larutan selama berlangsungnya titrasi. Salah satu contoh elektroda membrane kaca yang dapat digunakan sebagai pengukuran pH adalah pH meter. Selain menentukan pH larutan elektroda ini digunakan untuk menentukan titik akhir titrasi metode potensiometri. Setiap elektroda membran pH terdiri dari satu membrane aktif (peka terhadap pH 0) yang ditempatkan pada salah satu ujung gelas yang berisi larutan HCl 0,1 M ( larutan internal ), lalu elektroda dihubungkan pH meter.

Penentuan titik akhir titrasi dengan metode potensiometri memberikan hasil yang lebih akurat karena pengamatan titik akhir titrasinya tidak bergantung pada perubahan warna larutan dan kekeruhan. Untuk menentukan lokasi titik ekivalen dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu

a)      Membuat grafik potensial atau pH versus volume titran.

b)      Membuat grafik dari memodifikasi turunan pertama  ∆E/∆V atau ∆pH/∆V versus volume titran (Vx) sehingga ditentukan harga maksimum atau minimumnya.

c)      Membuat grafik dari modifikasi turunan keduanya ∆2E/∆V atau ∆2pH/∆V versus volume titran (Vy), lalu ditentukan titik nolnya.

  1. 6. Perhitungan Dan Pembuatan Kurva Titik Ekivalen Pada Titrasi Bebas Air
  • Perhitungan turunan pertama

dan   ∆V1 = V2 – V1

dimana : ∆V1 : selisis volume pada turunan pertama

V2 : volume pada pengukuran pertama

V1 : volume pada pengukuran kedua

  • Perhitungan turunan kedua

 

dan   ∆V2 = Vx2 – Vx1

 

dimana : ∆V1 : selisis volume pada turunan kedua

V2 : volume turunan pertama pada data pertama

V1 : volume turunan pertama pada data kedua

 

 

Berikut merupakan gambar grafik dari titrasi bebas air dengan metode potensiometri

 

  1. A. TITRASI PENGENDAPAN

Titrasi pengendapan adalah golongan titrasi dimana hasil reaksi titrasinya merupakan endapan atau garam yang sukar larut. Prinsip dasarnya adalah reaksi pengendapan yang cepat mencapai kesetimbangan pada setiap penambahan titran, tidak ada pengotor yang mengganggu dan diperlukan indikator untuk melihat titik akhir titrasi. Hanya reaksi pengendapan yang dapat digunakan pada titrasi. Sebagaimana tipe-tipe reaksi pembentukan suatu endapan dapat digunakan sebagai dasar titrasi yaitu :

TITRAN + TITRAT à ENDAPAN

Faktor yang menentukan kesempurnaan reaksi pengendapan adalah kelarutan dari endapan yang terbentuk, endapan yang makin sukar larut mendandakan bahwa reaksi pada titik ekivalen makin sempurna. Beberapa metode dalam titrasi pengendapan adalah  Argentometri, Merkurimetri, Titrasi Kholthof

  1. a. Argentometri

Argentometri merupakan salah satu metode dalam titrasi pegendapan dimana hasil pengendapannya berupa garam – garam perak (Ag). Metode reaksi pengendapan secara argentometri banyak digunakan dalam reaksi pengandapan , karena hasilkali kelarutan garam perak halida (pseudohalida) dalam air sangat kecil seperti pada data berikut :

Ksp AgCl        =    1,82.10-10

Ksp AgCNS    =    1,10.10-12

Ksp AgBr        =    5,00.10-13

Ksp AgCN      =    2,20.10-16

Ksp AgI          =    8,30.10-17

Metode penentuan titik akhir titrasi pada titrasi  argentometri ada 3, yaitu:

  • Metode Mohr

Penentuan titik akhir pada Metode Morh ditandai dengan pembentukan endapan berwarna. Metode ini digunakan sebagai penentuan titik akhir titrasi untuk Cl dan Br pada pH 6 – 8, namun tidak dapat menentukan titik akhir titrasi pada  CNS ,CN dan I karena ketiganya dapat teradsorbsi kuat oleh endapan yang terbentuk. Indikator yang digunakan saat titrasi adalah K2CrO4 berikut merupakan contoh reaksi pengendapan dengan Metode Mohr

Reaksi:

 

Ion Cl mengendap setelah dititrasi dengan larutan baku AgNO3 hal ini disebabkan ion Cl- akan mengendap setelah bereaksi dengan ion Ag+ penembahan indikator pada titrasi ini berfungsi sebagai pemberi warna saat kapasitas titrasi Clterpenuhi atau ion Cl sudah tidak dapat menerima ion Ag+ sehingga ion Ag+ bereaksi dengan ion CrO42- dari K2CrO4 dan membentuk endapan dengan warna coklat.

  1. b. Metode Volhard

Titik akhir titrasi pada Metode Volhard ditandai dengan terbentuknya zat warna yang mudah larut. Metode ini dapat digunakan untuk penentuan titik akhir titrasi pada I, Br, Cl, SCN dengan menggunakan inikator Fe3+ atau Fe2+. Penambahan indikator dilakukan sebelum titrasi kecuali pada penentuan I dilakukan setelah I mengendap sempurna karena I dapat dioksidasikan oleh Fe3+. Prisip kerja dari metode ini adalah penambahan larutan baku AgNO3 secara berlebih pada larutan sampel yang mengandung ion Cl, Br, I, atau SNC , kemudian kelebihannya dititrasi kambali dengan KSCN. Berikut merupakan contoh reaksi pengendapan pada Metode Volhard

Reaksi :

 

Reaksi antara ion Ag+ dengan ion halida yaitu X akan menghasilkan suatu endapan perak halida yaitu AgX. Ion Ag+ ditambahkan berlebih agar dapat menekan kelarutan AgX karena umumnya kelarutan suatu endapan berkurang banyak sekali jika salah satu bahan endapan ditambahkan berlebih pada hal ini adalah Ag+ setelah itu kelebihan Ag+ dititrasi dengan ion KSCN yang kemudian membentuk endapan putih AgSCN, titik akhir titrasi ditandai terbentuknya  larutan berwarna merah darah karena adanya penambahan indikator Fe2+ atau Fe 3+ yang bereaksi dengan  ion SCN membentuk Fe(SCN)2+ yang berwarna merah darah.

 

  1. c. Metode Fayans

Penentuan titik akhir titrasinya dilakukan dengan  penambahan indikator adsorbansi. seperti cosin, fluorosein, dfluorosein. Metode ini dapat digunakan dalam penentuan

titik akhir titrasi pada Cl­-, Br, I, SCNdengan pH 4. Peristiwa absorpsi harus terjadi sesudah TE dan tidak ada garam lain yang menyebabkan koagulasi. Berikut reaksi yang berlangsung pada Metode Fayans

Reaksi antara ion Ag+ dengan ion halida X- harus  membentuk endapan berupa koloid sehingga AgX dapat teradsorbsi karena salah satu  sifat koloid adalah adapat menyerap warna, titik akhir titrasi ditandai dengan terserapnya warna biru kemerahan oleh koloid yang terbentuk.

Contoh titrasi pengendapan untuk metode argentometri

Analit Titran Indikator Metode
Cl­-, Br AgNO3 K2CrO4 Mohr
Cl­-, Br,I, SCN AgNO3 adsorpsi Fajans
Br,I, SCN, AsO43- AgNO3 + KSCN Fe(III) Volhard

(tanpa saring)

Cl,CN,CO32-,S2, C2O42-,CrO42- AgNO3 + KSCN Fe(III) Volhard

(saring)

 

  1. b. Merkurimetri

Larutan baku yang digunakan pada merkurimetri adalah  merkuri nitrat Hg( NO3)2 Jika ion halida dititrasi dengan merkuri nitrat, tidak ada ion Hg2+ sampai melewati daerah titik ekivalen, hal ini disebabkan selama titrasi ion Hg2+ beraksi dengan ion halida X sehingga terbentuk endapan merkuri halida HgX2, dimna X merupakan halida seperti Cl, Br, I, F. Namun setelah TE tercapai, ion Hg2+ segera bereaksi dengan indikator  membentuk kompleks Hg-Indikator; misal dengan indikator  nitroprusid ion Hg2+ membentuk endapan putih dan dengan  indicator difenilkarbazid atau difenilkarbazon dalam asam ion Hg2+ membentuk warna ungu intensif. Berikut ini adalah  reaksi yang

terjadi pada merkurimetri

Pada pemisahan secara merkurimetri diperlukan koreksi dengan titrasi blanko seperti contoh berikut :

  • 0,17 ml Hg(NO3)2 0,1 N untuk 50 ml HgCl2 0,05 N.

Volume titrasi blanko bervariasi sesuai besarnya konsenterasi HgCl2 pada titik ekivalen, karena jika konsenterasi Hg2+ berlebih akan beraksi dengan HgCl2 seperti pada reaksi berikut

  1. c. Titrasi   Kolthoff

Larutan baku yang digunakan pada titrasi kolthoff adalah K-Ferosianida. Campuran fero-ferisianida dalam asam memiliki potensial reduksi jauh lebih kecil daripada  yang diperlukan untuk mengoksidasi indikator, hingga diperoleh bentuk teroksidasi  berwarna intensif. Indikator yang cocok untuk titrasi ini adalah amonium  molibdat dan FeCl3 . Namun, diperlukan ketrampilan khusus baik untuk mereaksikannya maupun pada pengamatannyqa  sehingga  lebih baik gunakan indikator internal seperti difenilamin, difenilbenzidin dandifenilamin sulfonat. Untuk mengetahui potensial reduksi ferosianida menjadi ferisianida dapat dilihat dari reaksi redoks pada 30oC

  • Reaksi Redoks

 

Potensial reduksi dapat diketahui dari persamaan berikut :

 

 

Sebagai contoh titrasi Kholthof adalah

Penentuan kadar Zn2+ (sebagai titran) diendapkan dengan larutan baku K-Ferosianida dengan reaksi sebagi berikut

Jika ke dalam campuran tersebut ditambahkan Zn2+ akan terjadi endapan Zn-ferosianida, diikuti kenaikan potensial reduksi karena Fe(CN)6 4- hilang dari larutan. Setelah Fe(CN)64- bereaksi sempurna akan terjadi kenaikan tajam potensial reduksi dan muncul warna biru (bentuk indikator teroksidasi) akibat adanya kelebihan Zn2+ .Pada titik akhir titrasi akan muncul warna biru telor asin

 

  1. B. TITRASI BEBAS AIR (  NON – AQUO TITRATION )

Titrasi bebas air atau titrasi non aqua adalah titrasi yang menggunakan pelarut organik sebagai pengganti air. Titrasi ini merupakan salah satu metode titrimtri yang biasanya digunakan dalam titrasi asam lemah, basa lemah serta garam – garam organic dari asam atau basa yang tidak larut dalam air melaikan larut dalam pelarut organik. Seperti titrasi senyawa – senyawa organic yang bersifat basa oleh asam kuat anhidrat. Beberapa panduan dalam titrasi bebas air yaitu meliputi

a)      Solut hendaknya larut dalam pelarut atau pada kelebihan peniter

b)      Hasil titrasi harus larut dalam pelarut

c)      Pelarut yang digunakan tidak menimbulkan reaksi samping yang mengganggu

d)     Pelaksanaan titrasi harus bebas air, meliputi pelarut dan pereaksi dengan penambahan anhidrida asetat, dan peralatan yang digunakan harus kering.

Senyawa yang bersifat asam lemah ataupun basa lemah mempunyai pH yang hampir sama dengan pH air sehingga jika menggunakan pelarut air untuk mentukan titik akhir titrasinya relatif lebih sulit. Titik akhir titrasi senyawa basa dengan pKa kurang dari 7 atau senyawa asam denga pKa lebih dari 7  tidak dapat ditentukan secara akurat dalam pelarut air. Sehingga titik akhir titrasi senyawa yang bersifat asam lemah maupun basa lemah dapat ditentukan dengan menggunakan pelarut yang bebas air. Reaksi yang terjadi selama titrasi  dengan pelarut bebas air dapat dijelaskan menurut teori Asam-Basa Bronsted-Lowry.

  1. 1. Teori Asam-Basa Bronsted-Lowry

Menurut Bronsted-Lowry senyawa asam merupakan senyawa yang dapat menyumbangkan proton (donor proton) karena sifat asam cenderung memisah sehingga menghasilkan proton. Basa merupakan senyawa yang menerima proton (aseptor proton) senyawa basa cenderung untuk bergabung dengan proton. Proton yang dihasilkan oleh asan disebut sebagai basa konjugasi, sedangkan basa yang bergabung dengan proton disebut sebagai asam konjugasi.

 

 

 

Senyawa yang bersifat asam dapat menunjukan keasamannya saat senyawa tersebut bereaksi dengan basa, begitu juga untuk basa, dengan adanya senyawa asam maka kebasaannya dapat diketahui. Kekuatan asam ditentukan oleh potensi dari asam itu untuk melepaskan proton dan potensi kekuatan basa yang akan menerima protonnya. Jadi asam lemah akan lebih kuat bila direaksikan dengan basa yang lebih kuat.

  1. 2. Pelarut Titrasi Bebas Air

Berbagai pelarut organik dapat digunakan sebagai pelarut dalam titrrasi bebas air sebagai pengganti air karena pelarut organik sukar untuk melepaskan atau menerima proton dari zat yang akan dianalisis. Pelarut titrasi bebas air menurut Bronsted-Lowry dibagi menjadi tiga macam yaitu pelarut protofilik, pelarut protogenik dan pelarut aprotik. Pelarut protofilik merupakan pelarut yang bersifat basa atau yang lebih basa dalam air dan memiliki kemampuan penyetingkat atau penyetara kekuatan solut asam-asam lemah serta mampu membedakan kekuatan basa-basa. Pelarut protogenik adalah pelarut asam yang memiliki kemampuan penyetingkat atau penyetara kekuatan solut basa-basa lemah dan mampu membedakan kekuatan asam-asam. Pelarut aprotik tidak mempengaruhi kekuatan asam maupun basa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk membuat basa lemah menjadi basa kuat dapat digunakan pelarut asam kuat, sedangkan penggunaan pelarut basa yang kuat ditujukan untuk membuat asam lemah menjadi asam kuat.

HClO4 > HBr > H2SO4 >  HCl > HNO3 >  CH3COOH > fenol > air > pridin

Uraian diatas merupakan ururan pelarut berdasarkan sifat keasamannya. Dalam urutan di atas, air lebih bersifat basa daripada asam asetat karena asam-asetat  mudah memberikan proton pada air. Asam perklorat merupakan pelarut yang bersifat asam kuat karena asam perklorat paling mudah melepaskan proton dari pada asam – asam selanjutnya.

Seperti telah diuraikan diatas, kekuatan asam dan basa ditentukan pula oleh  kemampuan pelarut untuk melepaskan dan menerima proton. Berdasarkan hal ini maka pelarut untuk titrasi bebas air dapat dibedakan menjadi:

  1. Pelarut amfiprotik,yaitu pelarut yang dapat menerima ataupun memberikan proton. Pelarut ini akan mengalami ionisasi sendiri ( protolisis ). Contoh: Metanol, Etanol, Asam asetat, ammonia.
  2. Pelarut aprotik (yang netral), yaitu pelarut yang tidak dapat menerina maupun memberikan proton. Pelarut ini bereaksi kurang baik dengan asam atau basa karena memiliki konstanta dielektrik yang rendah sehingga tidak dapat mengionisasi asam atau basa. Contoh: Benzena, karbon tetraklorida dan kloroform.
  3. Pelarut protofilik, yaitu pelarut yang mudah menerima proton atau dalam karakternya bersifat basa sehingga jika bereaksi dengan asam membentuk proton terlarut. Contoh: eter, ammonia, keton, etil diamin, piridin, dll.
  4. 4. Pelarut protogenik, yaitu pelarut yang bersifat asam sehingga mudah memberikan proton pada saat berdisosiasi. Contoh: asam florida, asam sulfat, asam asetat, asam klorida.

Pemilihan pelarut sangat penting dalam titrasi bebas air, karena pelarut yang baik untuk titrasi bebas air adalah pelarut yang tidak mampu bersaing dengan untuk menyumbang dan menerima proton dengan analit. Dalam memilih pelarut, ada tiga hal yang harus diperhatikan yaitu:

  1. Sifat asam-basa dari pelarut; untuk menitrasi basa lemah maka dipilih pelarut yang lebih bersifat asam dan demikian pula sebaliknya.Misalnya pada titrasi basa lemah, pelarut asam asatat lebih baik daripada air
  2. Tetapan autoprotolisis (besarnya kemampuaan suatu molekul untuk melakukan transfer proton ke molekul lain)
  3. Tetapan dielektrik (pengukur relatif kepolaran suatu pelarut)

Suatu asam-basa dalam pelarut SH akan mengalami kesetimbangan sebagai berikut

Dalam pelarut yang memiliki konstanta dielektrik yang tinggi pasangan ion tersebut akan terdisosiasi sempurna membentuk ion bebas.

Sehingga reaksi keseluruhan yang terjadi adalah

disimpulkan bahwa keasaman dan kebasaan suatu senyawa bergantung pada tetapan ionisasi (Ki) dan tetapan disosiasi (Kd) dari pelarutyang digunakan. untuk senyawa asam kuat dapat diasumsikan bahwa Ki >>> 1 maka Ka= Kd dan Kb=Kd. Sedangkan untuk asam atau basa lemah diasumsikan bahwa Ki<<HNO3>HOAc dan menyetarakan keasaman asam mineral HClO4, H2SO4 , HCl dan HNO3. Dari kedua contoh di atas dapat disimpulkan bahwa asam dan basa dalam pelarut amfiprotik kesempurnaan reaksinya bergantung pada kerakter keasaman dan kebasaan pelarut, tetapan dielektrik pelarut, keasaman dan kebasaan senyawa, tetapan autoprotolisis pelarut. Berikut adalah tetapan autoprotolisis pelarut

Pelarut pKs
Air 14.00
Methanol 16.70
Etanol 19.10
Asam asetat 14.45
Anhidrida asetat 14.50
Asetonitril 26.50
  1. 3. Interaksi solut-pelarut

Pelarut basa atau yang lebih basa dalam air, disebut juga sebagai pelarut protofilik, memiliki kemampuan penyetingkat atau penyetara kekuatan solut asam-asam lemah dan mampu membedakan kekuatan basa-basa. Pelarut asam, disebut juga sebagai pelarut protogenik, juga memiliki kemampuan penyetingkat atau penyetara kekuatan solut basa basa lemah dan mampu membedakan kekuatan asam-asam. Pelarut aprotik tidak mempengaruhi kekuatan asam maupun basa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk membuat basa lemah menjadi basa kuat dapat digunakan pelarut asam kuat, sedangkan penggunaan pelarut basa yang kuat ditujukan untuk membuat asam lemah menjadi asam kuat.

  • Titrasi bebas air untuk senyawa asam

Pelarut protofilik (pelarut basa) merupakan cairan yang dapat meningkatkan disosiasi asam lemah dengan cara bereaksi dengan proton yang tersedia. Contoh-contoh pelarut protifilik yaitu piridin, dimetilformamida, n-butilamin, dan sebagainya. Contohnya yaitu fenol yang merupakan asam lemah, dilarutkan dalam piridin sehingga bisa berdisosiasi dengan sempurna. Kesetimbangan akan bergeser ke kanan dan menjadikan fenol dalam piridin sebagai asam kuat. Jika fenol dititrasi dengan basa kuat CH3ONa maka terjadi persaingan antara piridin terprotonasi dengan CH3ONa. Tetapi karena ion metoksida lebih basa daripada piridin, maka fenol akan bereaksi dengan CH3ONa.

Contoh peniter yang bisa digunakan dalam titrasi bebas air untuk senyawa asam yaitu garam Li-metoksida, garam K-metoksida, garam Na-metoksida, dan tetrabutil ammonium hidroksida. Peniter bisa dibakukan dengan asam benzoat.
Contoh senyawa asam yang bisa dititrasi yaitu fenobarbital. Fenobarbital dapat dilarutkan dalam DMF yang sudah netral dengan indicator merah kuinaldin, kemudian dititrasi dengan Li-metoksida. Titik akhir tercapai dengan terjadinya perubahan warna dari pink menjadi tidak berwarna.

  • Penerapan titrasi bebas air untuk senyawa basa

Pelarut asam asetat glasial digunakan untuk meningkatkan ionisasi amin sehingga dihasilkan senyawa OAc- yang bersifat basa kuat (lebih kuat dibandingkan ion perklorat) sesuai dengan persamaan reaksi berikut

 

Peniter yang digunakan harus merupakan asam yang lebih kuat daripada asam asetat dan larut baik dalam asam asetat. Peniter yang umum digunakan yaitu asam perklorat dan dibakukan dengan kalium biftalat. Cara yang digunakan yaitu kalium biftalat diberi indicator kristal violet dan dititrasi dengan asam perklorat. Indikator yang digunakan yaitu kristal violet / metil violet yang memiliki warna violet dalam keadaan basa dan warna dengan variasi biru hingga kuning pada keadaan asam tergantung basa yang dititrasi.

Supaya reaksi bisa berhasil, umumnya kandungan air dalam pelarut dan peniter harus dibebaskan. Hal ini bisa dilakukan dengan penambahan anhidrida asetat karena anhidrida asetat akan bereaksi dengan air sesuai reaksi (CH3CO)2O + H2O à 2 CH3COOH. Asam asetat yang digunakan tidak higroskopis (menyerap air) sehingga titrasi dapat dilakukan secara terbuka (bahkan jika perlu dipanaskan) dan dilakukan titrasi blangko. Jika sampel berupa asam amino yang tidak larut dalam asam asetat maka dilakukan titrasi tidak langsung. Asam amino dapat ditambahkan asam perklorat berlebih dan kemudian kelebihan asam perklorat dititrasi dengan Na-asetat sesuai dengan reaksi berikut:

 

 

 

 

Pperkecualian untuk garam halida senyawa basa tidak dapat dititrasi secara langsung dengan HClO4 karena ion halide merupakan basa yang lebih lemah daripada ion perklorat. Dalam reaksi perlu ditambahkan Hg asetat untuk mengikat halide sehingga dibebaskan ion asetat yang bersifat basa kuat yang dapat dititrasi dengan HClO4. Kelebihan Hg asetat tidak mengganggu karena HgCl2 tidak terdisosiasi dalam asam asetat. Persamaan reaksi yang terjadi yaitu:.

 

 

 

 

Morfin HCl merupakan contoh senyawa yang bisa dititrasi. Morfin HCl dilarutkan dalam Hg asetat, ditambah indicator, dan dititrasi dengan asam perklorat. Pelarut (asam asetat glasial) yang digunakan peka terhadap pemuaian oleh suhu. Oleh karena itu maka normalitas HClO4 harus dikoreksi dengan rumus

Vc = V [ 1+ (t1-t2) 0.0011)]

Keterangan : Vc   = Volume terkoreksi
V     = Volume HClO4 yang digunakan
t1 = Suhu larutan HClO4 pada saat dilakukan pembakuan (oC)
t2 = Suhu larutan HClO4 pada saat dilakukan titrasi (oC)

  1. 4. Indikator

Penetapan titik akhir pada titrasi bebas air, dapat dilakukan dengan penambahan indikator atau yang lebih disukai adalah dengan metode potensiometrik. Perubahan warna indikator dalam pelarut organik berbeda perubahannya dalam pelarut air. Hal ini disebabkan karena pelarut organik mempunyai tetapan dielektrik yang lebih kecil dibanding air.Sehingga mengakibatkan indikator asam basa yang cocok untuk titrasi dengan pelarut air belum tentu baik untuk titrasi bebas air. Beberapa indikator yang dapat digunakan pada titrasi bebas air diantaranya adalah sebagai berikut:

Asam : kristal violet, metil violet, metil merah

Basa : Fenolftalein, bromotimol biru, violet azo

Indikator Perubahan Warna
Netral Asam Basa
Crystal violet (0,5% dalam asam asetat glasial) Biru-hijau Kekuningan-hijau Violet
Α-naphtholbenzein (0,2% dalam asetat glasial) Orange Hijau tua Biru atau biru-hijau
Oracet blue b (0,5%dalam asam asetat glasial) Ungu Merah muda Biru
Quinaldine merah (0,1%dalam metanol) Magenta   Hampir tak berwarna
Fenolftalein   Pink Tak berwarna
Metil merah   Merah Kuning
Bromotimol biru   Kuning Biru

  1. 5. Penentuan Titik Ekivalan Pada Titrasi Bebas Air

Titik ekivalen titrasi bebas air dapat ditentukan dengan metode potensiometri dengan disertai penambahan indikator. Potensiometri merupakan suatu cara analisis berdasarkan pengukuran beda potensial sel dari suatu sel elektrokimia. Metode ini dapat digunakan untuk mengukur potensial, pH suatu larutan, menentukan titik ekivalen titrasi dan menentukan konsenterasi ion – ion. Susnan alat pada potensiometri adalah : elektroda pembanding (reference electrode), elektroda indikator (indikator electrode) dan alat potensial.

Terjadinya proses ionisasi, terbentuknya ikatan, resonansi senyawa pada proses titrasi bebas air yang telah  berlangsung dengan baik dapat diketahui dengan adanya penambahan indikator pada senyawa analit. Indikator memberikan perubahan warna pada saat titik akhir titrasi (titik ekivalen). Perubahan warna indikator tergantung pada sifat titran. Perubahan warna larutan oleh indikator saat mencapai titik ekivalen dapat digunakan sebagai pembanding dalam penentuan titik ekivalen dengan metode potensiometri.

Pada titrasi bebas air elektroda indikator yang digunakan adalah elektroda membran kaca yang dapat menentukan konsentrasi ion proton (pH) dalam suatu larutan sehngga dapat berfungsi sebagai penunjuk banyaknya ion proton didalam larutan selama berlangsungnya titrasi. Salah satu contoh elektroda membrane kaca yang dapat digunakan sebagai pengukuran pH adalah pH meter. Selain menentukan pH larutan elektroda ini digunakan untuk menentukan titik akhir titrasi metode potensiometri. Setiap elektroda membran pH terdiri dari satu membrane aktif (peka terhadap pH 0) yang ditempatkan pada salah satu ujung gelas yang berisi larutan HCl 0,1 M ( larutan internal ), lalu elektroda dihubungkan pH meter.

Penentuan titik akhir titrasi dengan metode potensiometri memberikan hasil yang lebih akurat karena pengamatan titik akhir titrasinya tidak bergantung pada perubahan warna larutan dan kekeruhan. Untuk menentukan lokasi titik ekivalen dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu

a)      Membuat grafik potensial atau pH versus volume titran.

b)      Membuat grafik dari memodifikasi turunan pertama  ∆E/∆V atau ∆pH/∆V versus volume titran (Vx) sehingga ditentukan harga maksimum atau minimumnya.

c)      Membuat grafik dari modifikasi turunan keduanya ∆2E/∆V atau ∆2pH/∆V versus volume titran (Vy), lalu ditentukan titik nolnya.

  1. 6. Perhitungan Dan Pembuatan Kurva Titik Ekivalen Pada Titrasi Bebas Air
  • Perhitungan turunan pertama

dan   ∆V1 = V2 – V1

dimana : ∆V1 : selisis volume pada turunan pertama

V2 : volume pada pengukuran pertama

V1 : volume pada pengukuran kedua

  • Perhitungan turunan kedua

 

dan   ∆V2 = Vx2 – Vx1

 

dimana : ∆V1 : selisis volume pada turunan kedua

V2 : volume turunan pertama pada data pertama

V1 : volume turunan pertama pada data kedua

 

 

Berikut merupakan gambar grafik dari titrasi bebas air dengan metode potensiometri

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hubungan bencana alam dengan pendidikan pancasila

Hubungan bencana alam dengan pendidikan pancasila

Kita tahu bahwa alam tidak selalu terkendali dengan baik. Hal ini dapat kita lihat pada saat terjadi bencana alam, kita lihat bahwa alam yang tadinya sangat bersahabat dengan kita dapat berubah menjadi momok yang sangat menakutkan tak kala terjadi bencana, hal ini tentunya perlu adanya upaya preventif dan kuratif dalam menyikapinya. Dari sinilah pendidikan pancasila sangat berperan dalam upaya-upaya tersebut demi meminimalisir korban bahkan mencegah bencana alam terjadi. Tentunya sebagian besar upaya ini didasarkan pada nilai-nilai luhur pansicasila yang antara lain ketuhanan yang maha esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hekmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang antara lain dapat dilihat dalam berbagai tindakan dalam menghadapi bencana antara lain:

  1. Ketuhanan yang maha esa

Seperti yang kita tahu bahwa setiap agama selalu memberikan teladan yang baik baik dalam hubungan dengan tuhan ataupun dengan sesama manusia, dengan nilai luhur dari sila pertama pancasila ini manusia dituntut untuk dapat beragama, dengan adanya agama yang menjadi teladan baik ini maka manusia dapat menjadi mahluk yang welas asih, dan memliki hubungan dituntut berbuat baik dengan sesama manusia.

Hal ini jika dilihat penerapannya dalam upaya-upaya menghadapi bencana adalah denagn beramal, karena semua agama selalu mengajarkan manusia untuk saling membantu dalam kehidupan. Beramal ini dapat berupa bantuan sembako untuk korban gempa, banjir, dll

  1. Kemanusiaan yang adil dan beradab

Nilai luhur yang dapat diambil dari sila kedua pancasila adalah manusia hendaknya dapat berlaku adil dan memiliki adab. Jika dilihat dari penerapannya dalam upaya menghadapi bencana alam adalah masyarakat hendaknya dapat bersikap adil dalam memberikan bantuan adil ini bukan berarti nilai bantuan harus sama, tetapi bantuan hendaknya disesuaikan dengan individu yang mendapatkan bencana karena tidak semua manusia yang terkena bencana memiliki tingkat penderitaan yang sama.

  1. Persatuan Indonesia

Dari sila ketiga pancasila ini dapat diambil nilai luhur berupa rasa kebersamaan dalam diri rakyat Indonesia yang didalamnya tertanam jiwa satu rasa. Jadi rakyat Indonesia hendaknya memiliki sifat kebersamaan yang kuat dan senantiasa bersatu, rasa bersatu ini termasuk dalam menghadapi bencana alam.

Penerapan dalam upaya menghadapi bencana alam contohnya dengan memberi bantuan tenaga dalam bekerjasama menangulangi bencana, seperti mancari korban bencana alam, membersihkan puing-puing akibat bencana alam, dan juga dapat berupa bersama-sama mencegah terjadinya bencana alam tanah longsor dengan upaya mencegah adanya penebangan hutan secara liar.

  1. Kerakyatan yang dipimpin oleh hekmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan

Nilai lihur yang dapat dipetik dalam sila ke empat pancasila ini adalah perlunya adanya musyawarah mufakat yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan, musyawarah mufakat ini dapat berupa perundingan untuk menangulangi suatu masalah yang dapat berupa bencana alam misalnya.

Penerapan sila ke empat pancasila dalam hubungannya dengan upaya menghadapi bencana adalah perlunya suatu musyawarah mufakat untuk menangulangi ataupun mencegah bencana alam karena kita tahu bahwa pendapat banyak orang akan lebih efektif bila dibandingkan dengan pendapat perorangan. Dengan adanya musyawarah ini masalah sesuit apapun seperti bencana alam dapat dengal lebih mudah di atasi baik pencegahan ataupun penangulangannya.

  1. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Pada sila kelima nilai luhur yang dapat diambil sangatlah penting, nilai yang dapat kita ambil ini yaitu sentingnya suatu keadilan dalam segi sosial bagi rakyat, khususnya perlakuan wakil rakyat atau pun pemerintah dalam memberi keadilan.

Penerapannya dalam upaya menghadapi bencana alam adalah pemerintah hendaknya bersikap cekatan dan adil seadil-adilnya dalam memberikan bantuan pada korban bencana alam. karena kepedulian sosial sangatlah dibutuhkan oleh mereka yang sedang membutuhkan bantuan khususnya korban bencana alam.

Hal-hal di atas adalah bukti pentingnya suatu pendidikan pancasila dalam kehidupan bangsa Indonesia, karena pancasila memiliki nilai-nilai luhur yang baik dalam mengatur hubungan sosial baik sesama manusia ataupun hubungan rohani kepada tuhan, dan dengan diterapkannya nilai-nilai luhur pancasila diharapkan dapat mengatasi masalah-masalah yang dihadapi contohnya seperti bencana alam.

« Older entries